MOJOK.COSeperti yang sudah Mojok Institute prediksi, laga semifinal Liga Champions antara Liverpool vs AS Roma menjadi pertandingan yang sangat seru. Mohamed Salah pemain terbaik!

Liverpool menunjukkan cara terbaik untuk memaksimalkan kemampuan terbaik pemain-pemain, terutama 3 pemain di lini depan yang diisi Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Mohamed Salah. Sementara itu, AS Roma menunjukkan kedisiplinan yang dibutuhkan untuk meladeni kereta cepat bernama Liverpool. Setidaknya di paruh awal babak pertama.

Roma menggunakan 2 cara sederhana untuk meredam agresivitas Liverpool. Pertama, mendorong dua penyerang sayap, Mane dan Salah, ke tepi lapangan. Garis tepi lapangan adalah “bek terbaik”. Mengapa? Ketika pemain lawan terdorong ke tepi garis lapangan, opsi geraknya akan semakin terbatas. Jika tak bisa maju, ia hanya bisa mundur.

Ketika penyerang sayap Liverpool terdorong ke sisi lapangan, Roma juga menyiapkan double team, atau satu pemain menekan dengan satu pemain lagi mengawasi di belakang pemain tersebut. Dengan begitu, cukup sulit bagi Salah, misalnya, untuk masuk ke kotak penalti.

Cara kedua yang diterapkan Roma adalah memaksa pemain-pemain belakang Liverpool melepaskan umpan jauh secepat mungkin. Umpan jauh, dengan kerapatan lini pertahanan yang terjaga, menjadi sangat mudah diantisipasi. Lewat dua cara ini, Liverpool sempat kesulitan mencari kanal serangan, apalagi setelah Alex-Oxlade Chamberlain cedera.

Namun, di paruh akhir babak pertama, situasi berubah. Roma menurunkan konsentrasi mereka sebagai akibat dari kelelahan. Perlu kamu ketahui, aksi bertahan adalah aksi paling sulit di sepak bola. Pun, menjadi aksi yang paling melelahkan. Ketika capai, konsentrasi akan menurun. Ketika konsentrasi lesap, kerapatan pemain menjadi tidak terjaga. Inilah yang dieksploitasi Liverpool.

Baca juga:  Kolom: Menunggu

Beberapa kali, umpan diagonal dari 2 bek sayap bisa mencapai kaki Salah dan Mane. Lagipula, Roma justru melakukan satu pantangan ketika melawan Liverpool, yaitu kehilangan bola di wilayah sendiri. Dua kali kehilangan bola di wilayah sendiri, Mohamed Salah menghukum mantan klubnya itu. Dua gol berkelas membuat Liverpool unggul 2-0 di babak pertama.

Babak kedua, setelah Mohamed Salah diganti

Di awal babak kedua, Liverpool masih bermain dengan kecepatan penuh. Hasilnya sangat telak, tambahan dua gol bisa dipetik ketika Roma masih dalam keadaan terguncang. Awal babak di setiap pertandingan memang waktu yang krusial.

Sayangnya, perubahan terjadi ketika Mohamed Salah ditarik, digantikan Danny Ings. Liverpool kehilangan salah satu kekuatan mereka, yaitu akselerasi. Tempo permainan perlahan menurun, mengizinkan Roma membangun momentum mereka. Tempo yang lebih lambat membantu Roma untuk masuk ke kotak penalti.

Yang dibutuhkan Roma hanyalah kesempatan untuk masuk ke kotak penalti. “Rute Dzeko” menjadi opsi paling mudah karena Roma tak perlu membuang waktu untuk melewati lini tengah Liverpool. Di penghujung babak kedua, Roma berhasil membuat dua gol. Dua gol yang begitu bermakna untuk pertandingan dengan sistem dua leg. Gol tandang menjadi sangat penting.

Gol tandang pula yang menjaga asa Roma ketika kalah dari Barcelona dengan skor 4-1. Situasinya mirip, Roma butuh 3 gol di Stadion Olimpico. Namun, kali ini, tugas Roma akan sangat berat karena Liverpool selalu punya cara untuk membuat peluang, baik kandang maupun tandang. Apalagi, The Reds akan kembali bermain dengan tenaga penuh, ditunjang akselerasi dan serangan balik yang sungguh merepotkan itu.

Baca juga:  Lima Klub Sepak Bola yang Suporternya Selalu Menyebalkan

Leg kedua nanti, jika mampu menjaga gawang Allison tetap steril, Roma punya peluang untuk merepotkan Liverpool (lagi) seperti di paruh akhir babak kedua tadi. Pada akhirnya, pertandingan Liverpool vs Roma adalah jenis pertandingan yang kita cintai. Penuh drama dan banyak gol!