MOJOK.CO Gara-gara kawan-kawan Muslim bernostalgia dengan Buku Kegiatan Ramadan di bulan puasa, saya jadi teringat soal Agenda Gereja.

Kontrakan saya tidak jauh dari masjid. Jadi, kalau saya baru pulang dari kantor, saya sering berpapasan dengan anak-anak yang sedang menuju masjid, membawa semacam buku tulis.

Kalau sudah begini, saya langsung teringat masa kecil saya di provinsi tempat Prabowo-Hatta maupun Prabowo-Sandi menang telak. Pada periode itu, antara murid Islam dan murid Katolik, ada milestone di usia yang sama sewaktu SD. Yang Islam khatam Alquran, yang Katolik komuni pertama.

Cukup menyenangkan memang menjadi anak yang hidup dalam perbedaan. Tapi entahlah, hal ini masih eksis atau tidak di saat era sekolah berbasis agama seolah menjadi kebutuhan utama dari para orangtua milenial sekarang ini.

Kembali ke buku tulis, saya mengenali buku tersebut sebagai Buku Kegiatan Ramadan atau juga Agenda Ramadan. Di beberapa daerah, buku semacam ini juga dsebut sebagai Legenda Ramadan. Kadang, sampulnya adalah gambar masjid atau ornamen khas Ramadan, namun tidak jarang juga memuat gambar kepala daerah. Entah apa pula gunanya~

Buku Kegiatan Ramadan ini memuat banyak hal, namun saya ingin fokus pada lembar-lembar kosong yang harus diisi ringkasan ceramah oleh pemilik buku.

Bukan apa-apa, nih, tapi kalau dipikir-pikir oleh saya yang seorang Katolik, konsep buku ini mirip betul dengan buku serupa yang dimiliki oleh anak SD dan SMP beragama Katolik, yang dikenal—salah satunya—sebagai Agenda Gereja.

Jika anak-anak Muslim hanya mengisi buku tersebut sepanjang bulan Ramadan, anak-anak Katolik agak berbeda. Sedikit lebih kerad, meskipun sebenarnya tidak sampai 2 kali lipatnya: setiap pekan.

Jadi kalau anak-anak Muslim mengisinya 30 hari, anak Katolik harus mengisinya 52 kali sesuai jumlah hari sabat, eh, hari Minggu dalam setahun.

Pelajaran agama memang mensyaratkan siswanya untuk lebih aktif beribadah. Buku Kegiatan Ramadan menjadi upaya untuk “memaksa” anak ikut tarawih secara utuh, demikian pula Agenda Gereja—ia menjadi alasan seorang anak untuk beranjak ke gereja, seingin apapun dia nonton Doraemon dan Crayon Sinchan di Minggu pagi, daripada kena hukum pas pelajaran Agama.

Untuk memenuhi kolom pada buku-buku sakti tersebut, tentunya diperlukan usaha keras. Selain hari dan tanggal yang merupakan bagian termudah, diperlukan nama ustaz maupun romo yang memberikan ceramah atau khotbah. Lantas ada ringkasan isi khotbah, yang ditutup dengan tanda tangan.

Bagian tanda tangan ini standarnya adalah jatahnya ustaz atau romo yang namanya ditulis di awal, berikut tanda tangan orang tua pada sisi sebelahnya.

Baca juga:  Hijrah Fest dan Mahalnya Biaya untuk Berhijrah

Sebagai produk Orde Baru, saya sangat mengenal khotbah keagamaan masa lalu sebagai sesuatu yang bebas murni dari sepik-sepik politik. Baik di gereja maupun di masjid—yang notabene speaker-nya nyantol di tiang listrik depan rumah—saya tidak pernah mendengar sedikitpun khotbah agama yang ada racun politiknya.

Hal itu tentu menjadi sebuah kemudahan bagi anak-anak polos Orde Baru karena yang ditulis di Buku Kegiatan Ramadan maupun Agenda Gereja, ya, memang hal-hal terkait agama seutuhnya.

Nggak kebayang, deh, kalau anak zaman sekarang disuruh meringkas khotbah yang kadang-kadang menyebut nama gubernur atau presiden. Sudah begitu, seringnya nggak nyambung sama ayat yang sedang dibahas, pula.

Atau, kalaulah nyambung, sifatnya maksa. Namanya dipaksa, ya pasti perih, toh~

Pemuka agama yang disukai oleh anak-anak pengisi buku ini adalah yang dari awal sudah memberi outline. Misal, ada beberapa pastor yang membuka homili—bahasa resminya untuk khotbah di tengah ibadah dalam agama Katolik—dengan berkata, “Berdasarkan bacaan hari ini, ada tiga hal yang akan kita renungkan…”

Bermodal outline itu, bocah penikmat khotbah hanya akan fokus pada kalimat-kalimat penting seperti, “…yang pertama, bla-bla-bla….”.

Sungguh sangat mudah, apalagi kalau dibandingkan dengan yang khotbahnya campur baur sama politik. Hehe.

