MOJOK.COPrivilege adalah sebuah keistimewaan yang belakangan bikin jiwa-jiwa netizen bergejolak. Alih-alih debat dan putus asa, mendingan pahami dulu istilah privilege sebenarnya apa.

Sebagai pengamat lini masa akun Twitter saya sendiri, ada temuan menggemaskan yang bikin saya sadar orang-orang ini sedang galau sama social inequality. Padahal sila kelima aja berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tapi masih banyak jiwa-jiwa yang merasa dizalimi sama keadaan. Pokoknya hidup ini nggak adiiil…. *menengadahkan kepala pada langit*

Dulu obrolan seputar privilege adalah topik yang cukup berat dan serius, Angga Sasongko dan Eka Kurniawan pernah turun tangan. Sempat nggak ada yang ngomongin, anak-anak Twitter mulai membahas prilege atau privilese yang melibatkan seorang mahasiswa bernama Raeni yang bisa lanjut S-3 di Inggris. Jerome Polin turun tangan.

Diskusi mengenai privilege sering luput dari bagaimana privilege itu sendiri terbentuk dan bagaimana distribusinya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan diskusi ini juga kadang melibatkan orang-orang yang sudah punya privilege sendiri sehingga obrolannya kebanyakan subjektif banget. Baru-baru ini ada juga thread yang membahas tentang kesuksesan Nadiem Makarim sampai Maudy Ayunda.

Social privilege adalah sebuah kondisi spesial, keadaan khusus, atau keuntungan yang dimiliki seseorang tanpa ia harus berusaha mendapatkannya. Kondisi spesial ini bakal membantu seseorang atau suatu kelompok mendapatkan keistimewaan sosial dan melanggengkannya. Sementara pihak lain yang tidak memilikinya cuma bisa sambat.

Baca juga:  Berdebat di Media Sosial Sampai Kesasar di Rimba Istilah

Konsep dan teori privilege sudah hadir sejak abad ke-19 dan sama sekali nggak bisa dibilang problem milenium. Hampir semua masyarakat dari berbagai era punya struktur sosial dan mengalami saat-saat saling mencibiri orang yang suksesnya dibantu privilege.

Privilege adalah perkara kompleks yang sebenarnya sangat tidak sederhana. Termasuk di dalamnya ketidakadilan kelas sosial, usia, disabilitas, etnik dan kategori ras, ketidakadilan gender, orientasi seksual, bahkan agama. Apa yang dibilang istimewa di Indonesia belum tentu jadi istimewa di Amerika begitu pun sebaliknya. Karena privilege benar-benar terpengaruh oleh budaya.

Coba kita kembali ke akar dan merenung sebenarnya selama ini kita lagi ngeributin apa sih?

Pembahasan yang paling ngepop beranggapan bahwa privilege adalah sebagaimana kekayaan orang tua, yang bikin akses pendidikan seseorang makin baik, hingga akhirnya dia pun bisa bertemu dengan sesama orang kaya dan orang-orang pintar lain dan menjadi sukses atas apa yang mereka tempuh. Contoh paling gampang memang Nadiem Makarim dan Maudy Ayunda.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan mereka berdua, jalan nasib mereka jelas berbeda lah sama saya, sama kamu, atau sama ribuan anak lain di Banyuwangi yang mau sekolah aja harus nyebrang sungai. Beda banget.

Tapi yang luput dibahas tentang privilege adalah bagaimana ‘keistimewaan’ ini bisa didistribusikan dan sifatnya intersectionality. Nadiem Makarim mungkin punya privilege sebagai anak dari alumni Harvard sehingga bisa mengikuti jejak sang ayah untuk kuliah ditempat yang sama. Tapi beliau belum tentu punya privilege untuk main di kali sampai hanyut, cari udang sampai badan kedinginan, merasakan masa kecil yang fearless kayak Agus Mulyadi yang dari pengalaman-pengalaman kocak itu bisa melahirkan banyak tulisan lucu.

Baca juga:  Memulai Kalimat dengan 'No Offense' dan 'Bukan Bermaksud' adalah Bohong Besar

Maudy Ayunda punya privilege sebagai anak tajir sampai bisa kuliah di Stanford, tapi dia nggak pernah bisa dapat white privilege sebagai anak Eropa di sana. Privilege adalah konsep yang tidak mutlak dan bisa didistribusikan, tergantung dengan siapa kamu membandingkan. Maka perdebatan di dalamnya bisa benar-benar relatif dan sampai mati pun nggak ada titik temunya.

Lagian kenapa sih selalu membahas kekayaan orang. Iya, saya juga kadang iri dan silau. Pengin bisa kaya tanpa peduli modal apa yang saya belum punya. Tiba-tiba pengin solat terus sampai dapat duit satu miliar. Tapi cara kerja kehidupan nggak begitu, je.

Privilege itu lebih luas dari sekadar ngomongin akses dan duit, itu semua perkara relatif dan rentan. Privilege adalah tentang semua ketidakadilan di muka bumi. Rasisme juga bisa berkaitan sama privilege orang kulit putih, ruang aman bagi perempuan juga ada hubungannya sama privilege gender laki-laki.

Agar pembahasan soal ini nggak lantas membuatmu kayak orang yang cuma iri dengki, alihkan pada perjuangan mengubah strukturnya. Privilege adalah perkara sistemik yang nggak bisa selesai hanya dengan sambat sama orang yang ‘dianggap’ sukses. Kemiskinan terjadi secara struktural, lalu ada nggak sih caranya buat mentas dari bokek turun-temurun ini? Nah ini yang harusnya dicari.

BACA JUGA Sukses di Usia Muda Seperti Jessica Tanoesoedibjo, Mana Mungkin Bisa? atau artikel lainnya di POJOKAN.