Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

“Serangan” Jin dan Genderuwo Amien Rais Untuk Kubu Lawan Justru Nyasar ke SBY

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
27 Maret 2019
A A
amien rais justru serang SBY MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pak Amien Rais itu cuma menjalankan tugasnya sebagai sesepuh, yaitu mengingatkan kita yang masih muda. Jin dan genderuwo itu cuma “petunjuk”.

Karena sesungguhnya, hati dan pikiran kita itu keruh dan tidak bersih. Sebuah keadaan yang bikin kita nggak bisa mencerna analogi-analogi cerdas dari Pak Amien Rais. Otak kita semua sudah kena racun survei bayaran dan media yang kotor, yang hasil pekerjaannya hanya untuk kepentingan kelompok tertentu.

Saya sangat sedih dibuatnya. Apalagi ketika mengetahui kalau Pak Amien Rais selalu dihujat oleh banyak orang setelah menyusun sebuah analogi atau istilah yang tidak lazim. Ya memang perlu diakui, analogi dan istilah bikinan Pak Amien memang tidak lazim.

Begitulah gambaran orang cerdas, cara berpikirnya tidak linear, tapi spiral, berpusing-pusing menyerempet bidang ilmu lain untuk menjelaskan sesuatu sekecil atom, tapi punya dampak yang masif dan terstruktur seperti ledakan proton di lapis stratosfer nomer 17.

Kamu paham dengan paragraf di atas? Kalau begitu saja nggak bisa memahami, kalian itu memang tidak layak mencium cincin akik di jari-jari Pak Amien. Kalian nggak layak mendapatkan blessing dari politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN) itu. Bahkan, kalian menyebut namanya saja nggak pantas.

Hanya mereka yang sudah terbuka mata batin, terbuka sumbu-sumbu linaer kehidupan yang bisa mengecup luasnya perbendaharaan kata Pak Amien.

Misalnya ketika beliau menyebut bisa tahu doa dan laporan malaikat kepada Allah SWT. Banyak yang menyebut Pak Amien keblinger, karena merasa satu tingkatan dengan malaikat. Kita semua kan tahu, untuk bisa berkomunikasi dengan malaikat, seorang manusia harus menjadi “the one”, “yang terpilih”, “ratu adil”, dan lain sebagainya.

Bahkan, Pak Amien Rais disebut sudah menista agama ketika menyebut dirinya mendengar doa malaikat. Padahal, kita saja yang kurang bijaksana, kesulitan mengikuti kecepatan berpikir Pak Amien yang mendekati kecepatan cahaya senthir itu.

Kita itu nggak mau berpikir positif dengan percaya bahwa Pak Amien Rais situ seorang polyglot. Ia menguasai banyak bahasa; Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman (kayaknya), dan Bahasa Malaikat. Pelajaran lunguistik Bahasa Malaikat sudah beliau kuasai secara tuntas.

“Ya Allah, Indonesia itu punya potensi bagus, tapi pimpinannya ugal-ugalan. Tolong ya Allah, kalahkan, tentukan kalah.”

Kalimat di atas adalah usaha Pak Amien meniru doa malaikat kepada Allah SWT. Mungkin beliau sedang trans sehingga bisa melihat kejadian di surga, ketika para malaikat mengumpulkan laporan harian yang selesai tidak selesai harus dikumpulkan.

“Insyaallah yang menang ditentukan Allah. Jadi malaikat-malaikat sudah lapor tiap hari, Allah sudah tahu, tanpa mereka lapor sudah tahu itu. Tiap malam (malaikat) lapor kepada Allah,” tegas Pak Amien.

Meskipun isi doa malaikat itu konon nggak bagus buat Jokowi, niat Pak Amien Rais nggak pernah menyerang Jokowi. Pak Amien itu sayang Jokowi. Coba perhatikan, orang sepandai Pak Amien, ngapain menyerang Jokowi secara membabi-buta? Bahkan, kamu sendiri paham kalau serangan-serangan Pak Amien itu mendegradasikan dirinya.

