Dukung-mendukung itu seharusnya sudah selesai setelah musim pemilihan. Setelah jagoan kita menang dan menjabat, tugas kita sama dengan pendukung jagoan yang kalah, yaitu tetap kritis dan mengawal serta menuntut janji sang pemenang direalisasikan. Bukannya malah mati-matian membela seolah tak mungkin sang pemenang membuat kebijakan yang bodoh dan merugikan rakyat.

Soal Anies-Sandi, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta yang baru, saya percaya setiap jagoan pilihan kita tidak sempurna. Mereka tentu punya kekurangan. Tetapi, jika Anda bertanya apa yang membuat saya akhirnya condong pada Anies-Sandi, itu karena program yang mereka tawarkan, seperti: OK OCE, affordable housing, dan partisipasi publik.

Saya sih nggak berhak menikmatinya, tapi atas nama solidaritas kepada warga Jakarta yang membutuhkan, saya turut bahagia kalau itu terlaksana.

Di sisi lain ada tiga hal yang membuat saya tidak bisa mendukung kepemimpinan Ahok-Djarot. Pasangan ini menggusur semena-mena, pro-reklamasi, dan punya kecenderungan untuk bikin teknokrasi. Saya berharap tiga hal itu bisa benar-benar Anies-Sandi perjuangkan agar kemudian dihilangkan. Jangan sampai mereka takut dengan sosok Luhut Binsar Panjaitan yang terakhir mendesak mereka untuk melanjutkan reklamasi.

Hari ini, Senin, 16 Oktober 2017, Anies-Sandi akan dilantik. Belum juga pelantikan diselenggarakan, sudah ada banyak ancang-ancang untuk mencerca mereka. Setelah foto Sandi berpose jurus bangau lagi, semalam saya melihat di media sosial banyak orang ramai membahas meme dan video viral Anies yang sedang berfoto di sebelah gerobak sampah. Ini jadi bulan-bulanan sejumlah pendukung Ahok yang menggambarkan betapa Anies juga mabuk pencitraan. Plus segudang cercaan-cercaan lainnya.

Dalam beberapa hal, kritik dan cerca yang dialamatkan kepada Anies-Sandi ada yang beralasan. JJ Rizal, sejarawan Jakarta yang kritis kepada Ahok di pilgub kemarin, misalnya, mengkhawatirkan pernyataan-pernyataan Anies dan Sandi yang begitu normatif akhir-akhir ini dan menyebutkan sebagai “cari aman”. Rizal menduga, bisa saja nanti gubernur baru ini cuma menjalankan program-program yang biasa-biasa saja dan takut membuat terobosan yang diperlukan untuk mengelola Jakarta.

Baca juga:  Peristiwa-Peristiwa di 2016 yang Pantas Dipisuhi

Sampai di sini, pembaca sekalian harus tahu posisi dan relasi saya dengan Anies Baswedan. Sebelumnya saya memiliki pengalaman terlibat dalam program realisasi visi partisipasi publik Anies Baswedan ketika menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan.

Mungkin yang saya lakukan hanya bagian kecil, yaitu memfasilitasi sejumlah staf Kemendikbud untuk bergerak bersama memberi ruang pada keterlibatan pro-aktif masyarakat membangun pendidikan dan kebudayaan nasional. Inisiatif itu membuat saya terkesan dengan adanya kepemimpinan yang mengedepankan partisipasi publik dalam pembangunan yang biasanya sarat dengan peran birokrasi yang menyebalkan.

Maka, ketika Anies berjanji dalam kampanye-kampanyenya di pilgub DKI untuk mengedepankan partisipasi publik, saya tentu dukung sekali. Soalnya, di Kemendikbud saya banyak mendapat cerita positif dari para staf kementerian tentang bagaimana mereka berubah dan mulai berinteraksi dengan masyarakat secara aktif dan transparan berkat kebijakan Anies. Ternyata, ketika salurannya terbuka dan wadahnya bersahabat, interaksi antara “kaki tangan” Kemendikbud dengan masyarakat membuat banyak urusan selesai lebih cepat dan lebih tepat. Buat saya, itu sudah bisa menjadi indikasi bahwa saat gagasan itu diterapkan, ada banyak feedback positif dan hasil-hasil yang bagus.

