Saat program ‘Sowan Kiai’ mulai dikonsep dan direncanakan oleh Mojok dan juga Gusdurian Jogja, nama KH. Mohammad Dian Nafi, pengasuh Pesantren Pesantren Al-Muayyad Windan, langsung menjadi salah satu kiai yang kami masukkan ke dalam daftar “target buruan” untuk kami sowani.

Bukan apa-apa, tapi rasanya akan sangat durhaka dan begitu nracak jika kami melewatkan sosok yang akrab dipanggil dengan panggilan “Pak Dian” ini.

Cucu KH Abdul Mannan, pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad ini memang merupakan salah satu kiai besar di Surakarta. Selain secara kultural punya ikatan yang kuat dengan lingkungan Al-Muayyad, secara struktural, Pak Dian juga aktif di kepengurusan Nahdlatul Ulama sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah.

Akses untuk bikin janji sowan dengan Pak Dian boleh dibilang mulus, bahkan cenderung terlalu licin. Maklum, kami menggunakan perantara Dafi, redaktur Mojok kebanggaan kita yang memang masih saudara jauh dengan Pak Dian.

Kami rombongan Mojok dan Gusdurian Jogja sowan ke Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, sekitar pukul 9 malam. Sungguh pengalaman yang lumayan unik, mengingat untuk sampai ke Pondok, kami harus melewati jalan di areal pemakaman umum Pracimoloyo di daerah Makamhaji yang luasnya ngaudubillah setan.

Kondisi gelap, kiri makam, kanan makam. Perjalanan Sowan Kiai jadi terasa seperti acara “Ekspedisi Alam Gaib”-nya ANTV.

“Wah, kampung daerah sini pasti ngeri ya, kanan kuburan, kiri kuburan. Ini kalau Go-jek dapat orderan tengah malam lewat daerah ini kira-kira diambil nggak ya?” kata saya ngudar rasa.

Setelah melewati beberapa tikungan, jalanan yang tadinya hanya kuburan mulai disisipi oleh rumah penduduk. Yah, walau tentu saja masih tetap area kuburan.

Jalanan yang tadinya sepi mulai dipenuhi lalu-lalang manusia.

Saya menengok sebelah kiri, di sana, tampak penjual angkringan yang selow dan santai saja menjual dagangannya sebelahan persis dengan kijing-kijing makam tanpa dibatasi tembok atau pagar sekali pun.

Maju sedikit, saya bisa melihat jelas anak-anak duduk dan bersandar pada kijing makam sambil bermain hape.

Bagi warga Makamhaji, area kuburan tampaknya tak pernah semengerikan yang orang-orang pikirkan.

“Enak ya jadi orang sini, pasti ibadahnya kenceng, inget mati terus soalnya,” saya bergumam.

“Weh, belum tentu, justru kalau tiap hari lihat makam, bisa-bisa malah blas nggak kepikiran soal mati, sebab sudah saking dekatnya.” timpal Dafi.

Lokasi Pondok Pesantren Al-Muayyad berjarak sepuluh menit dari area Pracimoloyo. Pondok Pesantren ini merupakan pesantren lanjutan khusus untuk para mahasiswa. Ia merupakan pengembangan dari Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan.

Kami agak kesulitan menemukan lokasi pondok Al-Muayyad Windan ini, maklum saja, Dafi sebagai satu-satunya orang yang pernah berkunjung ke pondok ini nyatanya tak ingat-ingat amat dengan jalan menuju ke sana. Mangkanya, kami perlu bertanya ke beberapa penduduk setempat sebelum akhirnya bisa sampai di lokasi.

Dari depan, bangunan Pondok Al-Muayyad Windan tampak lumayan megah. Bangunannya tampak baru. Belakangan baru kami ketahui Bahwa pondok tersebut memang sedang dibangun.

Kami disambut langsung oleh Pak Dian Nafi.

“Gimana, nggak susah to nyarinya?” Tanya Pak Dian pada kami.

Walau aslinya kami agak kesusahan, tapi demi basa-basi yang lebih baik, tentu saja kami menjawab dengan jawaban tidak susah sama sekali.

