Sampai sekarang saya selalu tersenyum kecut manakala ada teman yang dulu sempat menggunakan BlackBerry sebagai pilihan gajet mereka. Saya tak habis pikir kok bisa-bisanya mereka tertarik memilih smartphone yang jumlah keypad fisiknya tidak berkurang, tapi justru bertambah ketimbang keypad fisik pada ponsel klasik yang hanya memiliki 9 tombol utama.

Saya mengamati booming BB ini pada rentang tahun 2009 hingga 2012. Saat itu beredar BB dengan beragam varian, seperti Curve, Storm, Bold, Torch, Onyx, dan lain-lain yang saya tidak hafal. Seketika itu pula kebanyakan orang mulai kecanduan dan melirik BB sebagai kandidat gajet yang masuk daftar beli.

Padahal dalam hati kecil, saya justru meragukan masa depan smartphone jenis ini. Saya meyakini jika BB tak akan berumur panjang sebagai sebuah gajet. Ditambah lagi desas-desus kemunculan smartphone berlayar sentuh semacam Android Phone dan iPhone yang perlahan-lahan mulai mengemuka sebagai produk smartphone yang matang.

Tentu saya merasa (((menang))) begitu mengetahui dominasi iPhone dan Android saat ini benar-benar membuat popularitas BB semakin tenggelam. Sebagian besar pengguna BB hijrah menjadi pengguna gajet Android dan iPhone. Beriringan dengan pengguna aplikasi BBM yang lamat-lamat lebih nyaman menggunakan WhatsApp, LINE, atau Telegram.

Lalu, hal apa saja sih yang sebenarnya membuat saya meragukan masa depan BB. Simak poin-poin berikut.

Keypad Fisik yang Payah

Saya hanya bisa membayangkan betapa tidak enaknya mengetik di atas keypad fisik yang ukuran tombolnya sangat kecil (terdiri dari huruf A-Z), sehingga memenuhi separuh muka gajet. Ini membuat ukuran layar BB menjadi terkesan sempit dan serba tanggung. Bagi saya, fisik BB lebih mirip kalkulator ketimbang smartphone.

Banyaknya tombol pada keypad fisik justru membuat BB jadi tampak rumit. Bandingkan dengan smartphone masa kini yang di bagian mukanya tak ada atau paling tidak, mengurangi jumlah tombol fisik. Bentuk keypad fisik BB tak ubahnya keyboard QWERTY pada laptop/komputer tapi dalam versi mini.

Meskipun secara operasional lebih enak ditekan karena ada sensasi mengetik seperti pada keyboard atau mesin ketik, tetapi rasanya teknologi keypad sentuh lebih menjanjikan. Sensasi mengetik pada keypad sentuh sudah bisa diatasi dengan getaran, audio, dan tampilan haptic feedback ketika sebuah tombol dipencet.

Kelemahan lain keypad fisik sudah barang tentu lebih mudah rusak/aus jika sering digunakan ketimbang keypad sentuh yang berjalan di atas aplikasi. Keypad fisik harus sering dibersihkan agar tidak mudah kotor terkena debu atau air.

BACA JUGA:  Nostalgia Ponsel Senter Kodok Nokia 1202

Sudah begitu trackball BB di bagian tengah–yang sering digunakan sebagai tombol navigasi–sering bermasalah. Hampir semua pengguna BB rasanya pernah mengalami hal serupa, bukan?

Tampilan Antarmuka Kurang Menarik

Antarmuka BB sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat, karena smartphone ini dibuat bukan untuk tujuan multimedia, tapi untuk tujuan fungsionalitas. Misal untuk membuka email dan konektivitas data internet. Pengguna akan mendapatkan notifikasi ketika ada email masuk. Pun pada saat yang sama, ia bisa segera membalas email tanpa harus membuka browser.

Ngobrol lewat aplikasi BlackBerry Messenger (BBM) memang lebih nyaman ketimbang lewat SMS, meskipun secara antamuka juga tidak ‘wah’. Prestasi BlackBerry melalui BBM setidaknya sudah mempopulerkan istilah “cuma di-read” dan “PING”, juga fitur emoticon yang lebih personal. Cuma, kalau dibandingkan dengan emoticon LINE saat ini, ya sudah pasti kalah jauh.

