• 51
    Shares

MOJOK.COIMF-WB yang menjadi bahan perdebatan netizen budiman Indonesia itu juga perlu membahas 4 hal penting di luar isu ekonomi. Apa saja? Let’s go!

Mulai tanggal 12 Oktober 2018, dan akan berakhir 14 Oktober 2018, IMF-WB atau International Monetary Fund and the World Bank Group, digelar di Nusa Dua, Bali. IMF-WB merupakan pertemuan terbesar dunia dalam bidang ekonomi dan keuangan.

Pertemuan yang total pesertanya mencapai 15 ribu orang ini dihadiri Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan dari 189 negera, serta sektor privat, akademisi, NGO, dan media. Seperti hampir semua hal di dunia, ada pro/kontrak terkait penyelenggaraan IMF-WB.

Mulai dari besarnya biaya yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia untuk menjadi tuan rumah yang baik, hingga pandangan yang menyertai nama IWB-MW itu sendiri. Salah satunya adalah pendapat Toto Rahardjo, penulis sekaligus peneliti yang mendirikan Sanggar Anak Alam dan INSIST, bahwa IMF dan WB merupakan salah satu agen yang memfasilitasi korporasi kapitalisme global dalam melakukan ekspansi pasar, bahan baku, tenaga kerja, dan lain sebagainya, untuk kepentingan akumulasi kapital.

Satu hal menarik lainnya disampaikan oleh Kepala Suku Mojok, Puthut EA, lewat akun Instagram pribadinya. Jadi, sebuah WhatsApp grup yang berisi “mantan” aktivis, pandangan soal IMF-WB terbagi menjadi dua; mereka yang menolak dan mereka yang mendukung.

“Kata yang menolak, sambil menyindir para mantan aktivis yang mendukung IMF-WB: “Inilah keberhasilan revolusi mental, masa muda anti-neolib, setelah tua menjadi antek nekolim! Para mantan aktivis yang disindir, membalas: “Masa muda pro-neolib itu pertanda gak punya hati. Sedangkan kalau sudah tua kok masih tetap menolak neolib bearti gak punya otak,” terang Puthut EA.

“Tentu saling sindir semacam itu tidak memberikan tantangan intelektual bagi orang macam saya. Sama saja dengan aktivis yang menolak dengan dalih pemborosan maupun menerima dengan alasan menguntungkan secara ekonomi. Kok kayak sedang ngitung laga di toko kelontong saja.”

Kalau cuma hiburan, admin dan kreator Mojok Creative Team lebih bisa bikin kamu-kamu semua ketawa ngakak. Seperti misalnya, kami menyodorkan 4 hal penting yang justru tidak boleh luput dibahas IMF-WB.

Baca juga:  Menghitung Kekayaan Mari Elka Pangestu, Direktur Baru Bank Dunia

1. Ukuran Beng Beng yang menciut.

Apakah kamu pernah merasa resah dengan ukuran snack yang semakin hari semakin menciut? Padahal, di tengah cuaca panas yang melanda Jogja beberapa hari ini membuat beberapa benda menjadi mengembang. Tapi mengapa, ukuran snack, khususnya Beng Beng justru menyusut?

Ngemil snack sembari mengikuti tubir IMF-WB adalah aktivitas yang terpuji. Tetapi, kenikmatan itu seperti terampas ketika ukuran Beng Beng, misalnya, tak lagi seperti dulu. Size does matters untuk soal snack. Jangan renggut kebahagiaan kami akan sesuatu yang besar dan panjang. Ini masalah dunia, bukan hanya soal pengungsi atau global warming saja.

2. IMF-WB perlu menemukan solusi “kemunculan ajaib” tukang parkir Indomart.

Suatu siang, ketika selesai membeli sebungkus rokok dan Susu Ultra rasa Taro yang mbleneg di Indomart, saya celingak-celinguk di tempat parkir. Bukan, bukan mau maling helm. Saya was-was saja dengan keberadan tukang parkir. Bukan apa-apa. Duit di dompet sudah habis, pas buat bayar rokok dan susu sebungkus. Tidak ada lagi duit tersisa, bahkan yang receh.

