Salah satu hal yang sering membuat saya cukup malas naik kereta untuk perjalanan jarak jauh adalah suhu gerbongnya yang dinginnya ngaudubillah setan.

Dan sialnya, saya kok ya sering kebagian perjalanan panjang seperti itu. Maklum saja, ada kalanya, saya memang harus lebih memilih kereta ketimbang pesawat karena faktor harga tiket. Suhu di dalam pesawat memang terasa sejuk bagi saya, tapi harga tiketnya sering bikin gerah dan panas hati. Maka mau tak mau, Kereta menjadi pilihan yang paling memungkinkan.

Semalam misalnya, saya harus berangkat dari Jogja ke Malang naik kereta api karena alasan yang sudah saya kemukakan di atas.

Sejak masuk gerbong dari stasiun Tugu, hawa dingin itu sudah langsung mambacok tulang. Berrrrr… uademe pwooool. Saya yang biasa beraktivitas di hawa Jogja yang sebenarnya nggak panas-panas amat tapi juga nggak adem-adem amat itu tentu saja langsung mengalami semacam gegar udara.

Begitu duduk, saya langsung membuka kemasan selimut yang memang disediakan dan langsung saya gunakan untuk krukupan. Penumpang di sebelah saya yang juga sekaligus pacar saya sendiri juga mengomel karena dingin. Saya merasa menjadi lelaki yang tiada berharga karena energi cinta yang saya punya ternyata tidak cukup untuk menghangatkan dirinya.

“Dingin sekali, Mas.” katanya. Kalimat yang saya yakin keluar karena memang hawa yang sangat dingin, bukan karena kode ingin dipeluk.

Hawa dingin itu memaksa saya untuk terus bolak-balik ke toilet untuk buang air. Bedebah betul. Padahal kita semua paham, bahwa buang air yang paling tidak nyaman adalah buang air di dalam toilet kereta. Selain harus teliti mengarahkan otong ke dalam kloset, kita juga harus berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan karena lantainya terus bergoyang-goyang.

Saya yang memang lelaki dengan ilmu kanuragan yang tanggung dan kuda-kuda yang tidak terlalu mantap, tentu saja tak pernah bisa menikmati buang air di dalam toilet kereta. Padahal kalau buang air di toilet rumah, saya bisa betah berlama-lama.

Tiap kali keluar dari toilet, saya langsung menggerutu. Lha gimana nggak menggerutu, sudahlah hawanya dingin, masih ditambah dengan basahnya air bekas cebok di sekitaran otong dan selangkangan yang semakin membikin tubuh njediding.

Dinginnya menjadi semakin paripurna.

Sebagai anak-muda-milenial-kekinian dan insan-media-kreatif-masa-kini, rasa dingin itu tentu saja langsung saya konversikan menjadi konten. Langsung saya twitkan di akun Twitter saya yang followernya sudah puluhan ribu itu.

Dari twit itu, saya merasa bersyukur, sebab ternyata bukan saya thok yang mengalami penderitaan karena dinginnya AC kereta. Beberapa bahkan memberikan saya saran yang lumayan ekstrem: menyabotase suhu AC kereta dengan aplikasi di hape Xiaomi. Kebetulan, saya punya hape Xiaomi dan ndilalah kok ya saya bawa.

Namun, saran itu langsung saya urungkan sebab kata beberapa kawan, kalau sampai ketahuan petugas, saya bisa diturunkan di stasiun terdekat.

Suhu ideal ruangan ber-AC memang sebenarnya berada di angka 24-25 derajat, kadang jadi 26 derajat untuk orang-orang dengan berat badan yang berlebih.

Nah, suhu di dalam gerbong ini jauh mengkhianati suhu ideal tersebut. Biasanya antar 19-21. Beberapa orang yang membalas twit saya bahkan pernah mengeluh karena suhunya di bawah itu.

Dalam kondisi yang demikian, kadang saya berpikir, AC kereta yang dinginnya setengah mampus ini memang disengaja sama KAI, semacam ingin menegaskan kalau mereka memang pakai AC.

Semoga saya salah. Tapi kelihatannya tidak. Hahaha