Lagi pula nih, ya, anak SD itu, kan, tidak seharusnya terpapar politik. Tapi kok, ya, berbagai khotbah malah secara nyata menyebut, bahkan membahas, kejadian-kejadian politik di Indonesia!

Bagian berikut sesungguhnya agak sulit, khusus anak Katolik.

Kalau teman-teman yang beragama Islam bisa tarawih di berbagai masjid, mungkin yang terdekat dengan rumah atau bahkan yang paling cepat, anak Katolik tidak bisa merasakan hal semudah itu.

Di kota saya, misalnya, gereja Katolik itu ya hanya satu, dengan misa satu kali pada hari Sabtu, serta satu kali pada hari Minggu.

Masalahnya, guru agama saya pun otomatis misa di tempat yang sama. Jadi, kalau saya lagi malas ke gereja dan ingin mengarang khotbah untuk diringkas, hampir bisa dipastikan bakal ketahuan. Apalagi, jumlah murid Katolik sedikit. Guru saya jelas bisa cukup selow untuk membaca satu per satu ringkasan homili yang dibuat.

Kalau saya sendiri, karena bapak saya termasuk katekis plus ketua lingkungan, jadi santai saja. Pas khotbah berakhir, bapak saya akan memberikan 2-3 kalimat yang menjadi inti khotbah dan dengan segera bertugas mengisi Agenda Gereja selesai dengan bahagia.

Lanjut ke bagian akhir buku sakti, ada tanda tangan.

Dalam Buku Kegiatan Ramadan, tanda tangan ustaz menjadi penting. Umumnya, anak-anak berbaris sembari mengantri ustaz pasca tarawih selesai. Demikian halnya dengan tanda tangan pada Agenda Gereja.

Baca juga:  Mencuri Sandal di Masjid, Cerita Tanah Muna

Perbedaanya adalah: kalau di gereja, pastor itu bisa satu banding 100-an lebih anak. Tidak akan terkejar kalau semuanya diparaf sendiri. Belum lagi kalau pastornya sudah ditunggu untuk memimpin misa selanjutnya di kota lain—sesuatu yang jamak terjadi bagi pastor-pastor di daerah Sumatera.

Kalau sudah begini, tanda tangan dapat didelegasikan kepada beberapa awam terkemuka di gereja. Nah, dalam kasus saya, sebenarnya bapak saya masuk kategori. Walhasil, kalau saya mau jahat, saya bisa saja nonton Doraemon di rumah, sementara kewajiban tanda tangan pengganti pastor dipenuhi oleh bapak saya, sementara tanda tangan orang tua tinggal diisi oleh mamak saya.

Namun, meski punya privilese itu, saya tidak mau. Dalam hal Agenda Gereja, saya selalu mencoba yang terbaik. Kalau perlu, pada setiap misa, yang tanda tangan adalah pastornya. Yaaah, biar keren saja, gitu.

Agak berbeda dengan Buku Kegiatan Ramadan, anak Katolik punya metode yang mudah dan sah untuk membiarkan ringkasan kotbah kosong, namun tanda tangan pastor bisa diperoleh dengan mudah.

Lalu, bagaimana caranya?

Tentu saja, menjadi petugas liturgi adalah jawabannya. Untuk bocah, pilihannya adalah jadi putra altar. Itu loh, bocah berjubah yang sempat kondang tatapannya dalam ciuman pada penikahan Sandra Dewi dengan Harvey Moeis, yang tugasnya adalah membantu jalannya misa dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari ibadat itu sendiri.

Tidak mungkin, dong, dalam posisi mendampingi pastor, harus bawa-bawa buku agenda dan meringkas kotbah ketika pastor sedang ngomong. Jadi, begitu masuk ke sakristi alias tempat bersiap sebelum misa, saya segera menuliskan “Tugas Putra Altar” di bagian ringkasan homili pada buku agenda gereja yang saya miliki.

Selain tugas putra altar, ada juga tugas lektor dan tugas mazmur yang levelnya agak lebih advanced. Lektor adalah orang yang membacakan sabda Tuhan, sedangkan pemazmur adalah orang yang membawakan sabda Tuhan dengan cara dinyanyikan. Tidak semua anak bisa sampai pada tahap ini. Ada yang memang berbakat, ada juga yang terang-terangan tidak berbakat, tapi dapat slot karena bapak atau emaknya kondang di gereja.

Kalau sudah begitu, persis sesudah pastor melepas jubah di dalam sakristi, anak-anak sudah bisa langsung menodong tanda tangan. Agenda Gereja pun bisa dipenuhi dengan keren, seolah-olah kami lebih beragama daripada kaum beragama itu sendiri.

Tapi, pada akhirnya, kita semua tahu agenda itu menjelma jadi tidak lebih dari sebuah kewajiban, dilupakan isinya, diabaikan substansinya, namun tetap dikenang indahnya.

Yaaah, mirip-mirip dengan Buku Kegiatan Ramadan gitu, deh~



Loading...



No more articles