Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Instagram dan Tekanan Visual

Annisa Steviani oleh Annisa Steviani
1 Desember 2016
A A
Instagram dan Tekanan Visual
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Alkisah seorang perempuan muda yang di dunia nyata sulit diajak bicara. Serba tidak tahu atau kasarnya, aduh, maaf ya, kurang cerdas. Beruntungnya ia jago dandan. Dalam satu tahun karier-nya di Instagram sebagai Instagrammers, followers-nya langsung mencapai 50ribu. Karena apa?

Karena ia sesuai dengan definisi ideal perempuan cantik. Dagu lancip, kulit putih bersih, senyum manis menggoda. Orang tidak peduli ia sering typo atau salah menggunakan istilah bahasa asing di bagian caption fotonya. Yang penting enak dilihat, maka followers berbaris-baris.

Iklan

Satu lagi perempuan yang tidak terlalu cantik, ia juga suka dandan. Ia bahkan sudah bertahun-tahun sharing tips dan trik make up melalui blog pribadinya, atau beauty blogger istilah kerennya. Mem-posting jenis foto yang sama dengan si perempuan pertama, sudah dua tahun followers-nya belum juga mencapai 10ribu. Lima ribu pun sepertiganya online shop. Hiks.

Percaya tidak percaya, kisah itu nyata. Instagram membuat banyak orang jadi merasa punya tekanan visual alias secara visual jadi tertekan! Yaelah, kok mbulet gini sih.

Lha bagaimana lagi, jangankan penampilan jasmani, lha wong makanan pun sebisa mungkin harus dihias agar Instagram worthy. Bubur bayi yang benyek hambar jadi tidak membosankan dengan taplak meja warna-warni, sendok lucu, dan buah-buahan pun dibentuk sedemikian rupa agar menyerupai bentuk binatang.

Urusan travelling pun tak jauh berbeda, yang dipikirkan pertama adalah “spot mana ya yang bagus untuk difoto?” Jepret sana jepret sini, yang penting ada langit biru! Tak lupa bawa buku ke pantai padahal membaca saja malas, karena buku di pantai itu bukan untuk dibaca tapi untuk jadi properti. Untuk apa? Ya untuk Instagram lah! Untuk caption ‘vitamin sea’ dong, apalagi?

Belum lagi tren #minimalismscene. Kenapa orang-orang itu sering menemukan tembok lucu?

Tagar yang kemudian bikin kecewa, sebab setelah melihat sekeliling diri sendiri, kantor, rumah, kostan, hampir semua temboknya kotor, lusuh, dan tidak enak dipandang? Di mana orang temukan tembok lucu berkelir warna-warni untuk background foto #ootd? Wah, pasti ada yang salah dengan lingkungan! Artinya butuh liburan untuk mencari tembok objek foto! Kota tua bisa sepertinya ya?

Kafe-kafe pun tidak mau ketinggalan. Mereka menghias interior dengan segala pernak-pernik yang layak difoto dan masuk Instagram. Dengan dinding penuh kutipan soal makanan dan sofa warna-warni. Sialnya, kafe-kafe itu kenapa seringnya remang-remang? Apa yang kau harapkan dari interior yang lucu kalau ketika difoto orang butuh lighting tambahan. Tolonglah, kami tidak masalah makan terang benderang seperti lampu minimarket 24 jam. Hentikan pemakaian lampu kuning di kafe karena itu membuat foto jadi gelap. Editnya sulit! Butuh aplikasi berbayar! Huft.

Begitu pula rumah. Semua orang jadi tertekan ingin ikut pula menghias rumah. Kamar yang sebelumnya adalah area paling pribadi kemudian dipaksa agar bisa lebih sharing-able. Fungsi rumah pun bergeser, bukan lagi hanya tempat tinggal, tapi tempat untuk menilai kepribadian orang lain. Dari rumah serba hitam putih sampai rumah warna-warni. Rumah yang bagus memberi inspirasi, yang kurang bagus jadi dikasihani, rumah seperti itu kok difoto. Tak perlu lagi menunggu wawancara majalah desain interior, cukup bermodalkan satu akun dengan tagar berbaris tentang hunian nyaman.

Dan yang paling memuakkan, uang tabungan pun mendadak punya sasaran baru: membeli kamera. Dengan lensa fix yang membuat objek belakang jadi tidak fokus. Semakin ‘bokeh’ alias semakin blur itu kau buat background, semacam jadi jaminan semakin banyak likes yang akan diterima. Kameranya harus punya wifi agar setiap selesai jepret, bisa langsung masuk ke hp dan terbagikan pada dunia.

