MOJOK.COUsia 25 harusnya udah ngapain aja sih? Nggak ada salahnya menerapkan standar ketinggian, toh kalau jatuh, sakitnya ditanggung masing-masing.

Betapa bosannya saya dengan standar ideal yang diciptakan orang-orang soal “sukses” dan “berhasil”. Di media sosial pembahasan semacam ini selalu seksi dan mengundang sensi. Reaksi netizen beragam dan ujungnya selalu bilang, “Ah, itu kembali ke pribadi masing-masing.” Duh, nggak ada kalimat kesimpulan lain gitu?

Ada unggahan di Twitter seputar idealnya usia 25 udah punya apa aja. Unggahan tersebut, seperti biasa, cuma repost. Pokoknya usia 25 harusnya sudah punya tabungan senilai Rp100 juta, punya mobil pribadi, dan mulai nyicil rumah. Ternyata video singkat dengan kalimat serupa juga pernah muncul di TikTok, dinarasikan oleh seorang mbak-mbak yang nggak tahu, blio memang sudah memenuhi standar ideal tersebut atau justru belum. Yang jelas konten semacam ini kelanjutannya adalah “ngarang”. Semacam prank dan solusi yang dibuat oleh masalah yang baru saja mereka ciptakan sendiri. 

Memang, pernyataan-pernyataan semacam itu mengundang amarah dan kekesalan netizen yang elemennya terdiri dari sobat-sobat misqueen. Maklum, netizen kan memang entitas mudah terbakar. Tapi, siapa yang peduli sih? Besoknya yang pemalas juga bakal masih jadi kaum rebahan, yang rajin kerja walau penghasilan sedikit juga tetap gaspol, dan yang berharap UMR naik juga tetap berharap. Persetan dengan standar-standar aneh ini. Palingan wacana ini diciptakan kaum elit global demi upaya pengalihan perhatian dan penciptaan konspirasi. Ih ngeri.

Lagian standar ideal usia 25 memang diciptakan dengan mengarang indah. Padahal sebelumnya, nggak ada yang menciptakan wacana demikian. Apaan banget sih!

Baca juga:  Keuntungan Ibu Kota Pindah ke Jogja daripada ke Kalimantan

Lama-lama, konten soal standar ideal usia 25, kekayaan ideal, gaji standar karyawan yang sudah bekerja sekian tahun, dan patokan-patokan bikin kita (utamanya saya sendiri) kebal dengan hal semacam ini. Lha buat apa ngasih deadline begituan buat kehidupan yang begitu indah ini? Bukankah yang terpenting adalah hidup namaste dan loske wae?

Oleh karena “usia 25 harusnya punya tabungan Rp100 juta, punya mobil pribadi, dan mulai nyicil rumah” hanyalah konten yang memancing perdebatan, kita perlu meninjaunya dengan prinsip 3E, yaitu edukasi, emosional, dan engagement.

Edukasi

Tidak semua konten di dunia ini harus mengedukasi. Beberapa memang dibuat untuk menjerumuskan dan itu nggak apa-apa. Kecuali kalau Atta Aurel bikin video pillow talk, itu sih beda urusan. 

Konten soal standar usia 25 sebenarnya sangat mengedukasi. Setidaknya bagi bocil-bocil polos yang bahkan belum paham apa makna quarter life crisis. Bercita-cita menjadi kaya seharusnya diinternalisasi dalam kehidupan biar nanti kalau sudah dewasa nggak kebanyakan mengeluh soal privilege dan kemiskinan sistemik. Meski menjadi kaya dan ignorant itu kadang saling bertaut, ya sudahlah nggak apa-apa. Setidaknya mereka bisa giveaway uang buat orang-orang yang bacot banget.

Remaja kini bisa ancang-ancang di usia 25 setidaknya mereka sudah bisa ngapain aja. Pasang target itu nggak masalah, yang ribet adalah mewujudkannya. Lebih ribet lagi kalau nggak berhasil dan anxiety. Huh, padahal hidup memberimu pilihan untuk santai.

Emosional

Konon konten yang baik itu konten yang nggak cuma dibaca, tapi juga menyentuh sanubari audiens. Boleh sajalah influencer dan akun-akun motivasi menciptakan wacana khusus kalau usia 25 memang seharusnya punya tabungan Rp100 juga, punya mobil, dan otw nyicil rumah yang lunasnya sepuluh tahun. Konten semacam ini akan selalu “menggigit” bagi mereka yang belum punya ilmu kebal.

Konten soal standar usia 25 nggak bikin emosional dari mana? Jenis konten macam ini bahkan nggak cuma “menyentuh” sanubari, tapi juga menonjok dan menendang-nendangnya secara keroyokan. Kenapa bisa begini? Ya karena realitas di lapangan berbeda, standar itu terlalu ngawur. 

Secara bersamaan, netizen yang sudah dibuat emosi sejenak dibenturkan dengan pernyataan masuk akal bahwa standar usia 25 yang baru saja dibilang itu aslinya cuma ngarang. Yah, udah capek-capek emosi. Nggak apa-apa, netizen Indonesia pemaaf kok.

Baca juga:  Stigmatisasi Cowok Berkacamata dan Hubungannya sama Tampil Nggaya

Engagement

Nah, ini dia! Buat apa menciptakan konten-konten di media sosial kalau nggak bisa menaikkan engagement? Sampai perkara “usia 25” trending di Twitter saja banyak akun-akun jualan Netflix ilegal yang nebeng tenar lewat frasa ini.

Konten “usia 25 harusnya punya tabungan Rp100 juta, punya mobil mewah, dan mulai nyicil rumah” tidak bisa disangkal merupakan konten pendulang respons dan engagement. Sebuah konten yang ideal banget, walau isi kontennya nggak ideal blas. Iya, memang memancing emosi, tapi kan cuma sesaat. Toh, nantinya juga bisa bilang kalau penetapan standar itu cuma ngarang, ya khaaan. Ibarat orang barusan nembak gebetan, setelah diterima bilangnya, “aku cuma bercanda”.

Kawan-kawan yang baik, teruslah memancing netizen reaktif. Sebab, semakin ramai media sosial, semakin lupa kita dengan isi dompet yang kehadirannya fana. Setelah itu kita bisa kembali mensyukuri hidup yang indah ini dan bersyukur bahwa perdebatan selalu berakhir di media sosial.

BACA JUGA Terlalu Memikirkan tentang Quarter Life Crisis, Hanya Membuatmu Semakin Krisis dan tulisan AJENG RIZKA lainnya.