Celakanya lagi, tidak ada ATM di Indomart itu. Mau tarik tunia, katanya sedang enggak bisa. Maka, demi menghindari rasa malu, sebaiknya saya tidak ketemu tukang parkir.

Setelah merasa aman, tukang parkir tidak kelihatan batang dengkulnya, dengan lincah saya menuju sepeda motor. Ketika kunci kontak saya putar, tombol starter saya pijit, dan motor menyala, tiba-tiba, sebuah tangan kekar menahan bokong motor saya. Berseragam kemeja oranye, ia menyeringai, memamerkan gigi-giginya yang kuning langsat, memberi kode kepada saya untuk bayar parkir.

Ini masalah besar yang perlu dibicarakan IMF-WB. Bagaimana mungkin, seorang tukar parkir bisa tiba-tiba muncul padahal situasi sekitar Indomart sudah saya pindai. Kemampuan muncul tiba-tiba di blind spot pengendara itu sangat berbahaya. Bagaimana bila dia direkrut CIA atau Mossad untuk jadi pembunuh bayaran? Wah, John Wick pun belum tentu bisa mengalahkan ‘Kang Parkir seperti ninja ini.

Baca juga:  Patung Garuda Wisnu Kencana, Perjuangan 28 Tahun di Bali

3. Kreasi Indomie yang sudah kelewatan.

Indomie (dan Mie Sedap – disebut biar enggak jadi tubir mie instan di kolom komentar) adalah menu sejuta umat. Kamu orang yang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang kalau tidak suka mie instan ini. Kamu perlu pergi ke dukun. Siapa tahu, kamu dirasuki “hantu diet karbo” yang makan buah-buahan saja buat makan siang.

Saking cintanya, banyak orang mengekspresikan cintanya dengan membuat banyak varian masakan. Awalnya sih menarik. Tapi ketika menemukan varian donat Indomie, sushi Indomie, agar-agar Indomie, es krim Indomie, patty burger Indomie, bahkan agama Indomie, diri ini langsung curiga. Ada yang salah dengan kreativitas manusia ini. Sudah kebabalasan.

Maka dari itu, sebelum nanti ada variasi lipen dan celak rasa Indomie, IMF-WB perlu menemukan solusi. Ini sudah kebablasan. Perang dan genosida kan juga dimulai dari “sesuatu yang kebablasan” juga.

4. Harga makanan hiperbola versi penjual.

Terutama adalah mamang-mamang bakmie jawa dan nasi goreng keliling. Mereka suka menetapkan harga sesuka hati. Sebetulnya bukan harganya, sih, tetapi penyebutan harga. Mereka membuat versi sendiri yang justru norak pooll, sepeti penggunaan “d” untuk menggantikan “The” di depan nama warung atau tempat londrian. Ra mashook.

Jadi, penjual ini terlalu hiperbola.

“Mas, nasi goreng satu porsi. Berapa?”

“Nasi goreng seporsi, 12 juta, mas. Murah-murah ae.”

Dalam batin: “Opo sih, mas. Dolanmu kurang adoh.”

Kenyataan yang terucap: “Nih, mas, 15 juta. Kembaliannya simpen, bisa buat beli Xiaomi Redmi Note 5A.” Ternyata saya lebih hiperbola.

Lucu? Enggak, lah! Itu percakapan yang norak. Karena urusan sopan santun saja saya membalas seperti itu. Hal-hal dekaden seperti ini sebaiknya tidak dilanjutkan. IMF-WB perlu membuat terobosan bahan bercanda yang lebih sophisticated.

Itulah 4 hal penting yang perlu segera dicari solusinya. IMF-WB perlu tahu, kalau hal-hal ini sangat mempengaruhi kondisi ekonomi dunia. Kok bisa? Ya rahasia. Enggak semua-semua harus dibagikan.