BB versi awal masih menggunakan warna monokrom pada antarmuka sistem operasinya. Baru kemudian muncul BlackBerry OS yang sudah mulai berwarna, meski masih menggunakan resolusi standar (belum HD). Hingga akhirnya muncul BlackBerry 10 yang sebetulnya sudah terlambat mengikuti pergerakan generasi ponsel cerdas berlayar sentuh. BlackBerry 10 berusaha membuat antarmuka yang lebih unggul bersama antarmuka iPhone, Android, juga Symbian. Namun, sayangnya juga gagal.

Ada Kebaruan tapi Tidak Futuristis

Okelah kalau dibilang BB sebagai pionir ponsel cerdas yang bisa berkirim email di mana saja dan kapan saja. Okelah kalau dibilang BlackBerry Messenger juga pionir aplikasi chatting yang paling mobile dan inovatif. Okelah kalau dibilang dengan BB para penggunanya bisa mengetik lebih cepat ketimbang ponsel klasik dengan 9 tombol atau menggunakan pen touch.

Kebaruan itulah yang sesungguhnya membuat pengguna ponsel yang masih mengandalkan SMS dan MMS gamang jikalau BB lebih inovatif ketimbang ponsel Nokia tercanggih di zamannya. Maka tidak heran, banyak pengguna Nokia kelas menengah ke atas yang berhijrah ke BB atau Personal Digital Assistant (PDA) yang dilengkapi dengan pen touch. Kalau saya sih mendingan menunggu smartphone tanpa keypad fisik.

Jika mereka sabar menunggu barang satu atau dua tahun lagi, kehadiran smartphone berlayar sentuh bakal lebih futuristis. Muka ponsel tak ditutupi lagi oleh tombol-tombol QWERTY yang sangat mengganggu pandangan. Secara aplikasi pun menawarkan fitur-fitur yang lebih kaya dan dinamis.

BACA JUGA:  Harga Smartphone Seharusnya Tak Sebercanda iPhone X

Tidak Ramah Developer

Kejayaan iOS dan Android OS menjadi pertanda bahwa BlackBerry OS semakin kurang diminati. Para pengembang aplikasi lebih suka mengoprek iOS dan Android OS ketimbang BlackBerry OS, karena komunitas iOS dan Android OS semakin lama semakin berkembang. Saya tidak menyebut Windows Phone dan Symbian, karena pamornya sudah keburu redup, hanya booming saat versi terbaru sedang rilis.

Selain itu, source code BB OS tidak dibuka untuk umum. Berbeda dengan iOS dan Android OS. Meski iOS juga tertutup, tapi grup pengguna dan pengembangnya masih sangat loyal selama bertahun-tahun. Sementara Android OS mengusung gaya open source. Siapa saja bisa leluasa mengoprek Android OS dan kemampuannya semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Sementara itu, bisa dibilang tidak banyak aplikasi baru yang hadir dalam BlackBerry OS. Hampir semua aplikasi yang ada di BlackBerry OS kalah pamor dengan aplikasi berbasis iOS dan Android OS. Dan pada akhirnya BB benar-benar menyerah.

Tahun 2015 lalu, BB mengubah haluan bisnisnya untuk fokus mengembangkan BB rasa Android. Prototipenya bisa dilihat melalui kehadiran BlackBerry Priv (masih mempertahankan keypad fisik) dan BlackBerry DTEK50 (tanpa keypad fisik).

Fitur BB yang paling sukses bagi saya adalah layanan push email dan BBM. Namun, dua layanan tersebut juga cepat saja direplikasi ke dalam iOS dan Android OS. Para pengembang aplikasi email dan chatting semakin hari semakin mewabah dengan tambahan fitur-fitur yang lebih menjanjikan.

Hanya Cocok untuk Pebisnis

Impresi saya terhadap orang yang menggenggam BB di zaman itu tak lain adalah golongan pebisnis tulen atau orang yang sibuk berhubungan dengan para (((stakeholder))). Well, ponsel cerdas ini memang hanya cocok jika dan hanya jika kamu adalah seorang pebisnis. Artikel The Telegraph yang ditulis tahun 2010 ini cukup untuk menguatkan argumen saya.

Kalau di zaman itu kamu masih mahasiswa atau sama sekali bukan pebisnis, apa enaknya menggunakan BB. Untuk gaya-gayaan kurang trendy, pilihan aplikasinya gitu-gitu aja, baterai cepat habis, pun hasil jepretan kameranya tidak memuaskan.

Jadi, apakah kamu sekarang sudah menjadi bagian dari geng Anti BlackBerry BlackBerry Club (ABBC)?

Komentar
Add Friend
No more articles