• 27
    Shares

Curhat

Dear mojok,

Ini pertama kali saya curhat di sini, semoga dibaca dan sukur-sukur diberi solusi.

Jadi begini, Gus, Cik, saya adalah seorang pria berusia 25 tahun yang sudah lulus beberapa tahun yang lalu dari kuliah. Jurusan kuliah saya dulu adalah Sistem Informasi, saya memilih jurusan itu karena saya memang sangat suka dengan dunia IT. Saya pun berharap setelah lulus ini saya bisa berkarya di dunia yang sangat saya sukai ini.

Namun sayang seribu sayang, setelah lulus, orangtua saya ternyata meminta saya untuk melanjutkan usaha rumah makan mereka yang sudah ada sejak saya masih kecil. Nah, hal tersebut bikin saya dilema. Di satu sisi, saya ingin sekali berkarya mengikuti apa passion saya, namun di sisi yang lain, saya juga susah untuk menolak keinginan orangtua.

Saya kemudian mencoba untuk mengikuti apa keinginan orangtua saya. Saya bekerja di rumah makan orangtua saya selama beberapa bulan. Ya, hanya beberapa bulan, karena memang pada akhirnya, saya merasa sangat tidak tahan.

Saya sudah berusaha dan beradaptasi di sana. Saya terapkan ilmu komputer saya di sana, seperti membuat pembukuan secara digital, kasir berbasis online, membuat akun media sosial, membuat official web dan bahkan saya berencana untuk membuat absensi menggunakan Kartu RFID untuk para karyawan. Namun, orangtua saya itu konservatif, kolot dan kurang bisa menerima semua perubahan tersebut. Hal yang kemudian membuat saya akhirnya memutuskan untuk keluar.

Saya merasa sangat frustrasi. Saya mulai deactivate semua akun personal media sosial saya, bahkan ada yang saya hapus. Saya uninstall whatsapp dan mulai menjauhi orang-orang, keluarga, teman-teman, bahkan sahabat saya sendiri. Saya hanya ingin sendiri.

Seiring berjalannya waktu, saya kemudian mulai sadar dan mulai bangkit. Saya mulai menjalani passion saya selama ini, yaitu menulis dan bermimpi membuat sebuah startup yang sukses suatu saat nanti. Tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, mengejar passion itu ternyata sangat sulit sekalipun saya amat mencintainya, apalagi tidak ada support sama sekali dari orangtua.

Saya hanya ingin merasa dihargai, dibutuhkan dan bisa bikin mereka bangga. Jadi, bagaimana cara mengatasinya? Apakah saya harus mengikuti keinginan orangtua saya, atau harus melanjutkan passion dan mimpi saya? Mohon bantuannya.

Terima kasih.

~Ray

 

Jawab

Dear Ray.

Pertama, mari kita sepakati terlebih dahulu, bahwa orangtua mana pun pasti selalu ingin anaknya sukses dan bahagia. Itu pasti. Tak ada orangtua yang ingin anaknya menderita. Nah, yang jadi persoalan adalah, adanya perbedaan yang mendasar antara anak dan orangtua dalam memandang kebahagiaan dan kesuksesan.

Dalam kasus sampeyan, orangtua sampeyan menganggap sampeyan sukses bila sampeyan bisa bekerja dan menjadi penerus bisnis rumah makan keluarga. Hal yang justru sebenarnya sama sekali tidak menjadi minta sampeyan.

Nah, dalam kondisi yang seperti ini, hal yang paling penting untuk dilakukan sebenarnya adalah menyelaraskan pandangan akan kesuksesan itu sendiri. Kalau masing-masing masih bergerak dengan pemahaman kesuksesan yang berbeda, maka sampai kapan pun, persoalan seperti ini tidak akan pernah selesai.

Dalam menjalankan langkah ini, titik yang paling vital adalah soal pembuktian.

Saya pernah mengalami hal yang serupa dengan sampeyan. Saya punya minat yang cukup besar dalam dunia menulis. Gampangnya, saya ini ingin sekali bisa mencari penghasilan sendiri lewat menulis. Maka, yang saya kerjakan ya menulis artikel baik melalui blog ataupun media sosial, sambil sesekali mencoba mengirimkannya ke berbagai media untuk memperoleh penghasilan.