Namun, demi nama baik Jokowi, Pak Amien Rais rela nama baiknya rusak. Oleh siapa? Ya oleh dirinya sendiri. Itu sifat seorang martir, dengan kesabaran seperti pertapa. Ia rela dihujat, ia rela meninggikan orang lain, memuliakan orang lain, dengan merusak dirinya sendiri. Bukankah ini sifat welas asih paling paripurna?

Iklan

Nah, ketika Pak Amien merilis analoginya yang baru bertajuk “jin” dan “genderuwo”, orang menyebutnya delusi, penyembah mistis, uzur, dan lain sebagainya. Analogi ini konon digunakan Pak Amien untuk menyerang penyelenggara pemilu, dan di ujungnya, tentu saja menyerang pemerintah (Jokowi) yang diibaratkan punya cara-cara curang untuk mengalahkan Prabowo.

Jadi, Pak Amien meminta supaya perhitungan rekapitulasi hasil Pilpres 2019 jangan diadakan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Amien menolak penghitungan suara di hotel tersebut karena curiga terjadi kecurangan. Beliau menyebut kecurangan itu diperbuat oleh pihak yang dianalogikan sebagai “jin” dan “genderuwo”. “Selain DPT harus segera dibenahi, besok penghitungan hasil pemilu jangan pernah di Hotel Borobudur. Mereka banyak jin banyak genderuwo di sana,” ujar Amien seperti dikutip oleh CNN.

Apa yang dimaksud dengan “jin” dan “genderuwo”?

Pak Amien Rais menyampaikan KPU terlalu sering menjadikan Hotel Borobudur sebagai lokasi penghitungan suara tingkat nasional, dan selalu gagal menjaga keamanan penghitungan suara. “Saya tahu di sana banyak sekali hacker dan lain-lain. Jadi kita yang sadar, jangan pernah di Borobudur. Apa Borobudur itu? Lebih baik di KPU atau DPR,” ujarnya.

Banyak yang memandang Pak Amien sedang menyerang Hotel Borobudur dan KPU. Tahukah kamu, sebetulnya Pak Amien ini sedang menyentil mantan Presiden Indonesia, tak lain tak bukan: Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY. Kenapa bisa begitu?

Begini, terakhir kali perhitungan suara pemilu dilakukan di Hotel Borobudur adalah Pilpres 2009. Saat itu, SBY yang berpasangan dengan Boediono berhasil keluar sebagai pemenang. Sementara itu, pada Pilpres 2014, perhitungan suara dilakukan di kantor KPU. Pemenangnya adalah pasangan Jokowi dan Jusuf Kalla.

Pilpres 2009 diwarnai isu yang tidak sedap, salah satunya isu kecurangan IT KPU, di mana suara SBY dan Boediono mencapai 60 persen. Hotel Borobudur menjadi saksi kemenangan SBY dan Boedono. Lalu ada kasus Century juga yang masih nyerempet-nyerempet pemilu.

Bukankah dengan menyebut bahwa di Hotel Borobudur banyak “jin” dan “genderuwo” dalam bentuk hacker, Pak Amien Rais sedang berusaha menjadi detektif? Membongkar kejahatan pemilu yang sudah lalu. Ya kalaupun nggak bisa membongkar, paling tidak Pak Amien berusaha mengingatkan kita sekali lagi. Bukankah melawan lupa itu penting?

Nah, sementara itu, rekapitulasi suara Pilpres 2014 yang dilakukan di KPU sendiri tidak menemui masalah. Oleh sebab itu, Pak Amien Rais, meski dengan cara memutar, berusaha mengingatkan kita untuk pakai kantor KPU saja.

Ini sifat yang welas asih dan bijaksana. Sebagai sesepuh, memang tugas Pak Amien Rais untuk selalu mengingatkan kita-kita milenial yang tau apa sih. Jangan di-bully lagi, ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2019 oleh

Tags: Amien RaisGenderuwoJinjokowikpuPilpres 2019
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO
Malam Jumat

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.