MOJOK.COSemua berharap melihat Real Madrid vs Manchester City di final Liga Champions. Namun, Chelsea ini tetap berbahaya.

Selamat untuk Manchester City. Performa yang terbilang sangat stabil di dua leg semifinal Liga Champions tak bisa dirusak PSG. Begitu Manchester City dipastikan masuk final, netizen langsung berharap “final ideal” akan terjadi. Real Madrid vs Manchester City. Namun, tunggu dulu…

Real Madrid masih harus melawat ke rumah Chelsea untuk menjalani leg kedua semifinal. Skor di leg pertama adalah sama kuat 1-1. Chelsea berada dalam posisi unggul berkat gol tandang. The Blue juga bermain begitu baik di leg pertama. Anak asuh Thomas Tuchel ini berhasil menunjukkan kelasnya.

Saya merasa Chelsea punya kesempatan yang cukup besar untuk melaju ke final Liga Champions. Stabilitas yang berhasil dibangun Tuchel dalam waktu singkat itu terbilang luar biasa. Jika bicara taktik, sederhananya, Chelsea berkembang menjadi tim yang sulit dikalahkan.

Bahkan jika lini depan mereka nggak lagi miskin gol, Chelsea bisa mengalahkan semua tim dengan mudah. Atas nama stabilitas ini, saya juga merasa mereka bisa mengalahkan Manchester City di final dan menjadi juara Liga Champions. Bagi saya, mereka memang layak mendapatkan status ini.

Oke. Sampai di sini, pembaca sudah jelas akan posisi saya sebagai fans netral, ya. Semua tim yang masuk ke final Liga Champions pasti layak untuk menjadi juara. Namun, di sini, jangan lupakan dulu “kisah mistis” Real Madrid di mana mereka menjadi begitu berbahaya setelah lolos ke babak sistem gugur.

Real Madrid dan klenik Liga Champions

Sejak masih menjadi penulis sepak bola di Fandom, lalu Football Tribe, dan kini Mojok, Real Madrid seperti punya klenik tersendiri dengan babak sistem gugur Liga Champions. Entah bagaimana, performa raksasa Spanyol di putaran grup biasanya nggak meyakinkan. Namun, semuanya berubah ketika sampai di sistem gugur.

Real Madrid menjadi begitu efisien di depan gawang. Meski kerap bermain biasa saja, bahkan jauh dari kata indah, Si Putih ini selalu bisa mengalahkan lawan-lawan mereka. Terutama ketika mereka memenangi Liga Champions tiga kali berturut-turut.

Seperti ada “klenik” yang menjaga nyawa mereka tetap menyala sampai fase akhir. Memang, tidak melulu Real Madrid sampai di babak akhir lalu menjadi juara. Namun, intinya adalah, mereka selalu bisa keluar dari bahaya, dari tekanan, dan melaju hingga akhir. Makanya nggak heran apabila mereka menyangdang status Sang Raja.

Aura “klenik” ini yang perlu diperhatikan oleh Chelsea (dan Manchester City jika mereka bertemu di final Liga Champions). Sepak bola memang bisa ditakar dengan logika, tentang bagaimana sebuah tim mencetak gol dan memenangi laga. Namun, di sisi lain, ada juga sisi-sisi aneh yang bikin pertandingan makin tak tertebak.

Chelsea menunjukkan kelasnya di leg pertama semifinal Liga Champions. Bahkan akan diwajarkan oleh banyak orang jika mereka memenangi laga tersebut. Sayangnya, ketika mendominasi laga, mereka malah kebobolan dengan cara “yang agak menyebalkan”, yaitu dari situasi bola mati.

Coba hitung berapa banyak Chelsea menderita gol dari situasi bola mati. Kamu pasti akan paham bahwa satu gol dari Karim Benzema itu bisa sangat menentukan di leg kedua. Sebuah gol yang menyebalkan, tapi bisa menjadi jimat ketika laga berjalan semakin berat.

Saya jadi teringat gol ajaib Casemiro di final Liga Champions ketika Real Madrid membantai Juventus. Sepakan jarak jauh Casemiro membentur kaki pemain Juventus dan membuat Buffon salah posisi. Sebuah gol yang seperti “terjadi begitu saja” dan sukses mencegah Juventus bangkit setelah gol dari pemberi asa dari Mario Mandzukic.

Musim ini, Real Madrid tak bermain apik di La Liga. Mereka jauh dari kata konsisten. Jika menonton pertandingan dan mengamati proses gol mereka lekat-lekat, mungkin kamu akan sepakat dengan kegelisahan saya. “Kok bisa yang kayak gitu jadi gol.”

Terdengar sangat klenik? Iya, di satu sisi. Tapi di sisi lain, ada kejelian Zinedine Zidane membangun skuatnya.

Bagaimana caranya bikin orang berpikir, “Kok kayak gitu bisa jadi gol?” untuk sebuah laga yang sebetulnya sangat tidak menguntungkan? Jawabanya bisa sangat beragam dan salah satunya adalah cara bermain atau sistem.

Zidane bukan pelatih seperti yang kamu bayangkan. Dia tidak miskin strategi. Terlihat seperti “gitu-gitu aja” karena ragam strategi yang dia miliki bukan jenis yang terlihat canggih atau berbeda. Strateginya ada banyak, tapi memang esensinya satu, yaitu efisien. Bagaimana cara termudah bikin gol?

Coba mundur ke 2017 ketika Real Madrid membantai Bayern Munchen dan Juventus. Cara bermain mereka ya nggak istimewa. Di atas lapangan, yang terlihat adalah usaha bermain dari samping, crossing datar, dan biarkan Cristiano Ronaldo mengonversikannya menjadi gol. Simpel.

Namun ternyata, proses membuat gol dari crossing datar itu tidak sesederhana kelihatannya. Ada usaha menguasai lini tengah sebelum bisa leluasa bermain di sisi lapangan. Ada pemosisian pemain secara khusus di 6-yard box dan tiang jauh.

Semakin terlihat sederhana sebuah taktik, sebetulnya proses di baliknya cukup rumit. Kemampuan membuatnya menjadi sederhana adalah gambaran pelatih yang cakap dan pemain pintar. Inilah yang membuat Madrid sebetulnya sangat berbahaya.

Chelsea bisa saja menang dan lolos ke final Liga Champions untuk meladeni Manchester City. Namun, mereka akan melewati laga yang sangat berat. Kemungkinan kedua, mereka tetap bermain sangat baik. Berkelas. Tapi kalah oleh Real Madrid dengan cara paling menyakitkan.

Kuncinya adalah konsentrasi dan waspada. Terutama bagi Chelsea yang terasa sedikit diunggulkan di leg kedua semifinal Liga Champions. Ingat, status unggulan tidak sama dengan otomatis lolos ke final.

BACA JUGA Chelsea Memang Kelas, tapi Bagi Real Madrid, Liga Champions Seperti Taman Bermain dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Prediksi Madura vs Bali United: Bali United Degradasi?