[MOJOK.CO] “Marko Simic, penyerang anyar Persija Jakarta mencuri panggung di ajang Piala Presiden 2018. Apakah Simic lebih paten ketimbang Bambang Pamungkas”?

Gelaran Piala Presiden 2018 ditutup dengan begitu manis untuk Persija Jakarta. Selain menjadi juara, penyerang anyar mereka, Marko Simic terpilih menjadi pemain terbaik, sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak dengan 11 gol. Terlihat langsung nyetel dengan tim barunya, penyerang asal Kroasia ini menebalkan asa Persija Jakarta menjelang kompetisi Liga Indonesia yang (mungkin) akan digelar.

“Kita semua warga Jakarta hampir 24 jam ini menikmati kemenangan Persija. Kita merasakan betul musim paceklik 17 tahun, tapi akhirnya kami bisa kembali juara lagi. Semoga ini bukan akhir dari segalanya, masih ada Liga 1 dan Piala AFC,” kata Anies Baswedan seperti dikutip oleh Goal.com.

Pak Anies Baswedan mungkin sedikit silap terkait gelar juara yang sudah direbut Persija. Tahun 2001 yang lalu, Persija menjuarai kompetisi liga resmi. Tahun 2018, Persija “hanya” menjadi juara kompetisi pra-musim. Tentu, bobot, gengsi, dan tingkat kesulitan dua gelar juara tersebut tak bisa dibandingkan, apalagi dijadikan narasi untuk memperkuat pernyataan“musim paceklik juara”.

Kita lupakan sejenak sosok Anies Baswedan dan kontroversi yang menyelimuti dirinya selama beberapa hari ini. Mojok Institute ingin mengajak pembaca Mojok untuk melirik salah satu kepingan penting bagi skuat Persija Jakarta di gelaran Piala Presiden 2018, yaitu Marko Simic.

Ada beberapa catatan menarik dari cara bermain Marko Simic. Catatan yang seharusnya mengingatkan pembaca, terutama Jak Mania bahwa Persija kembali mempunyai satu penyerang all-around.

Sama seperti tahun 2001 ketika menjuarai liga, keberadaan Bambang Pamungkas begitu penting. Simic, pada titik tertentu mempunyai beberapa kemiripan dengan Bambang muda. Bahkan mungkin lebih baik.

Perlu diingat, kemiripan tidak hanya sebatas merujuk kepada cara menggiring bola, menendang, mengoper, atau bahkan soal fisik. Kemiripan di tulisan ini merujuk pendekatan kedua pemain tersebut terhadap sebuah pertandingan. Simak penjelasan singkat berikut ini:

Pemosisian diri

Marko Simic dan Bambang Pamungkas muda punya cara pandang yang mirip terkait memanfaatkan kemampuan individu. Misalnya, kemampuan duel udara dan menahan bola vertikal. Sadar bahwa keduanya unggul di dua aspek tersebut, baik Simic dan Bambang cukup sering turun mendekati lingkaran tengah, baik ketika Persija membangun serangan dari bawah menggunakan bola datar atau udara.

Baca juga:  Aksi Boikot Traveloka yang Wagu dan Salah Sasaran

Pemosisian diri ini menjadi sangat penting bagi proses menyerang Persija. Mengapa? Dengan berdiri di antara dua lini (lini tengah dan lini bertahan), pemain lawan akan masuk ke dalam situasi berisiko tinggi. Dilema.

Jika bek tengah mengikuti pergerakan penyerang Persija, maka akan tercipta ruang kosong di lini pertahanan. Jika tidak diikuti, penyerang lawan akan dapat menerima bola di ruang yang lega. Ia bisa dengan mudah menyebar umpan menuju dua sisi lapangan, atau melakukan penetrasi langsung ke dalam kotak penalti.

Banyak yang kurang mengapresiasi keberadaan Simic karena ia “hanya” seorang Target Man, bukan penyerang dengan tabungan banyak trik dan punya kecepatan tinggi sepeti Greg Nwokolo atau Emanuel De Porras.