Halaman pondok lumayan luas. Ada tenda yang terpasang dengan kursi yang tertata rapi. Kata Pak Dian, pondok memang sedang mengadakan acara pelatihan bahasa Inggris dengan mendatangkan mentor dari Desa  Bahasa Borobudur.

“Pak Hani, ya, Pak Dian?” Tanya saya menyebut nama perintis Desa Bahasa Borobudur yang memang saya kenal.

“Iya, Pak Hani,” jawab Pak Dian singkat.

Kami serombongan kemudian langsung dipersilakan duduk di sebuah ruangan yang saya duga merupakan ruang tamu pondok.

Seakan tahu bahwa kami memang pemuda-pemuda tanggung yang agak kikuk untuk memulai pembicaraan, Pak Dian langsung membabat kami dengan serentetan pertanyaan. Beberapa bisa kami jawab dengan lancar, beberapa butuh waktu untuk berpikir keras.

Saat kami mulai terbiasa dengan ekosistem percakapan yang begitu membabi-buta, Dafi pun kemudian mulai membuka obrolan terkait dengan program sowan kiai yang sedang kami garap.

“Jadi begini, Pak Dian. Dalam program sowan kiai ini, aslinya nggak murni sowan, tapi juga ada semacam wawancara terkait dengan dunia keislaman dan pesantren, dan nantinya disyuting,” jelas Dafi.

“Oh, ya nggak papa. Kapan mau disyuting? Sekarang?”

“Nggih kalau Pak Dian sudah siap.”

“Ya kalau aku siap terus tho ya.”

Mendapatkan lampu hijau, Ali videografer andalan Mojok pun langsung bermanuver mengatur set.

“Wawancaranya di sini saja, ya, enak ini tempatnya,” kata Pak Dian. Kami setuju.

Setting tempatnya memanjang, jadinya, perlu empat orang langsung untuk inframe. Saya yang tadinya hanya ingin melihat dari balik kamera pun akhirnya disuruh untuk ikut masuk frame bersama Dafi, Fairuz, dan Bahru.

Sebelum wawancara benar-benar dimulai, Pak Dian Nafi ngotot ingin menyertakan bendera merah putih sebagai background.

“Tolong dicari itu di belakang, dekat rak,” katanya.

Saya dan Bahru kemudian sibuk mencari bendera merah putih beserta tiang pancangnya. Setelah ketemu, langsung kami pasang di belakang kursi Pak Dian sebagai background.

“Saya itu ikut dawuh guru saya. Kita ini nggak ikut berjuang langsung merebut kemerdekaan, jadi salah satu cara menghormati negara ini adalah dengan sering-sering memasang bendera merah putih sebagai simbol kebanggaan,” ujarnya.

Setelah semuanya siap, wawancara pun segera dimulai.

Dafi membuka wawancara dengan pertanyaan tentang pengalaman pak Dian mengasuh santri-santri mahasiswa di pesantren Al-Muayyad Windan.

Pak Dian mengaku menikmati pengalaman sebagai pengasuh santri mahasiswa. Ia bahkan merasa sangat asyik. Baginya, mengasuh santri mahasiswa menjadi sebuah pelengkap dalam karier kepengajarannya sebagai seorang guru.

“Saya ini pernah ngajar di TK, waktu Kuliah Kerja Nyata juga pernah ngajar di SD, pernah ngajah di diniyah, pernah juga ngajar untuk level SLTA, bahkan pernah jadi kepala SMA Al-Muayyad selama 10 tahun.” Terang Pak Dian. “Nah, mengasuh santri mahasiswa ini tak ubahnya seperti menemani mereka berproses.”

Menurut Pak Dian, mahasiswa merupakan tingakatan proses yang paling dekat dalam sebuah pendidikan sebelum akhirnya benar-benar dilepas ke masyarakat. Dan menemani mereka, menurut Pak Dian, adalah keasyikan tersendiri.

Setelah cukup panjang membahas tentang perasaan mengasuh santri-santri mahasiswa, Dafi kemudian menanyakan pertanyaan yang cukup berat.

Pak Dian Nafi selama ini terkenal giat mengkampanyekan islam sebagai sebuah agama perdamaian dalam tulisan-tulisannya di koran dan berbagai media lainnya. Pak Dian menuliskan tema tersebut sudah sejak lama, bahkan sejak jaman orde baru.

