Curhat

Dear, Cik Prim dan Mas Agus yang baik hatinya. Saya sebetulnya malu buat nyurhatin ini, tapi saya terpaksa, sebab saya merasa sangat butuh nasihat kalian yang adem nan bijak bestari.

Langsung saja yaaa.

Saya mempunyai kekasih yang sudah 2 tahun lebih menemani saya. Sebut saja dia Uyyu. Kami dipertemukan karena kami tergabung dalam satu organisasi di kampus.

Saya banyak kekurangan, dia memaklumi dan memaafkan. Dia banyak kekurangan, pun saya juga berusaha memaklumi dan memaafkan, walau… Yah, kadang-kadang diselingi ngambek dulu. Hehe

Di awal hubungan, kami membuat kesepakatan. Pertama, kita akan berusaha memaafkan kesalahan apa pun kecuali selingkuh. Untuk urusan itu, tidak ada pintu maaf dan kata kembali. Dan kedua, kata “putus” hanya boleh diucapkan sekali. Jadi sebelum menyetujui untuk berpisah, kami berdua harus memikirkan betul-betul apakah hubungan kami memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Nah, tentu selain hal yang baik-baik, ada beberapa sifat Uyyu yang saya tidak suka, dan meski saya bolak balik mengingatkan, dia tidak berubah juga. Pertama, dia suka berbuat seenaknya dan bila ditegur cuma prengas-prenges. Kedua, jujur saya tidak terlalu merasa aman dan nyaman bersama dia. Jika saya sedang sedih, berkeluh-kesah, menangis, bahkan dibentak orang, dia seperti tidak peduli. Jika kami bertemu dan saya bercerita yang sedih-sedih (bahkan hingga menangis), dia bisa saja tetap bermain hape atau leptop tanpa menunjukan raut simpati. Jika wajah saya murung dan down, dia tidak akan bertanya apa yang mengganggu pikiran saya.

Pernah suatu ketika ada diskusi di organisasi, saya dibentak keras sekali oleh salah satu anggota hingga saya menangis. Dan respon Uyyu seperti yang sudah saya perkirakan: dia diam saja. Yang reflek marah dan membela saya justru teman-teman saya.

Jika saya bercerita lewat sms atau chat, besar kemungkinan tidak ditanggapi, atau kalaupun ditanggapi bakal sekenanya. Seperti kemarin, saya sms hampir ditabrak mobil meski telah mengendarai motor sesuai aturan dan tidak ngebut. Nyawa saya tinggal 10 cm dari badan mobil. Tapi dia tidak membalas. Selama saya masih bisa sms dipikirnya saya masih oke dan tidak butuh dukungan. Padahal apa beratnya sih untuk bertanya, berbasa-basi, apakah saya baik-baik saja?

Dalam banyak hal lain, Uyyu merupakan pacar yang menyenangkan. Jika saat itu suasana netral atau gembira. Tapi jika saya sedang sedih atau susah, dia terasa jauh. Padahal saya selalu berusaha mendengarkan dan menolong jika dia kesulitan, saya berusaha membela atau menetralisir jika ada yang “menyerang” dia.

Saya harus bagaimana, Cik Prim dan Mas Agus? Apakah saya harus menyatakan putus alias berpisah? Ataukah saya harus bertahan?

Salam sayang, Widya.

 

Jawab

Dear Widya yang lembut dan sangat peka perasaannya.

Begini, Widya. Pertama, saya ini benar-benar bingung dengan sampeyan. Sampeyan bilang bahwa sampeyan tidak terlalu merasa aman dan nyaman bersama Uyyu. Lah, kalau memang tidak merasa aman dan nyaman, kenapa sampeyan mau jadi pacarnya Uyyu? Dalam sebuah hubungan, faktor yang paling penting dan utama itu ya kenyamanan, bukan yang lain.

Begini, sebelum jadian, saya yakin, sampeyan harusnya sudah mempelajari, memilah dan memilih, serta mempertimbangkan hal-hal apa saja yang membuat sampeyan bersedia menerima Uyyu sebagai pacarnya. Dan hal pertama yang seharusnya menjadi pertimbangan paling utama tentu saja adalah kenyamanan.

Oke, saya skip bagian ini. Saya anggap saja sampeyan merasa nyaman dengan Uyyu di awal hubungan, dan kemudian seiring berjalannya waktu, kenyamanan itu semakin hilang karena sifat-sifat cuek Uyyu.

Widya yang baik, jujur, saya tak tahu apakah sikap cuek Uyyu itu memang sifat bawaan atau bukan. Hanya sampeyan yang tahu. Namun, jika memang sikap cuek Uyyu adalah sifat bawaan, yang memang sudah ada pada dirinya bahkan sebelum dia pacaran dengan sampeyan, maka sampeyan ya harus bisa menerimanya seiring dengan konsekuensi sampeyan bersedia menerimanya sebagai pacar. Perkara sampeyan punya keinginan untuk membimbing Uyyu mengurangi sikap cueknya dan mengubahnya menjadi pribadi yang peduli dan perhatian, itu soal lain.

(Ada baiknya sampeyan coba baca kembali paragraf kelima curhatan sampeyan)

Nah, jika ternyata sikap cuek Uyyu itu muncul karena suatu sebab, dalam artian dulu dia peduli, tapi sekarang dia cuek, maka hal yang jelas perlu sampeyan lakukan adalah mengkomunikasikan hal tersebut dengannya. Tanyakan apa yang membuatnya menjadi cuek seperti sekarang, tidak seperti dulu. Tanyakan apa yang bisa sampeyan lakukan agar Uyyu bersedia menjadi pribadi yang peduli.

Ini hal yang penting, sebab barangkali dia cuek sebagai bentuk protes pada sikap sampeyan yang terlalu rewel dan manja, barangkali ia cuek untuk melatih sampeyan agar menjadi perempuan yang tidak mudah sambat, dan masih banyak barangkali-barangkali yang lainnya.

Sampeyan adalah pacar Uyyu, sampeyan punya hak untuk dibuat nyaman olehnya. Dan kenyamanan yang saat ini sampeyan butuhkan adalah diperhatikan dan dipedulikan.

Bilang pada Uyyu bahwa sampeyan sayang padanya dan ingin ia berubah menjadi pribadi yang lebih peduli. Bilang padanya bahwa sampeyan ingin punya tempat berkeluh-kesah, tempat berbagi kesedihan, tempat berbagi cerita.

Tanyakan juga pada Uyyu bagian mana dari diri sampeyan yang menurutnya perlu untuk diubah. Walaupun agak transaksional, namun anggap itu sebagai timbal balik yang adil.

Nah, kalau memang sudah diupayakan dan dikomunikasikan, namun Uyyu masih saja tidak bisa mengubah sikapnya yang cuek itu, yang mana akan terus membuat sampeyan tidak nyaman berpacaran dengannya, jangan ragu, pegat saja. Mumpung belum terlalu jauh.

Kalau memang tidak nyaman, ya jangan dipaksakan.

Ingat, love is like a fart: if you have to force it, it’s propably shit.

~Agus Mulyadi

Komentar
Add Friend
No more articles