Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Vonis Baiq Nuril, Apakah Nalar Kekerasan Seksual Bisa Diperbaiki?

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
14 November 2018
A A
Baiq Nuril MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setelah Agni UGM dan Baiq Nuril, apakah nalar cacat soal kekerasan seksual ini bisa diperbaiki? Jangan hanya bisa bikin viral tagar saja.

Masalah politik dan SARA selalu mendapatkan tempat utama di hampir semua wajah media. Keduanya dipandang sebagai masalah negara. Kudu dibicarakan semua orang, dikupas sedemikian rupa, diberi porsi tayang begitu banyak. Namun, sayangnya, soal akal sehat, hanya menjadi letupan sesaat, lalu hilang seiring tema yang menjadi dingin.

Iklan

Akal sehat manusia adalah sesuatu yang purba. Mungkin selaras dengan pelacuran yang sudah terjadi sejak zaman nabi-nabi. Pelacuran, sebuah aksi menjual diri, selalu identik dengan perempuan. Seiring ingatan zaman yang semakin bertumpuk, perempuan menjadi termaginalkan. Bahkan ketika berada pada posisi korban, perempuan tak pernah bisa lepas dari nalar “peserta” kekerasan seksual, pelecehan harkat dan martabat perempuan.

Catat kalimat ini. Masalah pelecehan seksual, atau kekerasan seksual kepada perempuan, akan dengan mudah lenyap seiring waktu. Seiring isu tersebut berubah menjadi dingin karena tak lagi menjadi pusat perhatian. Ketika mendapatkan bahan baru untuk bertempik sorak, menertawakan politikus yang goblok, penuh dengan pernyataan yang norak.

Seketika itu, masalah kekerasan seksual menjadi angin lalu. Ketika kita berhenti membicarakannya, saat itulah perempuan kembali ke posisi awal: sebagai korban yang jauh dari kata “perlindungan”.

Bagaimana mau “berlindung”, ketika melapor kepada pihak berwajib, perempuan diperlakukan secara tidak manusiawi. Ambil kata korban pemerkosaan. Ia akan ditanya, “Vaginamu basah nggak ketika terjadi penetrasi?” Ini pertanyaan yang menjijikkan. Bukannya memberi nuansa perlindungan, kejujuran perempuan dipertanyakan. Jangan-jangan mereka menikmati “perayaan binatang” itu. Ketahuilah, vagina yang basah tidak ada kaitannya dengan kehendak bebas manusia.

Ya memang, wanita hampir selalu “bisa”, tapi mereka belum tentu “mau”. Beda dengan laki-laki yang “hampir selalu mau”, tapi belum tentu “bisa”. Impoten mereka tidak hanya terjadi di selangkangan, tetapi juga otak yang mulai meranggas.

Belum selesai masalah Agni, nalar kita dihajar oleh pemberitaan soal Baiq Nuril. Agni (bukan nama sebenarnya) harus menerima pil yang begitu getir ketika pemerkosaan yang menimpa dirinya dianggap sebagai pelanggaran ringan oleh UGM.

Pelaku pemerkosaan tidak dikeluarkan dari kampus. Ia hanya mendapat sanksi yang terlalu ringan, yaitu penundaan kelulusan dan pengulangan KKN. Yang lebih menyedihkan, reportase cemerlang dari BPPM Balairung UGM dianggap sebagai sesuatu yang pantas untuk “disayangkan terjadi”. Bahkan mendapatkan serangan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Aib. Pemerkosaan Agni dianggap sebagai aib yang mencoret nama keramat salah satu kampus tertua di Indonesia itu. Anggapan itu praktis membuat perempuan termasuk di dalam “sebab aib”. Ia seperti tidak boleh berdiri sendiri sebagai manusia yang haknya penuh. Ia seperti bukan manusia yang layak mendapatkan perlindungan dan kesamaan hukum

Baiq Nuril juga mendapatkan perlakuan yang sama. Sebagai korban, ia mencoba melawan. Ia merekam kekerasan verbal yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Kota Mataram berinisial M. Pelecehan itu terjadi ketika tatap muka atau melalui panggilan telepon. Bingung, Baiq Nuril memilih merekam tindak pelecehan itu sebagai bentuk perlawanan.

“Misalnya dia cerita 20 menit, yang urusan kerjaan itu paling hanya 5 menit (sisanya pelecehan seksual secara verbal,” kata Baiq Nuril sebagaimana dilansir oleh Tirto.

Oleh Imam Mudawin, teman Baiq Nuril, rekaman itu disebarkan kepada Dinas Pendidikan Kota Mataram dan lainnya. Alhasil, M dimutasi dari jabatannya sebagai kepala sekolah. Baiq Nuril menang? Tidak! Ia justru dipojokkan, bahkan dipidanakan.

Mahkamah Agung (MA), lewat putusan kasasi, memvonis Baiq Nuril penjara enam bulan dan denda Rp500 juta. Baiq Nuril dianggap melanggar UU ITE dengan menyebarkan informasi elektronik yang mengandung muatan kesusilaan. Sangat janggal.

Sebelumnya, M melaporkan Baiq Nuril ke polisi atas dasar pelanggaran pasal 27 ayat (1) UU ITE. Padahal, yang menyebarkan adalah Imam, bukan Baiq Nuril. Persidangan digelar dan setelah proses selama dua tahun, Baiq Nuril diputus tidak bersalah karena tidak memenuhi unsur “mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi” yang mengandung kesusilaan.

Tak terima dengan putusan bebas itu, Jaksa Penuntut umum mengajukan kasasi tanpa melewati banding di Pengadilan Tinggi. Dan, pada 26 September 2018, Baiq Nuril divonis 6 bulan penjara dan denda yang begitu besar, Rp500 juta.

Beginilah nalar kekerasan seksual saat ini. Perempuan seperti diusahakan selalu “terlibat” dalam tindakan bejat itu. Bahkan kalau memungkinkan, ia harus dihakimi, menjadi terdakwa. Kalau tidak secara hukum, ya secara moral. Moral bangsat!

Ia tidak diizinkan berdiri sendiri, berteriak dengan lantang terkait posisinya yang selalu dirugikan, apalagi mendapatkan perlindungan yang layak. Perempuan akan selalu menjadi korban nalar cacat soal kemanusiaan (baca: pemerkosaan terhadap nalar kekerasan seksual).

Iklan

Sesuatu yang rusak (seharusnya) bisa diperbaiki. Yang salah bisa meminta maaf. Dan yang terluka bisa memaafkan, bahkan melupakan.

Lewat logika yang sama, apakah nalar cacat soal kekerasan seksual ini bisa diperbaiki? Tentu bisa, ketika kita tak hanya berpegang kepada agama dan nilai-nilai moral saja, tetapi akal sehat. Pemberian Tuhan yang tak kalah ajaib itu.

Kecuali Hakim MA sudah berbicara lain…

Terakhir diperbarui pada 15 Desember 2018 oleh

Tags: AgniBaiq Nurilpelecehan seksual
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO

Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

2 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.