[MOJOK.CO] “Seperti juga di jalanan, di stadion pun pak polisi pemenangnya.”

Saya pernah sekali kena tilang di perempatan. Saat itu lampu kuning yang hampir merah saya terabas, rencananya hendak belok ke kanan. Sialnya (atau: kena batunya), motor yang tadinya berjalan beriringan dengan saya memilih untuk berhenti. Selang beberapa detik bapak paruh baya berompi hijau stabilo sudah terpampang jelas di kaca spion.

Sekelebat saya langsung teringat wejangan Ibu, “Kalau ketilang mending berhenti. Manut saja, pak polisinya nggak usah dilawan. Jangan malah kabur ngebut, kamu lagi nggak naik buraq.” Demi mengingat pesan itu, saya langsung berhenti, dibawa ke pos polisi dan … satus ewu.

Jika dipikir-pikir, benar juga apa kata ibu saya. Kalau ditilang di jalan jangan dilawan. Apalagi sekarang lagi musim cegatan dalam rangka Operasi Zebra. Melawan pak polisi di jalan sama saja dengan melawan hiu di laut. Mau melawan sekeras apa pun, kemungkinan besar tetap kalah. Kalaupun lolos ya luka-luka.

Bedanya, jika lawannya hiu sampean bakal mati, kalau lawannya pak polisi paling sampean disuruh sidang, bayar di bank, atau kalau masih ada oknum yang sedang baik hati, mungkin mau membantu membayarkan ke pengadilan jadi sampean cukup bayar di tempat.

Tak cukup hanya di jalanan saja, pak polisi sedang berusaha menaklukkan lahan lain agar tidak kalah dengan pak tentara yang multifungsi. Dengan peleton yang dinamai Bhayangkara FC, pak polisi berusaha merebut mahkota Liga Indonesia.

Selain memang mempunyai pemain yang mumpuni di atas lapangan, tim ini juga diuntungkan dari sisi nonteknis. Beberapa hari yang lalu Mitra Kukar resmi menjadi korban tilang Operasi Zebra. Uniknya, surat tilang dikirim Komdis PSSI via surel, bukan diberikan di pos polisi terdekat. Sanksi dalam penilangan tersebut adalah kalah WO 3-0 bagi Mitra Kukar yang berarti kemenangan dan tambahan poin bagi Bhayangkara.

Tambahan 2 poin membuat Bhayangkara FC berada pada posisi puncak klasemen Liga 1. Mulus betul tim ini menikung Bali United dari puncak klasemen layaknya peserta ujian SIM yang lulus ujian zig-zag. Sudah jelas siapa yang marah-marah dengan situasi ini, suporter Bali United. Tapi, seperti yang ibu saya bilang, ngamuk kepada pak polisi itu buang-buang tenaga. Tidak ada gunanya.

Kapten PSM Makassar Hamka Hamzah ikut angkat suara. Menurutnya, keputusan tersebut membuat laga antara PSM Makassar vs Bali United yang dilangsungkan sehari sebelumnya cuma laga uji coba. Padahal di laga itu, kedua tim berjuang mati-matian agar peluang juara tetap terbuka. “Kita dikerjai,” katanya.

Sehari setelah surat tilang dikirim Komdis PSSI, Bhayangkara FC bertandang ke kandang Madura United. Lagi-lagi situasi menguntungkan bagi Bhayangkara FC karena Emyu KW Madura ini sedang terkena sanksi larangan bermain di hadapan penonton. Namun, suporter mereka cukup cerdik dengan merencanakan nobar di depan stadion.

Apa boleh buat, orang bisa merencanakan, pak polisi yang menentukan. Suporter MU yang menamakan diri “K-Conk” tidak diperbolehkan mengadakan nobar di area stadion. Flare dan smoke bomb juga disita dengan alasan keamanan. Kabarnya, sebelum itu K-Conk sempat ditawari untuk mengadakan nobar di polres namun mereka menolak.

Setelah itu pak polisi mulai berdatangan ke area stadion lokasi K-Conk berkumpul, jumlahnya yang tidak sedikit. Mungkin karena undangan nobar di polres ditolak, pak polisi berinisiatif memilih jemput bola, menemani suporter Madura nobar. Sungguh mulia~

Ketika pertandingan di dalam stadion dimulai, lha kok jumlah polisinya berkurang? Ternyata mereka masuk stadion, saudara-saudara. Loh, katanya tanpa penonton? Berbaik sangka saja, pak polisi masuk ke dalam stadion untuk mengamankan jalannya pertandingan yang memang akan menentukan gelar juara Bhayangkara FC.

Kalaupun sorak-sorak sedikit. anggap saja khilaf. Kenapa jumlahnya terlalu banyak? Yha terserah mereka dong, yang berhak menentukan kondisi keamanan itu mereka, sampean mau apa?

Benar saja, Bhayangkara FC berhasil menggebuk Madura United dengan skor 3-1 ditambah tiga kartu merah untuk pemain tuan rumah. Sudah menangnya sempurna, masih diganjar juara liga di musim pertama mereka ikut kompetisi pula. Warbyasa.

Usut demi usut, CEO tim ini ternyata adalah Kakorlantas. Pantas saja bisa juara, semangat pak polisi lalu lintas yang digdaya di jalanan berhasil mereka implementasikan di atas lapangan untuk menghadirkan gelar juara liga bagi tim yang lahir dari batu ini.

Kok tim yang lahir dari batu? Yha memang, tim ini kan dulunya mak bedunduk muncul dengan nama Persebaya Surabaya. Coba tanyakan saja kepada kawan-kawan Bonek, niscaya akan ditapuk cangkemmu.

Komentar
Baca juga:  Presiden FIFA Perlu Belajar dari PSSI
Kirim Artikel
No more articles