Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Euro di Mata Pembenci Sepakbola

Adam Anugerah oleh Adam Anugerah
17 Juni 2016
A A
Euro di Mata Pembenci Sepakbola

Euro di Mata Pembenci Sepakbola

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya tidak terlalu menyukai olahraga beregu seperti basket, baseball, voli, dan tentu saja, sepakbola. Salah satu alasannya sederhana: sulit sekali bagi saya untuk mengingat nama-nama pemain yang banyak itu ketika berbaur. Itulah sebabnya kenapa saya menyenangi jenis olahraga perseorangan.

Sialnya, olahraga yang paling banyak digemari oleh khalayak justru rata-rata adalah olahraga beregu, terutama sepakbola. Ini tentu kesialan tersendiri bagi saya. Karena sekali lagi, saya selalu sulit untuk menghafalkan nama-nama pemainnya. Kalaupun hafal, itupun hanya satu dua pemain yang kebetuan jadi pemain kunci di timnya. Saya hanya akan mampu mengingat Portugal dengan Christiano Ronaldo, Wales dengan Gareth Bale, atau Inggris dengan Wayne Rooney. Pemain lainnya, saya tak terlalu hafal.

Jangan heran. Hal ini memang lumrah terjadi. Toh, ini sama persis kasusnya dengan banyak orang yang mengenal Soneta dengan hanya dengan Rhoma Irama-nya, sedangkan nama personel lainnya, mungkin hanya Manajer Soneta dan Tuhan yang tahu. Bahkan bisa jadi, Rhoma Irama sendiri pun tidak hafal siapa saja nama-nama kompatriotnya di Soneta.

Yah, intinya, saya tak terlalu suka dengan sepakbola.

Dan, beginilah hidup. Ia suka sekali menari di atas lantai dansa kontradiksi. Saya tidak suka sepakbola, padahal saya hidup justru di tengah-tengah lingkungan yang begitu menyukai sepak bola. Keluarga, dan kawan-kawan saya hampir semuanya menyukai sepak bola.

Maka, hadirnya turnamen Euro di tengah bulan puasa ini benar-benar menjadi penguji kesabaran yang benar-benar nyata.

Bagi saya, Euro benar-benar turnamen yang tak tahu diri. Ia hadir justru di waktu-waktu krusial bagi orang berpuasa: waktu sahur. Lha mbok plis lah. Waktu sahur itu kan seharusnya menjadi waktu yang berkah, waktu bagi orang berpuasa menyantap santapan penghabisannya. Kalau perlu, ditemani nonton acara tivi yang penuh hikmah, seperti kajian Quraish Shihab dan Prie GS di Metro TV, atau Serial Ramadhan Para Pencari Tuhan di SCTV. Bukannya malah pertandingan sepakbola. Sialnya, hak saya atas kendali remot tivi sangatlah lemah. Jadilah mau tak mau, saya lebih banyak ngalah.

Sebagai fans berat serial Para Pencari Tuhan dan Prie GS, saya merasa perlu mendeklarasikan Euro 2016 sebagai musuh yang layak untuk saya benci.

Euro ini benar-benar sudah menodai kesucian dan kesakralan bulan Ramadhan. Banyak orang tak khusuk lagi tarawihnya atau meninggalkan tadarus demi nonton bola. Belum lagi kalau ada yang iseng menggelar taruhan. “Biar semangat nontonnya”.

Bulan ramadhan yang di tahun-tahun sebelumnya selalu penuh dengan kiriman brodkes doa-doa atau motivasi berpuasa, di tahun ini, justru penuh dengan kiriman brodkes prediksi pertandingan sepakbola.

Di grup wasap lingkaran pertemanan saya, kawan-kawan saya bahkan banyak yang membahas tentang ulasan pertandingan lengkap beserta perjudiannya.

“Portugal nggak bisa diharapkan, hari ini aku pasang bawah.”

“Perancis Albania, aku ambil voor satu setengah”

“Ini bandarnya mana, asuuuu”

Tempe bener, kan?

Nah, Itu masih belum apa-apa. Yang paling membuat saya mangkel adalah, Euro membuat orang-orang yang tak suka dengan sepakbola terpaksa harus mengikuti sepakbola. Kenapa? Ya karena hampir obrolan-obrolan di berbagai forum mulai dari obrolan warung kopi hingga obrolan di kantor melulu membahas tentang pertandingan semalam. Maka, kalau tak tahu apapun tentang sepakbola, ya siap-siap saja bakal jadi obat nyamuk.

Dan bagian paling menjengkelkan dari semua ini adalah. Sebenci apapun saya sama Euro, setidakmudeng apapun saya sama sepakbola, Saya harus tetap punya tim jagoan. Karena kemana-mana, saya selalu saja ketemu sama pertanyaan “Kamu jagoin siapa di Euro?”

Bayangkan, anda harus memilih tim jagoan yang bermain di olahraga yang anda tidak menyukainya. Ini hampir sama seperti anda tidak suka dangdut, tapi anda dipaksa untuk memilih salah satu di antara Sera, Monata, Palapa, atau Sagita.

Iklan

Tempe bener, kan?

Ah, Euro… Euro… Andai saja ada Perda yang melarang nonton siaran langsung Euro, pasti akan langsung saya puja-puji, walikotanya

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2017 oleh

Tags: euroPuasasepakbola
Adam Anugerah

Adam Anugerah

Artikel Terkait

Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
3 Alasan Orang Sleman Malas Bukber ke Bantul, Selain Karena Egois dan Jogja Selatan Isinya Gondes.mojok.co

Bagi Warga Bantul Ajakan Bukber di Sleman Adalah Bentuk Diskriminasi dan Ketidakadilan, Apa Orang Jogja Utara Memang Egois?

15 Maret 2024
Penambang Kawah Ijen Tak Puasa Demi Baju Lebaran Anak MOJOK.CO

Perjuangan Penambang Belerang Kawah Ijen Banyuwangi Demi Baju Lebaran Anak Istri, Puasa-puasa Tetap Naik Turun Gunung Memikul Ratusan Kg Hasil Tambang

11 Maret 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.