MOJOK.COSekarang waktunya memikirkan dana darurat untuk menyongsong resesi yang akan terjadi. Jangan cuma mikirin dana resepsi yang kini tinggal kenangan itu.

“Kerja yang rajin ya, biar bisa nabung buat modal nikah.”

Saya sering mendapat nasihat kayak gitu sejak menerima gaji pertama. Seakan-akan tujuan menabung bagi kaum single cuma buat nikah. Bahkan beberapa kali saya mendapat pengajuan kredit untuk biaya resepsi. Pacar aja belum ada. Duh….

Ketika imbauan untuk social distancing diiringi teguran keras dari pak polisi, apa ya resepsi masih relevan. Gimana sama mereka yang udah nabung bertahun-tahun buat ngadain resepsi demi “menyenangkan orang tua” ya. Saya punya satu teman yang kayak gitu.

Charis rencananya menikah pada 4 April lalu, dengan rangkaian akad, resepsi hingga unduh mantu dipersiapkan sedemikian rupa. Menjelang hari pernikahan, Charis diberi informasi mengenai larangan resepsi beserta aturan KUA bahwa akad nikah hanya boleh dihadiri 6 orang saja.

Charis lalu membatalkan pembagian undangan. Perjanjian dengan berbagai vendor pernikahan untuk dekor dan katering juga ikut dibatalkan. Padahal, Charis sudah sejak lama mempersiapkan tabungan untuk resepsi pernikahannya.

Banyak orang sungguh-sungguh menyiapkan uang untuk resepsi. Bagi jomblo akut seperti saya, resepsi masih menjadi ketidakpastian. Sedangkan saat ini kita menghadapi ketidakpastian lain yang lebih dekat, yaitu resesi.

Saat ini perekonomian sedang tidak baik-baik saja. Ibu Menteri Sri Mulyani memprediksi dalam skenario berat, pertumbuhan ekonomi di 2020 sebesar 2,3%. Angka terendah sejak resesi moneter 1998 silam. Pertumbuhan ekonomi terburuk diprediksi pada kuartal II sebesar 1,1%. Padahal selama ini ekonomi Indonesia biasanya tumbuh di atas angka 5%.

Lesunya perekenomian akibat pandemi juga membuat perusahaan-perusahaan yang terdampak langsung mulai membuat kebijakan efisiensi bagi karyawannya.

Ada yang sekadar dipotong uang transpor, sampai yang paling sedih, unpaid leave hingga PHK. Jangankan perusahaan swasta, Gaji ke-13 dan THR bapak ibu PNS saja terancam tidak dibayar pemerintah. Realita seperti ini tentu membuat hati ketar-ketir.

Di Amerika saja, kasus PHK mencapai 167 juta karyawan dalam 3 minggu. Indonesia bagaimana? Kantor saya bagaimana? Kalau sampai kena dampak juga, apakah dana darurat masih cukup sampai nanti dapat penghasilan baru? Bagaimana cara mengumpulkan dana darurat di situasi ekonomi yang seperti ini?

Baca juga:  Ditinggal Nikah Sahabat Tak Kalah Nyesek dari Ditinggal Nikah Mantan

Daripada menyesal kemudian, ada baiknya mulai sekarang lakukan langkah-langkah perencanaan keuangan, selagi uangnya masih ada. Karena bagian tersulit mengatur uang adalah, ketika tidak ada uangnya. Lha apa yang mau diatur?

Evaluasi kondisi keuangan

Lakukan kembali financial checkup keuangan pribadi. Dimulai dari berapa banyak tabungan dan dana darurat yang saat ini dimiliki. Kemudian, lakukan evaluasi anggaran, apakah ada perubahan pemasukan dan pengeluaran selama terjadi perubahaan situasi ini. Dengan mengetahui jumlah pengeluaran, kita bisa memproyeksikan berapa lama nafas yang bisa diberikan dana darurat.

Besaran dana darurat yang ideal berbeda-beda tergantung kondisi. Untuk single berpenghasilan rutin, minimal sebesar 3 kali pengeluaran per bulan. Untuk pasangan tanpa anak, dana darurat minimal meng-cover 6 bulan pengeluaran. Sedangkan bagi keluarga dengan anak, sebanyak 12 kali pengeluaran bulanan.

