Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jenderal Besar H.M. Soeharto: Syuramkan Nasib si Merongos!

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
2 Oktober 2015
A A
Jenderal Besar H.M. Soeharto: Syuramkan Nasib si Merongos!

Jenderal Besar H.M. Soeharto: Syuramkan Nasib si Merongos!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ya, Jenderal Besar H.M. Soeharto adalah pemimpin besar dalam operasi pembantaian massal kaum kominis 1965 di seantero Jawa dan Bali, yang sekaligus jadi jalan pembuka pelengseran si Macan Asia-Afrika. Jika Panglima Besar Sukarno menjadi penggali Pancasila, maka Jenderal Besar Soeharto lewat 1 Oktober memaklumkan dirinya menjadi penyuci Pancasila agar tetap sakti. Cuma itu saja? Tentu saja tidak.

Jenderal Besar H.M. Soeharto adalah juga pemimpin tertinggi militer dalam operasi pendudukan Timor Timur—yang kemudian jadi kerikil yang mengganggu diplomasi Indonesia di luar negeri. Ya, Jenderal Besar H.M. Soeharto tahu dan merestui serdadu-serdadu loyalnya menembaki preman-preman dalam operasi petrus, serta aksi penembakan di Tanjung Priok, dan Talangsari.

Iklan

Anda bisa menganggukkan kepala seraya berkata ya, ya, ya, dan ya bila terus menderet segala macam peristiwa yang berurusan dengan intimidasi, pembunuhan, dan pembantaian,yang dilakukan secara sistematis dengan melibatkan lalar ijo dan aparatus birokrasi.

Tapi yang paling diingat banyak orang tentu saja cerita pembantaian massal di tahun 1965, yang ndilalah-nya pada pekan ini justru benturan antara PKI dan NU yang ramai dibicarakan. Aneh, kenapa jadi NU yang repot? Sementara Jenderal Besar tinggal hora-hore di Karanganyar, Golkar yang jadi kapbir berdekade-dekade cuma mesem-mesem, dan serdadu didikan Orde Baru—yang memprovokasi mempersenjatai kaum santri untuk maju ke palagan pembantaian—anteng-anteng saja, sambil sesekali mengeluarkan komentar-komentar pancingan yang bikin kaum “Kominis Gaya Baru” senewen.

Menyingkirkan Soeharto dalam wacana ontran-ontran #50Tahun65 rasa-rasanya absurd. Maka dari itulah, izinkan saya menarik kembali Sang Jenderal Besar kembali ke pojok panggung untuk menanyainya tentang sesuatu yang sangat personal: bisikan makhluk dari mana yang membuntuti Sang Jenderal Besar hingga menjadi Raja Tega, dengan naluri menakutkan seperti itu.

Untuk mengurai soal maha besar dan meminta tumbal kematian luar biasa besar dalam sejarah itu, Anda saya ajak kembali ke kampung halaman Sang Jenderal Besar saat ia berusia delapan tahun. Nama kampungnya Kemukus Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, di sebelah barat Kota Yogyakarta.

Di kampung itulah kaca benggala penuh debu teronggok. Duh, si Jenderal Besar sebetulnya tak mau mengingat-ingat, saking syuramnya hidup di Kemusuk itu. Sejak bayi si Jenderal Besar tak disusui bundanya, Sukirah, karena si bunda sakit-sakitan. Ia juga tak mencicipi kasih sayang Kertosudiro, ayahnya. Sebelum kawin dengan Sukirah, ulu-ulu air ini adalah duda beranak dua.

Ayah dan Ibunya lalu cerai tak lama setelah si Jenderal Besar lahir. Masing-masing mencari dan mendapatkan pasangan baru. Sukirah kawin lagi dengan Atmopawiro dan memiliki tujuh anak. Kertosudiro kawin juga dan beroleh tambahan empat anak. Dan tinggallah si Jenderal Besar merasai ganasnya hidup tanpa kasih penuh dari kedua orang tuanya. Ia tanpa daya kemudian berada dalam pengasuhan Mbah Kromodiryo.

Sudah keluarga berantakan begitu, eh datanglah si syaiton yang menyempurnakan kesyuraman hidup si Jenderal Besar. Si Jenderal Besar menyebut si syaiton jelek rupa yang membulinya: si Merongos.

Si Merongos ini terasa begitu istimewa. Dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), Si Merongos ini satu-satunya orang yang digambarkan dan ditekankan sebagai “pembikin kesal” saat si Jenderal Besar melakukan kilas-balik masa kanak-kanak. Dengan dingin dan lirih, si Jenderal Besar menggambarkan bagaimana si Merongos ini hadir begitu saja dalam kehidupannya:

“Saya ingat terus kepada seseorang yang jelek rupanya, merongos dan mengece, mencemooh saya. Ia itu teman main gundu. Tetapi umurnya sudah lebih tua daripada saya. Ia mengajak teman-teman lain agar mengece saya. Mereka memanggil-manggil saya dengan sebutan ‘Den bagus tahi mabul!’ (tahi kering) karena ada hubungan ‘sentono’, pengawas Keraton, maka mBah Notosudiro dan Ibu Sukirah masih dipanggil Den. Begitu juga saya sering dipanggil ‘Den’. Padahal saya sendiri tidak mau dipanggil begitu. Saya katakana kepada teman-teman, bahwa mereka tidak perlu memanggil saya dengan ‘Den’. Saya selalu menolak untuk dipanggil begitu. Tetapi mereka terus juga menjengkelkan saya.

