Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Penyebab Malam Satu Suro Dianggap sebagai Hari Rayanya Demit

Adi Wisnurutomo oleh Adi Wisnurutomo
13 September 2020
A A
Penyebab Malam Satu Suro Dianggap sebagai Hari Rayanya Demit tanggalan jawa arab muharam sultan agung primbon terminal mojok.co

Penyebab Malam Satu Suro Dianggap sebagai Hari Rayanya Demit tanggalan jawa arab muharam sultan agung primbon terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah industri film horor yang terkesan gitu-gitu aja, pemberian judul film horor selalu tak lepas dari unsur tradisional yang membentuk mindset di kepala orang-orang. Sejak zaman film Suzanna sampai sekarang, judul film horor banyak mengambil unsur tradisional yang kemudian dibelokkan menjadi unsur mistis. Malam Satu Suro, Jumat Kliwon, Nini Thowok, Sajen, Tembang Lingsir, dan lain-lain. Kayaknya strategi ini menjadi sarana branding yang cukup manjur untuk memikat penonton.

Perkembangan film yang demikian juga memengaruhi pola pikir masyarakat. Sejak adanya film Suzanna yang judulnya Malam Satu Suro, masyarakat punya pandangan jika pada malam tahun baru Jawa itu akan terjadi hal-hal yang mistis. Ada juga film Satu Suro yang dalam dialognya ada kalimat, “Malam satu Suro adalah hari rayanya makhluk halus.” Lho, sik sik. Kok jadi begini? Sudah pernah tahu asal usulnya malam satu Suro belum, sih?

Menurut sejarah, awal mula malam tahun baru Jawa yang bulan pertamanya disebut Sura/Suro terjadi pada tahun 1633 Masehi. Pada waktu itu Sultan Agung Hanyakrakusuma raja kerajaan Mataram ingin menggabungkan dua tanggalan. Yaitu penanggalan Saka yang akan masuk tahun 1555 dan penanggalan Hijriah yang akan masuk tahun 1043. Hal ini dilatarbelakangi oleh kerajaan Mataram yang pada saat itu adalah kerajaan Islam, namun juga tidak sedikit rakyat Mataram yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha.

Penyusunan penanggalan Jawa ini sedikit banyak mengandung unsur politik. Di satu pihak, Sultan Agung ingin membuat negeri Mataram berdaulat penuh dengan melepaskan diri dari VOC, tetapi di dalam negeri sendiri, ada perbedaan pendapat mengenai penghitungan tahun antara penganut Hijriah dan Saka.

Dalam rangka menyatukan keduanya, Sultan Agung memadukan kedua perhitungan tahun tersebut. Perhitungannya mengikuti peredaran bulan seperti tahun Hijriah sedangkan umur tahun melanjutkan tahun Saka yang sudah ada. Maka pada 8 Juli 1633 Masehi bersamaan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah. Pada saat itulah mulai digunakan perhitungan tahun Jawa yang jatuh pada “1 Suro taun Alip 1555”.

Nama-nama bulan didalamnya menggunakan nama-nama Arab yang “dijawakan”. Sedangkan nama-nama hari disesuaikan dengan bahasa Jawa. Perhitungan mengenai pasaran, wuku, pranatamangsa, serta windu yang sudah ada juga tetap diteruskan. Sehingga penanggalan yang baru ini seperti sesuatu yang baru, padahal hanya menggabungkan dua unsur lama. Jadi penanggalan ini bukan hanya untuk umat Islam, Hindu, dan Buddha tetapi milik bersama. Kedua belah pihak dapat menerima tahun yang baru ini yang oleh Sultan Agung disebut tahun Jawa karena menggabungkan dua kalender. 

Sesuai yang dikatakan almarhum M.C. Ricklefs, kalender Jawa atau yang biasa disebut dengan kalender Sultan Agungan ini adalah kalender paling rumit di dunia. Prinsip kalender Sultan Agungan ini tidak hanya mengenal sistem 7 harian/seminggu, bulan, dan tahun. Namun juga menggunakan sistem 5 harian atau pancawara/pasaran yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Jadi bukan mistis ya, ini juga nama hari biasa.

Sistem 6 harian yang disebut sadwara atau paringkelan yang terdiri dari Tungle, Aryang, Wurukung, Paningron, Uwas, dan Mawulu.

Baca Juga:

4 Salah Kaprah Jurusan Sejarah yang Terlanjur Melekat dan Dipercaya Banyak Orang

Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna

Sistem 7 harian atau saptawara terdiri dari: Akad/Radite, Senin/Soma, Selasa/Anggara, Rebo/Buda, Kemis/Respati, Jumat/Sukra, Sebtu/Tumpak.

Sistem 1 bulan yang terdiri dari 29-30 hari. Dengan masing-masing nama bulannya adalah Suro (Muharam), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadil Awal (Jumadil Awal), Jumadil Akir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadan), Sawal (Syawal), Dulkangidah/Sela (Dzulkaidah), Besar (Dzulhijjah).