Pisahkan anggaran yang pasti seperti tagihan SPP, cicilan KPR, pajak kendaraan, langganan internet, serta pengeluaran rutin lainnya yang wajib dikeluarkan. Kemudian buat estimasi anggaran juga untuk pengeluaran yang besarannya belum dapat dipastikan, seperti uang makan, belanja bulanan, tagihan listrik, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Terakhir, alokasikan anggaran untuk pos kesehatan seperti masker, multivitamin, jamu, dan obat-obatan.

Begitu juga dari sisi pemasukan. Periksa kembali apakah ada perubahan jumlah penghasilan baik yang sifatnya tetap, maupun tidak tetap. Kemudian hitung selisih antara penghasilan dan pengeluaran. Ingat rumus utama perencanaan keuangan adalah pengeluaran tidak boleh melebihi penghasilan.

Pangkas pengeluaran yang tidak perlu

Tahan dulu pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu mulai dari yang kecil seperti melengkapi koleksi hot wheels, hingga rencana mengganti kendaraan. Tidak perlu beli lipstik bermacam-macam merk sementara di meja riasmu masih berjejer belasan lipstik dengan shade serupa. Kalau keluar rumah di saat seperti ini, siapa juga yang bakal sibuk lihat lipstik barumu? Lha wong wajib pakai masker.

Evaluasi juga pengeluaran tak terlihat. Pertimbangkan kembali apakah memang benar-benar butuh berlangganan berbagai hiburan dan game digital, atau apakah perlu membeli kuota internet ponsel sementara rumah sudah dilengkapi wifi, dan lain sebagainya. Jangan-jangan selama ini pulsa lebih sering habis untuk koin Webtoon.

Baca juga:  Gojek Ikuti jejak Grab Mem-PHK Ratusan Karyawannya Akibat Pandemi Covid-19

Selain itu, banyak hal yang bisa diusahakan untuk kita kerjakan sendiri di rumah. Misalnya menjahit masker kain sendiri, berkreasi mencoba berbagai resep viral di Tik Tok, dan membuat es kopi susu kekinian ala kafe. Kegiatan-kegiatan kecil ini selain membuat #StayAtHome kamu lebih bermanfaat, juga dapat memangkas anggaran belanja. Sehingga ketika pandemi berakhir, skill dan tabungan sama-sama bertambah.

Simpan dana darurat di instrumen yang likuid

Dalam keadaan normal, secara teori, keuangan kita selalu dihadapkan pada kondisi uncertainty. Di situasi darurat global seperti saat ini, ketidakpastian jelas lebih dekat. Yang perlu kita lakukan hanya mempersiapkan diri sebaik-baiknya ketika risiko keuangan itu akhirnya datang. Apalagi persiapannya kalau bukan memperbesar dana cadangan.

Selagi masih memiliki penghasilan, usahakan untuk tetap menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan. Alokasikan dana yang tidak jadi dibelanjakan dari pengeluaran yang tidak perlu. Sisihkan pula dari selisih penghasilan dan pengeluaran sesuai perhitungan anggaran. Sisihkan ke rekening dana darurat di awal, bukan menabung dari sisa belanja.

Simpan tabungan di instrumen yang likuid (mudah dicairkan) dengan tingkat risiko rendah, misalnya tabungan atau deposito jangka pendek. Jangan malah menyimpan dana darurat di instrumen berisiko tinggi seperti saham, apalagi di situasi perekonomian tidak menentu sekarang ini.

Gunakan rekening yang terpisah dari rekening transaksi harian. Tujuannya supaya tabungan tidak tiba-tiba melayang ketika brand skincare favorit meluncurkan produk baru. Memangnya lebih penting mana sih, wajah glowing atau rekening kinclong?

Itu dulu tips dari saya tentang dana darurat. Jangan sedih kalau resepsi nikahanmu nggak jadi digelar. Siapa tahu memang sudah jalannya begini, yaitu menyisihkan duit resepsi untuk dana darurat. Atau, jangan-jangan, dia memang bukan jodohmu. Ups….

BACA JUGA Menabung Untuk Kehidupan Pasca Pernikahan, Bukan Untuk Pesta Pernikahan atau tips keuangan lainnya di rubrik CELENGAN.