MOJOK.COTransisi menyerang ke bertahan adalah momen paling berbahaya. Manchester United punya senjata untuk melukai lawan secara paripurna di momen itu.

Setelah gagal mendapatkan target man lantaran Romelu Lukaku pergi, Manchester United justru memetik berkah yang tidak terduga. Untuk berkah ini, fans Manchester United perlu berterima kasih kepada keteledoran Chelsea dan Frank Lampard.

Berkaca dari laga Super Sunday itu, sebetulnya, Manchester United sempat kesulitan mengatasi cara bermain Chelsea yang begitu direct. Frank Lampard layak mendapatkan pujian setelah berhasil membuat Chelsea bisa melakukan transisi menyerang yang begitu cepat dengan banyak orang.

Proses menyerang dari kiper sampai ke lini depan terjadi begitu cepat, di bawah 10 detik. Lampard juga bisa menanamkan kesadaran kepada para pemainnya untuk inisiatif segera naik dan menyediakan diri sebagai opsi umpan di wilayah pertahanan Manchester United. Sering terjadi, Chelsea menang jumlah pemain di pertahanan Manchester United.

Sepakan Tammy Abraham yang membentur tiang gawang dan peluang emasnya setelah mendapatkan umpan tarik dari Pedro adalah bukti dari kemampuan Chelsea ini. Sayangnya, kualitas penyelesaian peluang emas sangat rendah. Total, Chelsea bikin 17 peluang dengan 5 sepakan tepat ke gawang. Idealnya, Chelsea bisa mencetak 1 gol. Jika itu terjadi, Manchester United tidak bakal bisa menang dengan skor besar (4-1).

Penguasaan bola sampai 5 menit pertama yang dicatatkan Chelsea mencapai 75 persen dengan 2 peluang bersih tercipta. Perubahan pertama terjadi ketika Manchester United mencetak gol lewat titik penalti. Setelah gol, Manchester United lebih nyaman menguasai bola. Penguasaan mereka meningkat menjadi 48 persen. Artinya, penguasaan bola Chelsea turun menjadi 52 persen saja.

Setelah perubahan dalam hal penguasaan bola inilah, jalannya pertandingan menjadi menguntungkan untuk Manchester United. Hingga babak pertama selesai, Ole Gunnar Solskjaer belum menemukan cara memaksimalkan lini depannya yang cair dan mobile.

Manchester United menemukan skenario terbaik secara tidak sengaja?

Pendekatan Chelsea untuk mengejar gol sedikit berubah. Kecurigaan saya mengarah kepada Lampard. Mantan gelandang Chelea itu ingin tetap bisa menyerang dengan situasi unggul pemain. Sementara itu, lini pertahanan tetap aman, juga karena menang jumlah pemain karena cemas dengan serangan balik Manchester United. Ia seperti membagi skuat menjadi 2 kelompok besar, yaitu mereka yang menyerang dan mereka yang bertahan.

Baca juga:  Apakah Bung Jose Mourinho Perlu Dipuk-puk?

Banyak analis yang memandang Lampard gagal mengidentifikasi masalah ini. Menurut saya, Lampard memang sengaja membagi timnya menjadi 2 kelompok besar. Sayangnya, ini langkah yang penuh risiko karena Chelsea gagal mempertahankan compact (kompaksi) timnya. Mereka gagal mengukur jarak antara lini depan dan lini belakang.

Selepas laga, Jose Mourinho yang kini menjadi komentator Sky Sport urun pendapat.

Kepada Jamie Carragher yang selepas laga juga menjadi pundit, Mourinho berkata, “Bagi saya, taktik adalah satu hal, tapi prinsip permainan adalah hal lain. Prinsip permainan ini sifatnya harus permanen.”

Sambil guyon dengan Jamie Carragher, Mourinho melanjutnya: “Kamu ingat Paman Rafa (Benitez) di garis tepi, dia selalu memberi instruksi seperti ini,” Mourinho membuat gesture yang berarti mampat dengan kedua tangannya, “ia selalu ingin timnya bermain compact. Jika kita memperhatikan pertandingan tadi, Chelsea punya blok 6 pemain di belakang dan 4 di depan…saat ini, tim bagus selalu bertahan secara compact, mau blok tinggi atau blok rendah, selalu bermain secara compact…dan Chelsea tak pernah bisa bermain secara compact.”

Compact itu apa, sih?