Selain itu masih ada sistem 8 harian atau disebut asthawara dan 9 harian yang disebut padangon. Ada pula siklus yang dihitung seminggu sekali sebanyak 35 minggu yang disebut wuku, siklus 8 tahunan yang disebut windu, 1 windu memiliki nama tahun yang berbeda-beda. Masih ada lagi siklus 4 windu. Lalu ada sistem pranata mangsa yang biasa digunakan acuan oleh petani yang menggunakan hitungan matahari yang dibagi sekitar 23-43 hari.

Karena banyaknya sistem perhitungan, horoskop penanggalan Jawa ini jauh lebih lengkap, kompleks, dan detail dalam membagi hari dan waktu dibandingkan dengan zodiak dalam kalender Gregorian yang hanya membagi menjadi 12 bintang.

Berbeda dengan kalender Islam yang setiap bulan baru dapat disesuaikan dengan melihat bulan sesungguhnya dengan metode rukyat, kalender Sultan Agungan menggunakan metode hitung pasti. Kapan tiba tanggal 1 Suro sudah dapat ditentukan jauh-jauh tahun bahkan windu.

Lalu mengapa malam satu Suro dianggap mistis? Padahal hari ini juga sama dengan kalender yang lain. Sebenarnya 1 Suro sama dengan 1 Muharam. Mengapa 1 Muharam kita rayakan dengan begitu mewah namun ketika disebut “malam satu Suro” justru dianggap sebagai hari rayanya makhluk halus? Padahal jatuhnya 1 Suro itu sama dengan 1 Muharram.

Keduanya sama-sama hasil olah pikir manusia tentang ilmu astronomi. Kalau kata Cak Nun “Angger saka Arab halal, angger saka Jawa haram.” Artinya, ‘Kalau dari Arab halal, kalau dari Jawa haram.’

Kita mungkin belum bisa menangkap nasehat dari orang tua dulu. Kebanyakan orang tua Jawa memberitahu anak cucunya jangan main-main waktu bulan Suro, akeh demite. Itu bukan berarti harus ditelan mentah-mentah bahwa bulan Suro itu banyak demitnya. Kebiasaan orang Jawa dulu, tahun baru itu untuk sarana refleksi. Menengok apa yang sudah terjadi untuk bekal ke depan.

Sama halnya jika dulu anak-anak disuruh bermain ketika bulan purnama. Bukan hanya bulan purnama itu dulu dianggap sebagai sumber penerangan, namun kita lihat juga apa yang dilakukan orang-orang tua. Mereka ada yang kungkum (berendam), semedi di senthong tengah, dan lain-lain. Untuk apa? Untuk refleksi juga.

Sadar nggak ketika bulan purnama kadang emosi kita ikut labil? Lha wong air laut aja pasang waktu bulan purnama, apalagi manusia. Maka dari itu, anak-anak disuruh senang-senang, sedangkan yang dewasa kesempatan untuk menenangkan diri.

Jadi, berhentilah mengerdilkan malam satu Suro. Jangan menganggap warisan leluhur itu sesuatu yang kuno hasil ijtihad dengan genderuwo. Menganggap semua warisan simbah dulu adalah sesuatu yang mistis, horor. Dosa apa yang akan kita terima jika kita menyakiti hati orang tua? Sudah tidak mau belajar, mengolok-olok lagi.

BACA JUGA Kisah Kelinci di Bulan dalam Kebudayaan Jawa dan Dunia dan artikel Adi Wisnurutomo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2020 oleh

Tags: Budayasejarah
Adi Wisnurutomo

Adi Wisnurutomo

Ngwang pwatyanta wimudha

ArtikelTerkait

es teh

Mengapa Air Putih Kalah Pamor Dibanding Es Teh Manis?

12 Juli 2019
Rewang, Kegiatan Prahajatan dengan Nilai Gotong Royong yang Sarat Rerasan

Rewang, Kegiatan Prahajatan dengan Nilai Gotong Royong yang Sarat Rerasan

31 Agustus 2020
Warung Kopi, Tempat yang Nggak Bisa Dipisahkan dari Kehidupan Orang Aceh

Warung Kopi, Tempat yang Nggak Bisa Dipisahkan dari Kehidupan Orang Aceh

28 Juli 2023
Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna

Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna

30 Oktober 2025
Pengalaman Saya Saat Hendak Wawancara Polisi di Tengah Aksi terminal mojok.co

Mengenang Hoegeng, Polisi Jujur yang Pernah Disebut Gus Dur

14 Oktober 2020
Evolusi Nama Orang Jawa_ Mulai dari Paijo hingga Vairus Abdul Covid terminal mojok

Evolusi Nama Orang Jawa: Mulai dari Paijo hingga Vairus Abdul Covid

22 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

8 Maret 2026
4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya Terminal

4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya

9 Maret 2026
Lulus S2 dan Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, padahal Peluang Jadi Akademisi di Surabaya Nggak Kalah Menarik Mojok.co

Lulusan S2 Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, Seolah-olah Nggak Ada Harapan Jadi Akademisi di Surabaya

10 Maret 2026
Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet Mojok.co

Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet

14 Maret 2026
ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal Mojok.co

ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal

10 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi
  • User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol
  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.