Kamera dengan lensa fix membantu ini semua, tinggal simpan objek di teras pagi-pagi dengan background taman depan rumah, voila! Minimal pasti dapat bokeh lah! Bokeh is lyfe!

Ya, karena tanpa foto yang bagus, objek bagus pun belum tentu jadi menarik. Contoh saja foto makanan, dengan angle yang tepat makanan yang seharusnya membuat ngiler jadi biasa saja. Make up yang packagingnya menarik jadi tak bikin ingin membeli karena meja putih terganggu noise. Ilustrasi yang seharusnya bagus jadi biasa saja karena diambil dalam kondisi ruangan gelap. Makanya editing pun harus jago, rajin lah tanya para selebgram “editnya pake apps apa kak?”.

Demi likes. Demi followers yang lebih banyak. Demi pujian dari orang lain yang bahkan kadang belum pernah bertatap muka.

Saya pernah berusaha memetakan (ah sebenarnya berpikir doang sih, tidak sampai bikin peta), orang yang seperti apa yang demikian serius di Instagram? Ya maksudnya yang sampai memikirkan grid, memikirkan color scheme, memikirkan setelah upload foto ini akan upload foto apa.

Apa yang di dunia nyata juga senang bersolek? Tidak juga, banyak perempuan yang justru malah hobi foto masakan di Instagram. Masakan yang dulu cukup menuai pujian suami kini harus juga difoto dulu sebelum dimakan. Yang ini jujur membuat iri karena masak pun saya tak pernah.

Apa yang kurang pengakuan dari lingkungan? Rasanya kok tidak juga, banyak yang di kantor bahagia dan tak kurang apresiasi, tapi tetap terobsesi dengan feed Instagram. Apa yang kesepian? Kok ya tidak juga ya, banyak yang fotonya sepertinya tidak kesepian. Cafe-hopping bersama teman-teman atau liburan bersama keluarga.

Instagram seperti jalan keluar, dunia yang berbeda. Manusia kan selalu haus pujian.

Iklan

Bagaimana nasib orang-orang yang kurang cantik? Yang jarang travelling? Yang di rumah terus seharian? Apa tidak boleh main Instagram? Yang jarang ke kafe? Boleh saja, tapi jangan harapkan followers cepat bertambah atau likes mengalir setiap kali. Pengakuan semu tapi membahagiakan bukan?

Terdengar menyedihkan ya. Sebuah media sosial menjadi patokan kehidupan.

Lihatlah, seberapa banyak dari kita yang kemudian terinspirasi liburan ke suatu tempat sesimpel alasan “karena liat dia upload di Instagram bagus deh”. Belum lagi urusan online shop, seberapa banyak dari kita lebih percaya pada online shop yang fotonya tampak profesional dibanding online shop yang foto seadanya?

Tapi kan hidup tidak boleh melulu negatif. Biarlah orang lain haus likes dan haus pujian. Kita harus tetap positif dan percaya bahwa dunia tidak seseram penghamba likes di Instagram. Karena sebetulnya banyak juga yang tidak peduli. Tidak peduli followers sedikit, tidak peduli foto noisy, tidak peduli grid feed yang rapi. Yang penting upload sajalah, Instagram gue ya suka-suka gue.

Ini adalah golongan orang yang tidak peduli followers-nya terganggu karena ia mengunggah ribuan kali foto yang tidak estetis. Kadang kala fotonya foto bayi, blur dan tidak jelas sedang melakukan apa. Sehari 10 kali. Anak sedang tidur, anak sedang mandi, anak sedang makan, dengan caption anakku ganteng sekali. Yaiyalah anak sendiri, menurut ngana? Tidak suka? Kalau tidak suka ya unfollow saja lah. Gampang.

Dari saya yang sedih karena sering tertekan secara visual di Instagram.

 

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2018 oleh

Tags: Instagrampujiantekanan visualtravelling
Annisa Steviani

Annisa Steviani

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen MOJOK.CO

Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen

20 September 2023
survei revou untuk instagram dan tiktok ugm mojok.co

Survei RevoU: Instagram dan TikTok UGM Paling Populer dari 15 Kampus Teratas

10 September 2023
Belajar dari Sejarah, Twitter Nggak Akan Mati Begitu Saja karena Threads. MOJOK.CO

Belajar dari Sejarah, Twitter Nggak Akan Mati Begitu Saja karena Threads

7 Juli 2023
10 Cara Ampuh Mengenali Akun Olshop Bodong di Instagram MOJOK.CO

10 Cara Ampuh Mengenali Akun Olshop Bodong di Instagram

9 Mei 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.