Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

PSIM, Kembalinya Erwan Hendarwanto, dan Jalan Memutar Menuju Perbaikan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
14 Oktober 2019
A A
PSIM, Kembalinya Erwan Hendarwanto, dan Jalan Memutar Menuju Perbaikan

PSIM, Kembalinya Erwan Hendarwanto, dan Jalan Memutar Menuju Perbaikan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tidak mengapa manajemen PSIM Jogjakarta mengambil jalan memutar untuk menemukan kembali bahwa Coach Erwan Hendarwanto adalah sosok paling tepat.

Kedatangan investor disambut bahagia oleh semua fans PSIM Yogyakarta. Cita-cita untuk lolos ke Liga 1 seperti diperkuat. Skuat yang lebih mewah, pembangunan infrastruktur, dan re-branding langsung dilakukan oleh manajemen baru. Apalagi, musim ini, Stadion Mandala Krida sudah bisa digunakan. Semuanya seperti puzzle yang lengkap.

Iklan

Namun, fans PSIM disentak oleh pergantian pelatih. Coach Erwan Hendarwanto digantikan Vladimir “Vlado” Vujovic. Alasan soal syarat lisensi melatih Liga 2 bisa diterima oleh sebagian fans PSIM. Meski memang, kekhawatiran itu sudah lahir sejak awal. Maklum, Vlado belum teruji, belum punya pengalaman melatih di bawah tekanan.

Tidak bisa dimungkiri, tekanan yang ada di Pundak Vlado sangat berat. Dia memegang amanat meloloskan PSIM ke Liga 1. Apalagi setelah skuat klub asal Yogyakarta ini “diperkuat” dengan nama-nama besar nan mahal. Selain itu, di pundak Vlado ada siluet Coach Erwan, pelatih yang kini sudah dianggap “legenda” oleh banyak fans PSIM.

Coach Erwan Hendarwanto tidak lari ketika PSIM harus mengawali musim 2018/2019 dengan situasi minus 9 poin. Sanksi pengurangan 9 poin terjadi manajemen tidak bisa langsung melunasi tunggakan gaji tiga mantan pemain asing PSIM.

Mereka adalah Lorenzo Rimkus, Emile Lingkers, dan Kristian Adelmun. Ketiganya pemain asing berdarah Belanda yang memperkuat Laskar Mataram di Divisi Utama tahun 2012. Saat itu, tim-tim dari Divisi Utama dan kasta kedua masih boleh menggunakan servis pemain asing.

Surat sanksi itu ditandatangani langsung oleh Risha A. Widjaya, Chief Executive Officer tertanggal 25 April 2018. Hukuman tersebut merupakan tindak lanjut dari surat sengketa tentang ketenagakerjaan yang yang sebelumnya dikirimkan oleh FIFA dan sudah diterima langsung oleh manajemen PSIM, melalui perantara Sekretaris Jendral PSSI Ratu Tisha.

Isi surat tersebut berbunyi, “Bahwa sesuai dengan keputusan FIFA Disciplinary Committee sebagaimana dijelaskan dalam surat PSSI makan kub PSIM Jogja dihukum pengurangan poin sebanyak sembilan di kompetisi Liga 2 tahun 2018. Pada poin selanjutnya, PT LIB, selaku operator liga, diwajibkan melakukan implementasi hukuman dengan melakukan pengurangan poin tersebut.”

Apalagi, di musim itu, PSIM hanya bisa mengumpulkan 2 poin dari 3 laga awal, hasil dari 2 kali imbang dan 1 kalah. Di sinilah “keajaiban” disajikan oleh Coach Erwan. Pelatih muda kelahiran Magelang itu bisa mengubah kondisi minus 9 menjadi plus 9. Ide bermain yang sudah jelas membuahkan hasil. Skuat Parang Biru bermain lebih baik di laga-laga selanjutnya.

Oleh sebab itu, ketika Vlado datang menggantikan Coach Erwan, banyak suporter akan selalu membandingkan performa kedua pelatih. Dan ini hal yang wajar. Saya masih ingat betul, salah satu komentator sepak bola tanah air pernah bilang kalau cara bermain PSIM di bawah asuhan Coach Erwan menjadi yang paling enak ditonton di Liga 2, bahkan Liga 1 sekalipun.

Vlado tidak kuat memikul beban itu. Dia memutuskan mundur dan digantikan oleh Aji Santoso. Suporter berharap manajemen mau mendengarkan saran mereka untuk kembali merekrut Coach Erwan. Namun, manajemen punya “visi” lain. Dan sayangnya, “visi” itu gagal terwujud di atas lapangan.