Compact, yang diterjemahkan secara bebas menjadi ‘kompaksi’ adalah sebuah kondisi di mana sebuah tim bisa menjaga jarak vertikal dan horizontal tetap stabil. Kompaksi vertikal adalah jarak antara barisan bek dengan striker, sementara kompaksi horizontal adalah jarak antara pemain di satu sisi dengan sisi lain lapangan. Jarak yang terjaga membuat lawan sulit mengeksploitasi ruang. Sulit mendapat ruang, lawan tidak bisa progresi ke depan, akhirnya peluang sulit terjadi.

Dengan membagi timnya menjadi “sistem 6 di belakang dan 4 di depan”, Lampard abai dengan prinsip kompaksi ini. Ketika Chelsea teledor, Manchester United bisa melihat dan memanfaatkannya. Inilah momen di mana Manchester United mampu memetakan kelebihan mereka.

Ketika kehilangan bola di area pertahanan Manchester United, Chelsea tak punya pemain yang bisa meng-cover area luas di antara lini pertahanan dan lini depan. Absennya N’Golo Kante tidak bisa jadi alasan karena ini soal sistem dan prinsip.

Sementara itu, para pemain depan Manchester United bisa “berpesta ruang” lantaran luasnya area. Mereka punya Anthony Martial dan Marcus Rashford, dua striker yang sangat mobile, bisa bergantian posisi dengan cepat, dan pandai memakan ruang.

Ketika bertahan, mereka membentuk sistem 4-4-2 blok rendah. Martial dan Rashford berdiri berdekatan sebagai dua striker. Ketika Chelsea kehilangan bola, koordinasi Martial dan Rashford terlihat sangat matang. Jika Rashford turun ke bawah, Martial akan melebar ke kiri. Ketika Martial mulai masuk dari sisi kiri, Rashford mengokupansi ruang paling depan Manchester United.

Baca juga:  Arsenal, Manchester United, Chelsea di Zona UCL dan Stadion Terburuk Sepanjang Sejarah

Mobilitas kedua pemain ini didukung oleh kecepatan lini kedua yang diisi Jesse Lingard, Andres Perreira, dan Paul Pogba. Ketiga pemain ini juga mobile dengan koordinasi yang baik. Mereka paham harus lari ke mana ketika siapa memegang bola, memudahkan Martial dan Rashford bergerak dan memancing pemain belakang Chelsea.

Komposisi pemain ini menunjukkan beberapa kelebihan. Pertama, cara bermain menjadi begitu cair. Kedua, masing-masing pemain peka dengan tugas mengisi ruang dan menyediakan diri sebagai opsi umpan. Ketiga, para pemain punya kemampuan umpan di atas rata-rata, memudahkan sirkulasi bola dengan kecepatan tinggi di wilayah lawan. Kelima, hampir semua pemain depan, termasuk Daniel James dan Mason Greenwood, punya end product yang baik.

Komposisi ini mengingatkan saya akan cara Manchester United menyerang di musim 2007/2008. Saat itu, lini depan Manchester United diisi Cristiano Ronaldo, Carlos Tevez, dan Wayne Rooney. Di bangku cadangan ada Louis Saha dan Danny Welbeck. Trio lini depan musim 2007/2008 bisa mencetak dua digit gol di musim itu.

Saya tidak sedang berusaha membandingkan Martial dan Tevez atau Rashford dengan Rooney. Yang ingin saya bilang adalah, Setan Merah punya komposisi yang mirip untuk bermain sebagai counterbased team. Bermain dengan blok rendah, disiplin menjaga kompaksi, dan jeli ketika serangan balik adalah skenario ideal yang harus terus dijaga Ole.

Satu kelebihan lagi yang dimiliki Manchester United musim 2007/2008 dengan musim 2019/2020 adalah kemampuan memasukkan pemain sebanyak mungkin ke daerah sekitar kotak penalti. Serangan balik bukan hanya soal berlari secepat mungkin, tetapi mengokupansi ruang paling ideal untuk mengalirkan bola.

Jika aliran bola ini tidak terbendung karena mobilitas dan kepekaan pemain melihat ruang, Manchester United bakal menjadi tim yang berbahaya. Lawan, yang sedang masuk dalam transisi dari menyerang ke bertahan tengah mengalami momen paling berbahaya. Manchester United punya senjata untuk melukai lawan secara paripurna di momen itu.



Loading...



No more articles