Namun banyak yang tak memahami bahwa penempatan posisi adalah senjata paling berbahaya bagi seorang striker. Gol tembakan salto Simic di final Piala Presiden 2018 menjadi bukti. Tak hanya soal caranya menendang yang berbahaya, namun pergerakan awal Simic untuk membebaskan dirinya dari tekanan lawan sehingga proses menendang salto tersebut tak diganggu.

Atau, supaya lebih yakin, silakan tanya pendapat fans AC Milan soal Filippo Inzaghi.

Berteknik

Aspek lain yang menunjang kemampuan Marko Simic adalah teknik dasar seorang penyerang yang terlihat begitu matang. Sama seperti Bambang Pamungkas muda, keduanya punya dua kaki yang hidup dan mampu melepas tembakan dari sudut yang sulit.

Tentu masih segar dalam ingatan Jak Mania terkait proses gol pertama Bambang Pamungkas di laga final Ligina 2001 ke gawang PSM Makassar.

Menerima umpan dari lapangan tengah, Bambang berani menggiring bola masuk ke dalam kotak penalti. Sadar dirinya tidak ditekan oleh bek lawan, Bambang memindahkan bola dari kaki dominannya (kaki kanan) ke kaki kiri. Lantas, dengan luwes, Bambang melepas “tembakan pisang” menggunakan kaki kiri sebelah dalam ke arah tiang jauh, menjauhi jangkauan kiper.

Baca juga:  Jokowi Pilih Mahfud MD atau Cak Imin, Prabowo Mau Anies atau AHY?

Simic juga begitu. Dua kaki yang hidup, ditambah pemosisian diri yang baik, penyerang berusia 30 tahun tersebut hampir selalu bisa melepas tembakan dari depan kotak penalti meski ditekan lebih dari satu lawan.

Tinggi badan yang mencapai 180 sentimeter dan bangun fisik yang kokoh tak hanya membuat dirinya tangguh ketika kontak fisik dengan lawan. Dua aspek tersebut memberi keseimbangan ketika kuda-kuda untuk melepas tembakan diganggu oleh lawan. Simic menjadi terlihat begitu tangguh.

Ada satu kelebihan Simic, berpeluang membuat dirinya menjadi lebih baik ketimbang Bambang, yaitu teknik olah bola yang mumpuni. Perhatikan video di bawah ini, terutama menit 78:53:

Mendapat bola datar dengan laju yang cepat, Simic sadar bahwa dirinya dikuntit bek lawan ketika hendak mengontrol umpan tersebut. Dengan respons situasi yang cepat dan teknik mumpuni, Simic mencungkil bola ke arah belakang menggunakan ujung sepatu.

Bola yang tiba-tiba melambung melewati kepala membuat bek lawan sempat mati langkah dan membua ruang di belakangnya. Simic berhasil mengeksploitasi ruang ia buat sendiri meski gagal menjadi gol.

Dari mana insting dan kecepatan Simic? Menurut catatan transfermarkt.com, Simic juga pernah dan bisa bermain sebagai penyerang sayap kanan dan kiri. Posisi dan peran ini membutuhkan pemain yang tak hanya bisa berlari, namun juga punya teknik untuk lepas dari ruang-ruang sempit ketika ditekan lawan. Pengalaman inilah yang membuat sosok Simic menjadi berteknik dan punya kecepatan untuk mengejar umpan terobosan atau diagonal.

Dua aspek di atas adalah amunisi yang dibutuhkan semua penyerang, yang akan sangat diandalkan Macan Kemayoran di kompetisi sebenarnya. Jika memang jadi dilaksanakan dan berjalan dengan waras.

Bambang Pamungkas berhasil menjadi aktor penting dalam kisah juara Persija di tahun 2001 karena didukung skuat yang matang dan solid. Simic juga akan sepenting Bambang ketika musim ini Persija bisa lebih konsisten. Dengan situasi yang mendukung, Persija bisa mendapatkan “Sylvano Comvalius” mereka sendiri.



Tirto.ID
Loading...

No more articles