Aji Santoso bukan pelatih jelek. Pengalamannya melatih Liga 1 sangat berharga. Namun, siapa saja pelatih PSIM akan selalu disandingkan dengan Coach Erwan, pelatih legendaris itu. Secara psikologis, sebetulnya pembandingan ini tidak sehat. Namun, manusia adalah insan yang merekam. Mereka mencatat mana yang baik dan mana yang buruk. Dan tidak bisa disalahkan.

PSIM kembali bermain buruk. Tidak punya solusi untuk berbagai masalah di atas lapangan. Ketika para pemain terbentur jalan buntu, maka mereka kembali ke kebiasaan lama: bermain long ball yang sangat tidak efektif. Mudah ditebak dan tidak ada skenario untuk memenangi second ball.

Menyadari rentetan kesalahan ini, manajemen akhirnya merekrut kembali Coach Erwan, kali ini mendampingi Liestiadi. Liestiadi pernah melatih PSMS Medan dan memegang lisensi syarat melatih di Liga 2.

Iklan

Meski menempuh jalan memutar, manajemen seharusnya sadar kalau cara bermain yang jernih adalah dasar perkembangan sebuah tim. Dan kenyataan itu langsung terlihat ketika PSIM mengalahkan Persatu Tuban dengan skor 2-0. Hanya melatih 4 hari, Coach Erwan menunjukkan kejelasan dibandingkan Vlado di 4 bulan pertama melatih.

Mengapa kejelasan cara bermain menjadi penting?

Tujuan berkompetisi adalah untuk menang. Betul kata Vlado, bermain indah itu bukan prioritas. Bermain pragmatis pun tidak masalah, misalnya yang beberapa kali ditunjukkan Jose Mourinho. Namun, yang katanya “bermain pragmatis” pun ada kejelasan di dalamnya. Ada sistem yang mendukung, bukan asal bermain bola jauh dan mengharapkan keajaiban.

Bermain indah atau “enak ditonton” adalah hasil dari kejelasan cara bermain. Misalnya di mana pemain harus berdiri dan bergerak tanpa bola (atau ketika menguasai bola), ke mana harus bergerak untuk memancing lawan, kepada siapa bola harus didistribusikan di sepertiga akhir, bagaimana cara membangun serangan dari bawah.

Kejelasan itu melahirkan kenyamanan bagi pemain. Umpan-umpan pendek terlihat sangat serasi dan lebih sinkron. Maka, di mata penonton, cara bermain seperti itu enak untuk ditonton. Penonton juga semakin paham tim akan bermain dengan cara apa. Perlu diingat, penonton zaman sekarang sudah jauh lebih melek taktik ketimbang satu dekade yang lalu.

Penonton bisa menilai dan berpendapat. Dan terkadang opini penonton bisa menggambarkan dengan jernih tentang kesalahan-kesalahan yang terjadi dan berulang. Jadi, pada titik tertentu, manajemen bisa datang ke suporter, silaturahmi ngopi bareng sembari rembugan tentang perkembangan tim.

Cara bermain yang jelas juga melahirkan kepercayaan diri. Meski komposisi pemain tim lebih “lemah” ketimbang lawan, tetapi tim tahu bisa menang. Kenapa? Karena sudah belajar tentang kelemahan dan cara mengeksploitasinya. Bukan sekadar umpan jauh dan berharap Christian Gonzales bisa bikin gol dari setiap bola jauh.

Pemain PSIM yang lebih optimis melahirkan keyakinan untuk menang di setiap laga. Hal inilah yang menjadi latar belakang mengapa PSIM bisa membalikkan defisit minus 9 menjadi plus 9 di bawah asuhan Coach Erwan.

Jalan memutar yang diambil manajemen memang sudah terjadi. Kini, di tangan yang tepat, sudah waktunya menejemen mendukung penuh konsep Coach Erwan. Toh kalau PSIM lebih rutin menang, manajemen juga yang akan mendapatkan apresiasi. Suporter senang, manajemen bangga. PSIM ke Liga 1 bukan angan belaka.

BACA JUGA PSIM Bersama Vladimir Vujovic: Bisakah Mengikis Jejak Manis Erwan Hendarwanto? Atau artikel Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2019 oleh

Tags: christian gonzalescoach erwanerwan hendarwantoJogjaLiga 1liga 2psimvlado
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.