MOJOK.COJangan terlalu kasar kepada Pak Prabowo. Tidak ada yang mau dan suka kalah. Asal, kekalahan itu diekspresikan dengan cara yang “konstitusional”, bukan ontran-ontran.

“Ketika berkompetisi, kalah atau menang adalah hal yang biasa.”

Sekilas, kalimat di atas terdengar begitu bijak. Padahal, di sisi hati terdalam kalian, di pojok paling suram dan dingin, ada hewan buas yang tidak mengizinkan kamu untuk mengakui kekalahan. orang-orang bijak menyebutnya sifat kompetitif, sifat alami manusia untuk selalu unggul dari sesama.

Menerima kekalahan bukan perkara mudah. Nggak usah munafik, deh. Apalagi kalau kamu kalah berkali-kali. Oleh sebab itu, ketika Pak Prabowo nggak mau menerima kemenangan Jokowi begitu saja, pada titik tertentu, kamu nggak bisa menyalahkan beliau.

Ingat ya, pada titik tertentu, bukan semuanya. Untuk semua orang yang berkompetisi, ya politik, ya olahraga, ya di pendidikan, tidak ada (orang yang niat berkompetisi) yang mau kalah. Atau untuk mereka yang tetap bisa bersikap profesional ketika “tidak mau menerima kekalahan”.

Yang menjadi perkara ketika Prabowo “menolak” kalah adalah pengerahan massa mengunjungi gedung KPU dan Bawaslu. Setelah sebelumnya menolak untuk mengajukan gugatan kecurangan Pemilu 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Apalagi ketika aksi 22 Mei, yang awalnya berjalan damai, pecah menjadi kerusuhan.

Prabowo dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab. Beliau dianggap hanya membiarkan kerusuhan pecah. Ketika demo masih berjalan dengan damai, Ketum Gerindra itu tidak membuat pernyataan yang tegas. Tegas berkata kepada massa aksi 22 Mei untuk segera membubarkan diri setelah buka puasa. Misalnya begitu.

Baca juga:  Dari Ibrahimovic Hingga Luis Figo, Inilah Para Sandiaga Uno di Lapangan Hijau

Situasi semakin runyam ketika Prabowo dan para pendukungnya justru seperti “membakar” suasana. Yah, lengkap sudah bahan baku untuk membuat ontran-ontran. Apalagi ditambah adanya tiga massa dari luar Jakarta yang datang menjelang pukul 23.00 untuk memulai kerusuhan. Pak Prabs makin disudutkan.

Kenapa sih Pak Prabowo sampai segitunya? Aris Santoso, dalam kolomnya di Tirto memberikan penjelasan.

“Bagi orang seperti Prabowo, dengan latar belakang nama besar keluarga dan segala kejayaannya di masa lalu, menjadi runner-up bisa jadi menyakitkan. Ini memang soal psikologis: tidak semua orang sanggup menerima kekalahan,” tulis Aris.

“Jejak lain yang juga dibawa Prabowo ke panggung politik adalah rivalitasnya yang terus berlanjut dengan koleganya sesama perwira. Saat masih aktif berdinas dulu, Prabowo selalu ingin unggul dan itulah yang menjadikan rivalnya juga banyak. Salah satu rivalnya itu adalah Luhut Panjaitan (lulusan terbaik Akmil 1970). Tampaknya Prabowo sangat terobsesi untuk “mengalahkan” Luhut,” lanjut Aris.

Jadi, demi nama besar dan rivalitas, mantan menantu Soeharto itu terus melaju, menabrak “sportivitas” dengan tidak mengakui kemenangan Jokowi secara “konstitusional”. Maksudnya jelas, kalau merasa ada kecurangan, sudah ada jalur yang disediakan oleh Undang-Undang, tanpa perlu mendukung ontran-ontran.

Begini lho, meskipun kalah berkali-kali, nama besar Prabowo tidak akan terluka. Beliau membesarkan Gerindra hingga menjadi partai besar dan diperhitungkan saja sudah sangat baik. Itu wujud kerja cerdas dan determinasi kuat dari seorang politikus. Ya buat yang nggak mau mengakui, mungkin perlu cuci muka dan bangun dari tidur.

Baca juga:  Prabowo yang Katanya Anti Asing, Pakai Asing, Lalu Diprotes Asing

Kesalahan terbesar dari orang yang menerima kegagalan adalah saat mereka menganggap diri pecundang. Dalam situasi seperti ini, mereka akan menganggap kekalahan adalah hal yang memalukan. Akibatnya, orang akan takut kalah dan tidak mempersiapkan diri untuk takluk pada lawan.

Namun, di sudut hati paling dalam, siapa sih yang siap untuk kalah seperti Prabowo. Perasaan itu terasa dari komentar dan sikap orang yang kalah. Misalnya ketika Barcelona dipecundangi Liverpool di Liga Champions. Unggul agregat 3-0, Barcelona akhirnya kalah dengan skor 4-0. Agregat berbalik dan Liverpool lolos ke final.

Beberapa hari setelah kalah, Gerard Pique berbicara kepada wartawan. Ia berkata bahwa kekalahan memalukan dari AS Roma tahun lalu punya dampak kepada penampilan mereka ketika Liverpool sudah unggul agregat. Apa yang bisa kamu baca dari pernyataan Pique? Ya, itu alasan saja. Manusia mencari sesuatu untuk berlindung dari rasa inferior.

Atau yang paling sederhana saja. Ketika main FIFA atau PES, kamu dibantai dengan skor 5-0. Yang terlontar adalah alasan-alasan klasik seperti “Stiknya rusak, nih!” atau “Tombolnya eror, nih!” atau “Wasit e Emyu!”.

Beralasan adalah reflek manusia untuk tidak mau mengakui kekalahannya. Dan itu perlu kamu ketahui, sangat manusiawi. Jadi, jangan terlalu kasar kepada Pak Prabowo. Tidak ada yang suka kalah. Yang ada adalah orang berduit yang nggak terima dan bisa bikin demo. Ada yang miskin kayak kamu yang cuma bisa mengeluh. Ya sama, kayak saya. Heuheuheu…



Loading...



No more articles