MOJOK.COSwedia vs Swiss | Saint Petersburg Stadium, Rusia | Live TransTV, K Vision, Usee TV | Selasa, 03 Juli 2018 | 21.00 WIB | Prediksi: Swedia menang.

Setelah memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2018, salah satu berita utama terkait Swedia adalah “Apakah Zlatan Ibrahimovic akan kembali dipanggil?” Selama babak penyisihan zona Eropa, Swedia sudah merasakan rasanya bermain tanpa Zlatan. Bukannya menjadi lebih lemah, Swedia justru bisa bermain “secara tim”, menjadi unit yang lebih kompak.

Di bawah asuhan Janne Anderson, Swedia tak lagi berpusat kepada seorang Zlatan saja. Tidak ada lagi yang lebih menonjol dibandingkan pemain lainnya, Swedia “dipaksa” untuk bermain kolektif. Dimulai dengan membangun tim dengan kedisiplinan tinggi, Janne Anderson memetik buahnya dengan manis setelah tidak lagi melibatkan Zlatan untuk kali pertama sejak tahun 2000.

Tanpa sang tiang penyangga untuk satu dekade lebih, Swedia berbenah. Janne Adersson menegaskan bahwa sosok Zlatan tak lagi punya pengaruh di dalam tim. Bahkan, pelatih berusia 55 tahun tersebut membantah anggapan bahwa Zlatan terlibat di dalam kehidupan keseharian timnas Swedia.

“Saya menjadi pelatih Swedia tepat dua tahun yang lalu, tepatnya setelah Piala Eropa, dan Zlatan Ibrahimovic, beserta beberapa orang lainnya, memilih untuk meninggalkan tim nasional. Saya menghormati keputusan itu. Setelah itu, dia tidak terlibat lagi, dalam bentuk apa pun, di timnas. Tidak ada hubungan apa pun antara dirinya dengan tim,” tegas sang pelatih.

Baca juga:  Surat Terbuka (Kedua) Untuk Edy Rahmayadi

Tanpa Zlatan, tidak ada lagi titik vokal di dalam tubuh timnas Swedia. Namun, perubahan yang terjadi terbilang mengejutkan. Swedia menjadi tim yang sangat solid. Kekuatan kolektif membuat mereka lebih sulit dikalahkan. Komposisi dan kekuatan pemain yang hampir merata membuat Swedia bisa membangun tim yang lebih dinamis, sembari tetap kreatif.

Pembaca tentu paham betul bahwa kemampuan untuk sulit dikalahkan itu bekal yang penting untuk kompetisi jangka pendek. Tengok perjalanan Portugal sejak Piala Eropa 2016 sampai dikalahkan Uruguay di babak 16 besar Piala Dunia.

Swedia menggunakan skema dasar 4-4-2. Lewat skema klasik tersebut, Swedia menunjukkan kekompakan yang memuaskan. Pertahanan mereka sulit dibongkar dan perubahan posisi yang dinamis, terutama di lini depan, membantu Swedia merespons kekuatan lawan dengan seketika di atas lapangan.

Kekuatan Swedia adalah pertahanan mereka yang sangat kokoh. Lini pertahanan yang dikawal oleh Victor Lindelof dan Andreas Granqvist sudah sangat teruji selama babak kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Dengan dasar pertahanan yang kokoh, Swedia mampu “membunuh raksasa”, yaitu Belanda dan Italia, dua tim langganan Piala Dunia.

Meski lebih disiplin dan terlihat kaku, Swedia tidak kehilangan sisi kreatif. Emil Forsberg, yang banyak bergerak dari sisi kiri sebagai wide playmaker menjadi sumur kreativitas tim ini. Kerja Forsberg sedikit diringankan berkat kebiasaan Swedia untuk bergerak bersama dalam bentuk yang kompak. Akibatnya, jarak antar-pemain menjadi lebih pendek dan memudahkan Swedia menjaga penguasaan bola.

Baca juga:  Inilah 8 Pemain Muda yang Akan Bersinar di Piala Dunia 2018

Oleh sebab itu, laga Swedia vs Swiss akan menjadi “pertunjukan jagal” selanjutnya. Ketika Swedia, si pembunuh raksasa itu melaju dengan percaya diri. Swedia mungkin boleh diunggulkan untuk lolos ke babak perempat final. Namun, misi itu baru bisa dicapai apabila mampu meredam serangan balik Swiss yang berbahaya. Ketika ditekan, seperti ketika melawan Serbia, skuat ini justru menjadi semakin berbahaya ketika dibiarkan mendapatkan ruang yang lega di wilayah lawan.

Swiss memang kurang disiplin ketika bertahan. Meski bisa mencetak lima gol, Swiss kebobolan empat kali. Namun, catatan tersebut tidak boleh dijadikan satu-satunya parameter untuk melihat performa Swiss secara keseluruhan. Terutama ketika beberapa tim “kelas dua” menjadi lebih disiplin di babak sistem gugur ini, misalnya Rusia dan Denmark. Jumlah kebobolan menjadi minim.

Babak 16 besar Piala Dunia sendiri memang menawarkan tekanan yang berbeda. Sebuah tekanan yang cukup besar untuk membuat semua tim menjadi lebih waspada. Akibatnya seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya, yaitu jumlah gol yang menjadi minim dan sebuah tim menjadi terlampau berhati-hati.

Laga Swedia vs Swiss juga bakal menghadirkan nuansa yang sama. Pola pikir yang berlaku adalah kekalahan menjadi lebih jauh ketika gol tidak terjadi. Sangat sederhana, namun benar adanya. Skor tipis akan mewarnai laga ini. Berbekal kedisiplinan yang lebih baik, yang akan keluar sebagai pemenang di laga Swedia vs Swiss adalah kesebelasan yang disebut pertama.

Baca juga:  Arsenal dan Cara Terbaik untuk Bertahan Hidup