Sayangnya, hanya sebentar gagasan itu diwujudkan. Anies keburu dipecat sehingga pelaksanaannya jadi masih jauh dari menyeluruh. Namun, di salah satu direktorat kementerian yang mengadopsi pendekatan itu, yang mana kadang-kadang saya masih terlibat, jejak gagasan itu masih kuat terjaga. Pelibatan publik secara luas tetap dilaksanakan.

Sekarang, saya ingin lihat sejauh mana visi tersebut akan kembali menjadi visi Anies Baswedan di DKI Jakarta. Saya ingin sekali melihat bagaimana birokrasi tidak lagi menjadi segerombolan orang yang cuma ada di balik meja, tapi jadi agen aktif yang menstimulasi masyarakat untuk bekerja sama membangun kota.

Tapi, berhubung saya bukan warga Jakarta by KTP, hanya by “aktivitas di siang hari”, saya cuma bisa memprovokasi Anda yang ber-KTP Ibu Kota untuk benar-benar mengawal, mengkritik dan terlibat aktif dalam membangun Jakarta. Kemenangan Anies-Sandi jangan diposisikan sebagai hasil dari “pertolongan Allah” kepada gubernur muslim, melainkan kesempatan Anda untuk memberi “pertolongan warga” dalam mengembangkan kota.

Baca juga:  Habib Rizieq Jadi Capres 2019 dari Hasil Rakornas PA 212, Prabowo Nomor Dua

Salah satu yang perlu dijadikan agenda prioritas Anies Sandi adalah partisipasi untuk merajut lagi tenun kebinekaan yang terkoyak oleh huru-hara pilgub kemarin. Anies-Sandi jangan abai terhadap persoalan ini. Kedepankan kesetaraan dan demokrasi yang sehat sebagai ciri masyarakat Ibu Kota. Lawan rasisme, persekusi oleh mayoritas berbasis SARA, dan segala hal yang hanya bersifat mau menang sendiri karena merasa bagian dari umat terbanyak.

Ini penting karena menurut saya, harus Anies-Sandi dan pendukungnya yang bertanggung jawab terhadap polarisasi penduduk Jakarta karena isu SARA.

Sudahlah, kita semua tahu kemusliman Anies-Sandi digunakan sekali untuk membantu memenangkan pilgub. Luka polarisasi ini akan awet bertahun-tahun kalau tidak diatasi bersama.

Bagaimanapun, ini memang masih jadi persoalan di tataran praktis. Namun, negosiasi demi negosiasi harus dilakukan dengan semua pihak yang berseberangan. Kalau benar Anies-Sandi mau merangkul semua pihak, mulailah dengan, misalnya, menghampiri para pendukung Ahok dan ajak mereka “katarsis”, mengungkapkan unek-unek selama pilgub kemarin yang sebenarnya bukan sekadar kekecewaan jagoannya kalah, tapi lebih dari itu.

Saya percaya, mereka punya poin-poin kekuatiran (atau juga kemarahan) yang tidak bisa diabaikan terkait kepemimpinan Anies-Sandi. Kekuatiran ini rentangnya luas, dari mulai soal “penyalahgunaan agama untuk pilgub” sampai ke soal kemungkinan Anies-Sandi membawa Jakarta mundur dari titik kemajuan yang sudah dicapai Ahok-Djarot (juga Jokowi-Ahok). Jangan lupa, mereka adalah warga yang puas pada kinerja Ahok-Djarot dan juga mencintai Ibu Kota.

Untuk itu, mulai minggu ini mari mulai mengkritik, mengawasi, dan berpartisipasi dalam pembangunan Jakarta di bawah Anies-Sandi. Bersama. Berhentilah memuaskan hasrat balas dendam dengan terus-terusan nge-bully Anies yang foto di tempat sampah kek, jurus bangau Sandi kek, karangan bunga kek. Nge-bully nggak bikin mereka batal dilantik. Nge-bully nggak bikin persoalan Jakarta selesai.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles