MOJOK.COBeredar rumor yang menyebutkan bahwa PAN akan bergabung dengan koalisi Jokowi. lalu, bagaimana posisi Ki Amien Rais atas Jokowi sebenarnya?

Namanya juga politik. Sudah jamak terjadi, ketika subuh masih menjadi lawan sengit, menjelang maghrib, berpelukan dan udud bareng. Lawan jadi kawan, begitu pula sebaliknya. Tidak ada yang abadi di politik selain lobi dan perubahan itu sendiri. Terakhir, PAN, Jokowi, Amien Rais, dan Moeldoko berpusar dalam narasi yang menarik.

Kamis, 25 April 2019 yang lalu, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno menegaskan, partainya tetap konsisten berada di Koalisi Adil Makmur atau Koalisi Pendukung Prabowo dan Sandiaga Uno. “Kami tetap konsisten berada di Koalisi Adil Makmur. Jangan percaya rumor,” tegasnya!

Eddy Soeparno sampai harus bikin penegasan lantaran muncul rumor yang kencang menyebut bahwa PAN akan hengkang dari barisan partai pendukung Prabowo untuk hijrah ke koalisi Jokowi. Rumor ini lahir setelah Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, bertemu dengan Jokowi di Istana Negara beberapa hari yang lalu.

Menurut Eddy, pertemuan Zulkifli dengan Jokowi dilaksanakan dalam rangka pelantikan Gubernur Maluku, Murad Ismail. Sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), kata Eddy, Zulkifli juga wajar bertemu Presiden Jokowi.

Nah, yang betul-betul menggugah adalah, satu hari kemudian, atau pada Jumat, 26 April 2019, Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN), Moeldoko, menilai PAN sangat mungkin kembali berkoalisi dengan parpol pendukung Jokowi. Menurutnya, politik itu dinamis dan tidak ada yang stagnan. Perlu kamu ketahui, PAN pernah empat tahun menjadi pendukung petahana.

Ada dua hal menarik dari situasi ini. Pertama, Moeldoko menggunakan istilah “sangat mungkin”, seakan-akan jalan bergabungnya PAN sudah sangat terbuka. Meskipun kita ketahui, politik adalah soal diksi dan lip service. Kedua, bagaimana jadinya pujaan kita bersama, guru bangsa, panutan, guru yang digugu dan dituru, Ki Amien Rais?

Ketika partainya akhirnya memutuskan bergabung ke gerbong petahana, bagaimana nasib Ki Amien Rais yang saat ini memegang jabatan sebagai Ketua Dewan Kehormatan? Apakah blio harus mundur? Toh tahun lalu, lima pendiri PAN sempat mendesak Ki Amien Rais untuk mundur.

Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad, Toeti Heraty, dan Zumrotin pernah meminta Ki Amien Rais mundur. Ada lima alasan para pendiri PAN meminta blio mundur.

Pertama, dianggap semakin eksklusif dan tidak menumbuhkan kerukunan bangsa. Kedua, sebagai tokoh reformasi, Ki Amien dianggap bersimpati, mendukung, dan bergabung dengan politisi yang beraspirasi mengembalikan kekuatan Orde Baru. Ketiga, menjadikan agama sebagai alat politik untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan.

Baca juga:  Beda Dengan Hasil Hitungan PKS, Prabowo Klaim Sudrajat-Syaikhu Menang di Pilgub Jabar

Keempat, gagal mencerdaskan bangsa dengan ikut mengeruhkan suasana dalam negeri dalam menyebarkan berita yang jauh dari kebenaran tentang kebangkitan PKI di Indonesia. Kelima, terkesan berat menyerahkan kepemimpinan PAN kepada generasi berikutnya dengan terus menerus melakukan manuver politik yang destruktif bagi masa depan partai.

Apakah Ki Amien Rais memang begitu? Hmm…kok saya nggak yakin. Nggak mungkin, tokoh yang revolusioner dalam membuat istilah-istilah menggigit bisa berlaku negatif begitu. Sebagai tokoh yang dekat dengan Allah, tidak mungkin Ki Amien ingin merusak tatanan bangsa ini. Apakah kalian tidak memikirkannya secara mendalam dan curiga, jangan-jangan, Ki Amien tengah mendorong Jokowi untuk menang Pilpres 2019 dengan segala petunjuknya?

Mojok Institute sih yakin dengan alasan itu. Sebagai Bapak Reformasi, pemikiran Ki Amien sudah jauh meninggalkan zamannya. Kita begitu tertinggal dengan segala pemikiran-pemikirannya. Blio adalah legenda, patut dibikinkan patung di Bundaran UGM atau di perempatan Jalan Kaliurang.