Dalam kondisi seperti ini, orangtua, terutama bapak, tidak terlalu suka dengan pekerjaan, atau lebih tepatnya, kegiatan (karena orangtua saya tidak pernah menganggap menulis sebagai pekerjaan) yang saya lakukan. Bapak saya selalu menganggap saya ini cuma klumbrak-klumbruk di kamar, berdiam diri di depan komputer, tanpa melakukan pekerjaan yang berfaedah.

Bapak saya kemudian sangat menginginkan saya bekerja selayaknya orang-orang kebanyakan. Pokoknya kerja yang kelihatan kerja, entah kerja di pabrik, di rumah makan, atau di mana saja, yang penting statusnya kerja. Bukan cuma nulis.

Saya kemudian menurutinya, saya sempat mendaftar menjadi petugas parkir di salah pusat perbelanjaan di Magelang, pernah juga mendaftar sebagai pelayan di salah satu tempat makan steak di Purworejo. Namun toh, pada akhirnya, saya merasa, passion saya memang menulis. Jadilah saya kemudian memaksakan diri untuk bisa mendapatkan uang lewat menulis. Saya mencoba membuktikan bahwa apa yang bapak saya anggap sebagai berdiam diri di depan komputer adalah sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan.

Perlahan, saya kemudian mulai bisa mendapatkan uang dari menulis. Saya mendapatkan honor rutin dari menulis. Bahkan, saya kemudian mendapatkan uang royalti dari beberapa buku yang saya tulis. Uang yang saya dapatkan itu kemudian saya belikan perabot dan keperluan rumah, seperti televisi ataupun mesin cuci.

Pembuktian yang bersifat materil itulah yang kemudian membuat orangtua saya mulai mendukung apa yang saya lakukan.

Nah, saya pikir, sampeyan juga bisa mengikuti pola ini. mencoba membuktikan pada orangtua sampeyan bahwa passion yang anda geluti adalah passion yang memang bisa menghasilkan secara materil.

Jangan bicara soal prestasi, pencapaian, kebanggaan, dan lain sebagainya. Buktikan saja dulu bahwa sampeyan bisa menghasilkan uang dari passion sampeyan. Itu yang paling penting. Sebab, bukannya matre, tapi bagaimanapun, orangtua memang masih suka memandang kesuksesan sebagai materi, dan itu harus sampeyan hormati. Sebab, orangtua menguliahkan sampeyan juga dengan uang, bukan cuma dengan passion.

Cobalah bikin usaha. Apapun itu. Yang penting, dalam setiap usaha itu, libatkan unsur IT, sekecil apapun itu.

Kelak, ketika sudah mulai menghasilkan, katakan pada orangtua sampeyan bahwa itu adalah salah satu bukti bahwa sampeyan punya pertanda sukses dengan dunia IT yang sangat sampeyan sukai itu.

Dengan hal ini, saya yakin, pandangan orangtua sampeyan tentang kesuksesan akan sedikit berubah, dan perlahan akan mulai bisa menerima passion sampeyan dan tidak akan memaksa sampeyan untuk berkarir di dunia rumah makan.

Ingat, dulu Jokowi sangat-sangat-sangat ingin anaknya meneruskan bisnis mebelnya yang sudah ia bangun sejak lama. Tapi nyatanya, anak-anaknya memilih untuk berkarir di dunianya masing-masing. Gibran memilih menjadi pengusaha kuliner, Kaesang memilih menjadi youtuber, sosial media influencer, dan berbisnis clothing, sementara Kahiyang mendalami ilmu bisnis dan manajemen. Pada akhirnya, ketiganya sukses dengan dunianya masing-masing, dan Jokowi pun kemudian menerimanya.

Yah, semoga saran dari saya ini bisa sedikit membantu. Kalaupun ndilalah tidak membantu, ya sudah, memang begitulah semestinya curhat Mojok: Hanya memberi nasihat, tapi tidak memberi solusi.

~Agus Mulyadi