‘Bagaimana ini, apakah mengejek atau mau bergurau saja dengan memanggil-manggil Den, Den bagus tahi mabul kepada saya?

‘Waktu itu saya berumur delapan tahun dan punya pikiran barangkali ia iri hati. Barangkali ia mengejek saya dan berpikir, mengapa saya anak orang melarat dipanggil-panggil Den juga. Saya jadi merasa sedih. Saya sebagai orang yang tidak punya, masih juga diejeknya. Tetapi saya tidak mengadu kepada siapa pun sewaktu mengalami kejadian ini.”

Baca ulang kalimat terakhir dari kutipan itu: “saya tidak mengadu kepada siapa pun sewaktu mengalami kejadian ini”. Lalu dikemanakan sakit hati itu? Dikemanakan lagi kalau nggak di-pendam. Ketika p diganti d, maka berubah jadi dendam.

Demikianlah, Jenderal Besar selalu merasa dikuntiti terus oleh bayangan si Merongos yang memanggilnya Raden taek. Bila Anda percaya memori masa kanak-kanak akan terbawa-bawa dan menjadi pembisik abadi ketika seseorang berada dalam situasi genting mengambil suatu tindakan, maka memori perjumpaan antara runyamnya tali kasih keluarga dan kesyuraman jiwa akibat perundungan (bullying) itulah yang membeku di otak belakang si Jenderal Besar.

Kalau dirumuskan menjadi lirik, lebih kurang seperti ini lirik nazar si Jenderal Besar: yaoloh, jika Engkau beri kekuasaan, akan  saya alih-fungsikan tugasku menjadi sesuatu daripada kewajiban untuk mengalahkan si Merongos itu. Dengan jalan daripada apapun, si Merongos taek itu harus mati.

Sebagaimana senyum si Jenderal Besar yang selalu menyimpan kode berlapis-lapis, si Merongos-Tanpa-Nama-Yang-Pasti adalah kode tentang sesuatu yang begitu menyakitkan: siapapun yang keberadaannya mengancam, mengganggu, dan bikin cemas kedudukan si Jenderal Besar adalah golongan merongos. Dan bagi si Jenderal Besar, sanksi satu-satunya yang tepat buat kaum merongos yang hidup seperti zombie ini adalah jagal. Sanksi paling ringan ya nasibnya dibikin selalu berada di titik nadir, di bawah lipatan taek mabul. Atau bahasa khasnya ya di-Tapol-kan.

Si Merongos yang suka mengganggu kemapanan itu banyak namanya. Mula-mula PKI yang dibantai sampai ke cindil-cindhil-nya. Lalu jurnalis-jurnalis cerewet yang sebelumnya sama-sama membantunya memusnahkan komunis, juga disikatnya pada 1974. Eh, organ-organ Islam yang tahun 1965 mesra dengannya, diburunya juga pada tahun 1984, karena makin ke sini dianggapnya makin ngehek dan rewel, seperti PII, HMI MPO, dan tentu saja aktivis masjid di kampus ITB, UGM, UI, dan IPB.

Begitulah, bagi Jenderal Besar golongan merongos HARUS abadi sebagai orang kalahan dalam sejarah. Dan orang-orang kalahan itulah yang saat ini terus menyikut PKI sebagai bangkai sejarah—yang lucunya sudah gak ada bentuknya, sudah jadi hantu. Bersilat dengan sang hantu, dan melupakan si Jenderal Besar? Saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Sesama orang kalahan kok saling memakan!

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2017 oleh

Tags: #50Tahun65G 30/SSoeharto
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Nasib buruh usai Marsinah jadi pahlawan nasional. MOJOK.CO

Suara Hati Buruh: Semoga Gelar Pahlawan kepada Marsinah Bukan Simbol Semata, tapi Kemenangan bagi Kami agar Bebas Bersuara Tanpa Disiksa

12 November 2025
Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional MOJOK.CO

Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional. Sejarawan: Pragmatis dan Keliru

11 November 2025
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan tapi Justru Diadili

1 November 2025
Pemerintah Tolak Uji Formil UU TNI, Bukti Suara Rakyat Tak Dianggap dan Cuma Fasilitasi Kepentingan Kekuasaan.MOJOK.CO

Humor Gelap Tentara vs Sipil yang Menghantui Indonesia

17 Maret 2025
Prabowo-Gibran.MOJOK.CO

Pak Prabowo, Sebenarnya Apa, sih, yang Sampeyan Inginkan? Cuma Sekadar Pengin Jadi Presiden?

20 Februari 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.