Kalian tidak percaya? Begini alasannya:

Soal Nawacita dan Nawasengsara

Ki Amien Rais pernah menyebut program Nawacita Jokowi sebagai program yang gagal. Blio menciptakan isitilah “Nawasengsara”. Cakep betul. Kalau dibikin desain kaos pasti laku keras.

“Nawacita jadi nawasengsara, kemudian revolusi mental itu sampai kemana? mental yang kayak apa? jadi itu yang menyebabkan bahwa kita harus berani menerobos ke pemikiran yang lebih baru,” ungkap Ki Amin seperti dilansir oleh Tirto.

Banyak yang merundung Ki Amien karena kritikan tersebut. Banyak yang tidak bisa memahami makna tersirat dari ungkapan “Nawasengsara”. Kalian tidak tahu bukan kalau Ki Amien itu sebetulnya bukan mengkritik Jokowi tapi kita semua!

Salah satu poin dari sembilan program Jokowi yang disebut Nawacita berbunyi demikian: “Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.”

Buat kalian yang malas, kalian lah yang sedang dikritik oleh Ki Amien. Bangun pagi saja susah, apalagi mau bekerja keras. Mencuci gelas dan piring yang sudah digunakan saja berat. Bagaimana mau maju bangsa ini? Jokowi sih jelas bekerja keras, tapi kalau rakyatnya nggak mendukung ya nggak bisa dong. Itu!

Soal jin dan genderuwo

Ki Amien Rais pernah mengungkapkan bahwa di Hotel Borobudur itu banyak jin dan genderuwo. “Selain DPT harus segera dibenahi, besok penghitungan hasil pemilu jangan pernah di Hotel Borobudur. Mereka banyak jin banyak genderuwo di sana,” kata Ki Amien memberikan early warning. Ini juga dianggap imajinasi belaka. Seorang yang linuwih memang selalu dianggap sok tahu dan sok bijak. Dasar kalian mamalia nggak peka.

Baca juga:  5 Kemiripan Bursa Capres dan Cawapres Jokowi Prabowo dengan Deadline Day Liga Inggris

Ini adalah pesan yang sungguh bijaksana dari Ki Amien. Blio memperingatkan para petugas KPU, sekaligus Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin bahwa ada banyak jin dan genderuwo. Kita harus banyak-banyak berdoa, berzikir, ingat kepada Tuhan supaya iman selalu kuat. Subhanallah, indahnya. Bukankah semua pemuka agama pasti mengingatkan kalian akan godaan jin? Kalau Ki Amin saja yang bilang langsung kalian serang.

Soal doa malaikat supaya Jokowi kalah

“Ya Allah, Indonesia itu punya potensi bagus, tapi pimpinannya ugal-ugalan. Tolong ya Allah, kalahkan, tentukan kalah.” Kalimat tersebut adalah usaha Ki Amien Rais meniru doa malaikat kepada Allah SWT.

“Insyaallah yang menang ditentukan Allah. Jadi malaikat-malaikat sudah lapor tiap hari, Allah sudah tahu, tanpa mereka lapor sudah tahu itu. Tiap malam (malaikat) lapor kepada Allah,” tambahnya.

Bagaimana Ki Amien tahu isi doa malaikat kepada Allah? Ya itulah bagian dari karomah dirinya. Itu hasil dari perenungan yang panjang dan lantunan doa-doa Ki Amien di sepertiga malam yang dijawab oleh Allah.

Lagipula, “guru kebatinan” tidak akan memberikan petunjuk begitu saja kepada murid-muridnya. Para murid harus mencari sendiri jawabannya, lewat proses yang panjang, lewat jalan kedewasaan batin untuk menemukan jawaban paling paripurna.

Perlu kalian ketahui, doa yang ditirukan oleh Ki Amien itu belum selesai. Begini lengkapnya:

“Ya Allah, Indonesia itu punya potensi bagus, tapi pimpinannya ugal-ugalan. Tolong ya Allah, kalahkan, tentukan kalah…”

Lanjutannya: “…Tentukan kalah, Jokowi kalah. Kalahkan sifat-sifat sombong, iri hari, dengki, dan kalahkan sifat lalai dengan kesejahteraan rakyat. Ya Allah, biarkan Jokowi kalahkan godaan untuk korupsi dan kecurangan yang Terstruktur, Sistematis, dan Masif. Ahh, maaf ya Allah, kalau itu untuk Pak Prabowo. Dekatkanlah persahabatan Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Demi kedamaian nusa dan bangsa. Amin.”

Mengalir deras air mata saya mendengar doa itu. Sungguh, Ki Amien Rais ini saya rasa sangat sayang kepada Pak Jokowi.