MOJOK.CO Pembatasan akses dan blokir internet memang memusingkan, tapi—tenang saja—kita bisa mengandalkan VPN yang ajaib!

Kerusuhan 22 Mei lalu menyisakan cerita. Beberapa kali orang tua saya menelepon dan bertanya kenapa saya tidak membalas WhatsApp, untuk kemudian saya jelaskan bahwa pesan saya bahkan tak bisa terkirim.

Ya, ya, ya, sebagaimana manusia-manusia lain di Indonesia, hari itu kita semua mengalami apa yang dinamakan pembatasan akses internet. Jangankan untuk kirim WhatsApp, buat pasang Instagram Story aja susahnya setengah mati. Ini tentu mengusik jiwa-jiwa kesepian saya yang biasanya mencari kesibukan dengan scrolling lini masa media sosial.

Belum lupa soal pembatasan akses internet kala itu, di Papua pun kini kabarnya dilakukan blokir internet sejak Rabu (21/8) lalu. Saat dimintai keterangan, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, menjawab, “Ya kan nggak dimatiin, siapa yang bilang dimatiin? Dilemotkan.”

(((Dilemotkan)))

Nyatanya, meski Moeldoko juga bilang bahwa “dulu, tanpa internet pun kita bisa hidup”, pelemotan atau bahkan blokir internet memang cukup mumeti. Baiklah, kita mungkin masih bisa hidup dengan makanan, minuman, dan limpahan oksigen, tapi—ayolah—mana ada sensasi seseru stalking media sosial mantan ataupun gebetan kalau nggak ada internet??? Pak Moeldoko ini memangnya nggak pernah muda, ya??? Hmmm???

Tapi, tenang. Konon, semua hal di dunia ini pasti ada solusinya, termasuk blokir internet. Buktinya, waktu saya lagi kesusahan membuka Instagram, teman saya malah dengan santainya membuka internet sampai kuotanya mau habis.

Baca juga:  Lima Manfaat Ayam di Era Revolusi Industri 4.0

Usut punya usut, dia menggunakan…

*JENG JENG JENG*

…VPN!

Apa itu VPN dan bagaimana cara menggunakannya?

VPN, alias Virtual Private Network, adalah koneksi private dalam jaringan internet, atau bisa digambarkan dengan keadaan “membuat jaringan di dalam jaringan”. Kalau dijelaskan dengan sederhana, mungkin kita bisa membayangkan koneksi kita sedang menempuh “jalan tikus”.

VPN ini bekerja dengan menghubungkan jaringan internet kita ke jaringan lain melalui alamat IP yang berbeda. Dengan kata lain, koneksi internet kita bakal diteruskan ke negara lain yang tidak mengalami blokir internet pada situs apa pun. Setelah itu—voila!—kebuka deh situs tujuannya~

Kamu bisa mengunduh VPN gratis di Play Store dengan mudah. Ada banyak nama yang ditawarkan, misalnya Turbo VPN, Hideman VPN, Snap VPN, SurfEasy Secure Android VPN, dan masih banyak lagi lainnya.

Menggunakannya juga mudah: Setelah diunduh, dibuka, lalu klik simbol yang ada di bagian tengah aplikasi untuk memulai proses sambungan ke server. Bukan cuma di hape, VPN pun bisa digunakan di PC, misalnya yang bernama Tunnel Bear. Hanya dengan satu klik pada tuas VPN, tahu-tahu kamu sudah bisa main internet dengan lancar lagi, termasuk bikin status-status provokatif bijaksana dan penuh kata-kata mutiara.

Seperti mi instan, VPN itu…

Tidak ada yang lebih enak daripada mi instan yang dimasak malam-malam waktu lagi lapar. Tapi sayangnya, tak ada pula yang lebih tidak sehat daripada konsumsi mi instan yang berlebihan.

Baca juga:  Belajar Memahami Papua di Jogja

VPN, secara instan, mampu membuat hape dan PC kita dengan lancar mengakses apa saja yang tadinya terhambat gara-gara kebijakan blokir internet. Ini tentu enak—mudah dan murah, pula, karena kita cuma modal kuota bulanan dan tak perlu beli aplikasi.

Tapi, kalau mi instan saja bisa “mengancam” kesehatan, apakah VPN bakal “mengancam” keamanan privasi?

Dikutip dari Jalantikus.com, nyatanya memang ada bahaya yang mengancam dari penggunaan VPN. Penjualan data adalah risiko terbesar dari hal ini, apalagi jika kita menggunakan VPN gratis. Dengan VPN pula, kamu berpotensi mengizinkan orang lain untuk melacak aktivitas online-mu. Soalnya, seperti yang pernah diteliti oleh VPNMentor, ada 72% aplikasi VPN gratis yang memasang tracker di dalam aplikasinya. Aktivitas yang terekam bakal dibagikan pada pihak ketiga sebagai data untuk penargetan iklan.

Terdengar creepy? Memang. Itu pun belum termasuk adanya kemungkinan serangan Man in the Middle, yaitu serangan terhadap sistem komputer yang saling berkomunikasi satu sama lain.

Secara sederhana, Man in the Middle merupakan serangan hacker yang memosisikan diri di tengah-tengah jalur komunikasi yang mengandalkan penggunaan VPN.

Hmmm, kok terasa seperti orang ketiga dalam hubungan asmara sepasang kekasih sampai hancur dan remuk tak berbekas, ya???

BACA JUGA Pernyataan Moeldoko Soal Blokir Internet di Papua yang Hmm… Benar Juga