Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia

Mukhammad Nur Rokhim oleh Mukhammad Nur Rokhim
26 November 2020
A A
Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia terminal mojok.co

Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagian dari kita tentu pernah mendengar istilah “Yin-Yang” dalam kebudayaan Cina. Secara sederhana, Yin-Yang dapat didefinisikan sebagai dua kekuatan yang saling berhubungan sekaligus berlawanan akan tetapi mereka saling membangun satu sama lain.

Jika dijelaskan dalam kalimat, bisa dimaknai ada kebaikan-kejahatan, gelap-terang, kekuatan-kelemahan, dan sebagainya. Konsep ini memberikan gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang gambaran manusia itu sendiri. Manusia diciptakan memiliki kelebihan dan kekurangan yang diwujudkan dalam setiap perilakunya. Artinya, setiap manusia memiliki dua sisi yang saling terkait satu sama lain. 

Menyambung tulisan saya sebelumnya yang berjudul Kesaktian Nakula dan Sadewa dalam Cerita Pewayangan bahwa keduanya adalah tokoh penyeimbang secara makro dari ketiga saudaranya, maka pada tulisan ini kita akan menyelami lebih dalam lagi tentang keseimbangan yang ada dalam diri ketiga kakak dari Nakula dan Sadewa.

Pertama, kita akan mengulas Puntadewa. Seperti yang diketahui oleh umum bahwa dia adalah tokoh yang sangat sederhana. Dia adalah seorang raja, tetapi pakaiannya tidak mencerminkan layaknya raja yang mengenakan mahkota atau baju kebesarannya. Bahkan sebelum ia dinobatkan sebagai raja, dia justru membuang sebagian perhiasan yang dia pakai.

Selain itu, tokoh satu ini dikenal dengan sifatnya yang sabar tanpa batas. Difitnah dengan bahasa apa pun, baik dengan cacian atau makian, dia tidak akan membalas mencaci dan memaki. Dalam benaknya, manusia mengalami sifat-sifat kodrati seperti mendapatkan ujian, cobaan, hinaan, dan sebagainya. Semua akan dia hadapi dengan hati sekuat baja dan seteguh batu karang.

Kenyataannya, batu karang yang ada di laut juga akan terkikis walaupun sedikit. Begitu juga kesabaran yang ada pada diri Puntadewa. Dalam kondisi tertentu saat tidak mampu membendung emosinya, dia bisa mengubah wujudnya menjadi raksasa besar yang menakutkan. Kalau sudah marah, tidak ada yang mampu mengalahkan, termasuk para dewa di Suralaya. Dia bisa sadar kembali ketika dia insaf atau dikalahkan oleh Krisna yang tengah berwujud raksasa.

 

Watak Puntadewa ini memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap orang penyabar juga memiliki batas saat dia tidak mampu menggunakan kesabaran untuk meredam emosi dan tekanan pikiran. Maka, kedua sifat antara marah dan sabar itu pasti ada dalam diri manusia. Hanya saja proporsinya yang berbeda-beda. Layaknya keseimbangan yang dimaknai dari Yin-Yang.

Baca Juga:

Budaya di FBSB UNY: Sekadar Tambahan Nama atau Beneran Punya Makna?

Ganti Nama Tidak Menjamin Apa-apa, Bajingan Tetaplah Bajingan sekalipun Ganti Nama Seribu Kali

Kedua, dalam diri Werkudara atau Bima ternyata juga terdapat perangai yang halus. Kita memahami bahwa Werkudara atau Bima itu adalah orang yang kasar, keras kepala, idealisme, dan sebagainya. Bahkan, dalam kondisi tertentu dia juga tidak segan-segan untuk bertindak “mara tangan” kepada siapa pun yang dianggap melanggar aturan. Dalam perang Baratayuda, dia membunuh sebagian besar panglima perang kurawa.

Di balik itu semua, tokoh ini juga memiliki watak yang halus, lembut, bijak, bahkan terkesan memiliki sikap “keibuan”. Saat Abimanyu lahir, dia amat mencintai keponakannya itu sampai-sampai dia menganggap Abimanyu seperti Gatotkaca. Maka, dia amat terpukul perasaannya dalam Perang Baratayuda ketika Abimanyu dan Gatotkaca gugur di peperangan.

Sikap bijak seorang Werkudara tampak jelas tatkala dia berkelana kemudian menjadi brahmana bernama Bimasuci. Tidak tanggung-tanggung, brahmana sekelas Hanoman pun juga berguru kepadanya. Hal ini disebabkan dia mengetahui akan prinsip-prinsip kebenaran hidup yang didapat saat dia tenggelam dalam Samudra Minangkalbu dan bertemu Dewa Ruci. Dari keempat saudaranya, dialah yang mengetahui ilmu “Sangkan Paraning Dumadi” itu.