Dalam poin inilah, Dafi menanyakan apa yang mendasari pak Dian untuk fokus mengkampanyekan isu-isu perdamaian.

Beliau mengatakan bahwa didikan pesantrenlah yang membuatnya ingin mengkampanyekan isu-isu islam sebagai agama perdamaian.

“Di pesantren ini, kita dikenalkan dengan Piagam Madinah, termasuk sejarah lahirnya,” kata Pak Dian, “Itu semua membingkai pengetahuan yang sangat berguna.”

Kelak, fondasi pengetahuan tersebut menyadarkan Pak Dian Nafi betapa Islam merupakan agama pembingkai persatuan dan perdamaian yang kemudian terus ia kampanyekan dalam berbagai tulisan-tulisannya.

Pak Dian Nafi adalah seorang guru sekaligur pembalajar yang baik. Tak hanya lintas level pengajaran, ia juga punya pengalaman mengajar untuk berbagai mata pelajaran, dari biologi, fisika, Bahasa Indonesia, antropologi, Pendidikan Moral Pancasila, sejarah, juga materi tentang ke-NU-an.

“Wah, lengkap ya, Pak. Kalau begitu satu sekolah cukup njenengan saja yang jadi gurunya,” canda saya. kami semua tertawa.

“Iya juga, ya,” ujarnya terkekeh.

Pak Dian kemudian mulai asyik bercerita tentang tema yang begitu ia sukai, tema yang sejak kami datang di awal berkali-kali ia sampaikan: ketahanan pangan.

Ketahanan pangan, menurut Pak Dian, merupakan hal yang sangat penting. Bukan hanya soal hidup, namun juga soal kepatuhan terhadap agama.

“Makanan itu menentukan status kita sebagai pelaku kehidupan, karena itulah kemudian ada halal ada haram. Makanan itu bagian yang penting di dalam peradaban.”

Kesadaran ini pula yang kelak membuat Pak Dian rajin memperjuangkan agar khatib-khatib jumat punya pengetahuan yang mumpuni tentang ketahanan pangan.

“Habib Lutfi itu, beliau menekuni peternakan, mendorong peternakan, juga mendorong kita untuk melakukan pertanian dengan sangat baik, beliau menyarankan untuk hati-hati menggunakan pupuk impor, obat impor, karena belum tentu cocok dengan tanah Indonesia. Ketahanan pangan menjadi perhatian beliau, sebab ketahanan pangan sebenarnya adalah pesan universal bagi seluruh manusia,” terang Pak Dian.

“Wah, ternyata membahas Islam bisa sangat luas nggih, Pak Dian. Irisannya bisa tentang perdamaian, bahkan sampai ketahanan pangan juga,” kata Fairuz.

“Iya, betul.”

“Kalau begitu, fiqih pun sebenarnya bisa luas juga nggih, Pak?”

“Iya, fiqih itu kan ada yang mengatur hukum taklifi, juga mengatur hukum wadh’i,” terangnya. “Jadinya luas.”

Fiqih itu, kata Pak Dian, seharusnya bisa mengatur banyak hal. Ia bukan hanya menjadi sumber hukum, namun juga bisa menjadi senjata untuk menjaga martabat manusia.

“Fiqih itu asyik sekali, kok.” terangnya. “Kita bukan hanya membahas tentang halal-haram, tapi juga sebab dan musabab, soal syarat. Jadi fiqih itu bisa membuat kita semakin tahu diri”

Pembahasan tentang fiqih tersebut sekaligus mengakhiri sesi wawancara kami bersama Pak Dian Nafi.

Setelah semua peralatan dikukuti, Pak Dian masih terus bercerira, kali ini cerita tentang kejadian-kejadian yang sifatnya politis dan tak layak untuk direkam. Obrolan baru selesai pada pukul setengah satu malam.

Tepat jam satu seperempat, kami serombongan undur diri. Kami harus segera pulang ke Jogja. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan esok.

Di mobil, saya sudah mempersiapkan diri untuk melewati jalan kuburan yang tentu saja kali ini akan gelap gulita tanpa aktvitas manusia, sebab sudah tengah malam.

Persiapan saya sia-sia, sebab ternyata, driver memilih jalan lain. Saya tak tahu, harus sedih atau malah bahagia.



Loading...



No more articles