Konsep ini memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa tidak selamanya orang yang berwatak keras atau temperamental itu kasar dan masa bodoh. Tetapi, orang yang demikian juga memiliki sikap kebijaksanaan yang patut diacungi jempol. Idealisme yang ada dalam diri orang tersebut mampu mengarahkannya untuk melakukan suatu tindakan. Tinggal pandai-pandai saja manusia menggunakan prinsipnya itu untuk apa tujuannya.

Tokoh ketiga adalah Arjuna. Arjuna dikenal sebagai orang yang sakti mandraguna dengan pusaka-pusaka saktinya yang teramat banyak. Pusaka-pusaka ini diperoleh dari anugerah dewa karena dia sangat kuat dan teguh dalam bertapa. Dalam cerita Arjunawiwaha, diceritakan dalam pertapaannya itu dia digoda oleh 40 bidadari. Tetapi, Arjuna tetap pada samadinya itu.

Keteguhan hati dari Arjuna juga berbanding lurus dengan sikap Arjuna saat mengalami cobaan. Bagi Arjuna, ujian yang paling berat adalah wanita. Satu hal yang masih menjadi keinginannya adalah Banowati. Walaupun dia sudah memiliki banyak istri, dia masih tetap mencintai Banowati walaupun sudah diperistri oleh Duryudana. Hingga akhir Baratayuda, dia masih berharap Banowati mencintainya.

Cerita ini memberikan gambaran bahwa manusia sekuat apa pun mengekang hawa nafsu ada kalanya goyah karena bujukan nafsu pula. Hal inilah yang kemudian memberikan pelajaran bagi kita untuk pandai-pandai “ngegas” dan “ngerem” diri kita sendiri.

Dari uraian tersebut kita bisa memahami bahwa manusia hidup dalam dua sisi. Adanya kekurangan dan kelebihan adalah hal yang pasti dimiliki oleh manusia dan tidak bisa ditolak. Hal yang terpenting adalah menempatkan kelebihan dan kekurangan tersebut pada tempat dan proporsinya sehingga bisa saling melengkapi tanpa harus berkontradiksi satu sama lain. Ini juga yang terdapat pada konsep Yin-Yang dan menjelaskan apa itu keseimbangan. Pada dasarnya cerita dan kisah-kisah seperti pewayangan dan mitologi juga mengajarkan kita banyak hal. Yin-Yang dan sifat-sifat yang ada dalam diri Pandawa memang mengandung nilai yang serupa.

BACA JUGA Alasan Memboikot Produk untuk Menyuarakan Ketidaksetujuan Itu Tidak Tepat dan tulisan Mukhammad Nur Rokhim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2020 oleh

Tags: Budayacerita wayang
Mukhammad Nur Rokhim

Mukhammad Nur Rokhim

Juru Pikir di Pendhapa Kabudayan.

ArtikelTerkait

3 Kebiasaan di Kampus (yang katanya) Merdeka, tapi Membuat Mahasiswa Tidak Merdeka

3 Kebiasaan di Kampus (yang katanya) Merdeka, tapi Membuat Mahasiswa Tidak Merdeka

18 Agustus 2024
es teh

Tak Ada Es Teh di Batam?

6 September 2019
Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia terminal mojok.co

Surat Bambang Sumantri untuk Bambang Sukrasana: Dua Staf Milenial Rezim Arjunasasrabahu yang Beda Nasib

2 September 2020
Evolusi Nama Orang Jawa_ Mulai dari Paijo hingga Vairus Abdul Covid terminal mojok

Evolusi Nama Orang Jawa: Mulai dari Paijo hingga Vairus Abdul Covid

22 April 2021
Budaya di FBSB UNY: Sekadar Tambahan Nama atau Beneran Punya Makna?

Budaya di FBSB UNY: Sekadar Tambahan Nama atau Beneran Punya Makna?

9 April 2025
Kimono vs Yukata, Pakaian Tradisional Jepang yang Tampak Serupa tapi Kenyataannya Berbeda terminal mojok

Kimono dan Yukata, Pakaian Tradisional Jepang yang Tampak Serupa tapi Kenyataannya Berbeda

7 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Gen Z Bernama Sri- Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu (Unsplash)

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

21 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

25 April 2026
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

Kebumen: Banyak Pantainya, tapi Belum Jadi Primadona Wisata Layaknya Yogyakarta

21 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal
  • Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang
  • Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah
  • Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY
  • Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius
  • Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.