MOJOK.COKejujuran Aubameyang memberi kejernihan, sekaligus kerumitan yang perlu diurai oleh manajemen Arsenal. Bagaimana akhir drama setengah babak ini?

Akhirnya dia angkat bicara. Membuat jernih semua prahara dan prasangka tentang masa depannya bersama Arsenal. Kalimatnya memang menjernihkan segala sesuatu. Namun, pada titik tertentu, juga membuat rumit banyak hal. Namun, kita semua sepakat kalau Pierre-Emerick Aubameyang bisa dan boleh untuk bersikap tegas kepada Arsenal.

Izinkan saya memutar waktu ke belakang, ke medio November 2019, ke sebuah momen ketika manajemen Arsenal menunjukkan diri kalau mereka memang “cacat”. Maafkan saya, kalau kalimat itu terdengar sumbang di telingamu.

Kala itu, di paruh awal November 2019, Granit Xhaka menjadi pesakitan. Performa yang terus menurun tidak mendapat perlindungan dari Unai Emery. Ketika emosinya meletup di tengah lapangan, fans meresponsnya dengan sangat keras. Ujungnya, ban kapten Xhaka dicopot dan dilungsurkan ke Aubameyang.

Ketika resmi menjadi kapten pertama, saya rasa kondisi mental Aubameyang sedang tidak bagus. Sebagai imbas masalah internal yang terjadi di masa kepemimpinan Si Pengecut Emery. Saat itu, Aubameyang justru banyak berbicara kepada fans, dalam hal ini AFTV, dan mencurahkan isi hatinya tanpa disaring.

The Athletic pernah menulis kalau para pemain Arsenal lainnya merasa terganggu dengan kebiasaan Aubameyang. Terutama bagian yang “menyerang” Emery dan Xhaka. Pemain asal Gabon itu teguh kepada pendiriannya dan menyerang balik.

Lewat akun Instagram pribadinya, Aubameyang menulis: “Saya baru saja sampai di Gabon dan mendengar semua omong kosong ini. Saya akan tetap berbicara dengan siapa saja, kapan saja saya mau, dan jika ada yang tidak suka…kamu tahu sikap saya.” Aubameyang, secara terbuka, menyerang rekan, manajemen, dan jurnalis.

Saya mencoba memahami suasana hati si pemain. Bagaimana rasanya ketika kamu sudah bermain semaksimal mungkin, tetapi tim tetap mengecewakan. Kata “tim” merujuk kepada semua elemen yang melekat kepada Arsenal. Ya pelatih, rekan, dan manajemen. Secara psikologis, pemain seperti Auba akan mengejar kesempurnaan. Ambisi, memang harus dimiliki semua pesepak bola profesional.

Baca juga:  Takdir Liverpool adalah Terpeleset di Akhir Musim

Ketika dikecewakan oleh pelatih dan rekan, sangat normal apabila kamu mencari pelarian. Tentu rasanya sangat menyenangkan ketika bertemu “teman” yang satu frekuensi. Seperti Aubameyang dengan Troopz dan AFTV. Pada titik ini, saya mencoba memahaminya.

Namun sekali lagi, yang dilakukan Auba bukan sikap seorang kapten. Seharusnya, dia tidak membawa masalah ini ke media sosial, tetapi menyelesaikannya di dalam “ruang ganti”. Kritik yang sama juga berlaku untuk manajemen. Tidak seharusnya teguran kepada kapten bisa bocor ke media. Bagaimana bisa David Ornstein dari The Athletic mendapatkan informasi itu jika manajemen tidak solid?

Sejak saat itu, saya merasa masa depan Aubameyang bersama Arsenal (mungkin) tidak akan lama. Ketika tidak ada kesamaan visi dan misi di antara klub dan pemain, ikatan kerja tidak akan langgeng. Pemain ingin juara, ingin meraih semua piala yang tersedia, tetapi klub tidak berdaya atau tidak punya ambisi yang sama. Ujungnya adalah omong kosong.

Apalagi, saya dan kamu, tahu betul kalau Aubameyang punya kontribusi yang besar untuk klub. Arsenal dan Unai Emery yang kini sudah minggat itu, harus berterima kasih kepada pemai nasal Gabon itu.

Aubameyang yang jujur dan Arsenal makin pelik

Kepada telefoot, mantan pemain akademi AC Milan itu buka suara….

“Adalah mereka, Arsenal, yang memegang kuncinya. Dan sekarang tinggal mereka bagaimana (soal kontrak baru). Ke depannya, mari kita lihat bagaimana,” kata Aubameyang memberi penegasan.

“Sekarang ini bisa dibilang titik balik di karier saya. Saya selalu jujur kepada semua orang. Dan soal ini, bakal jadi sebuah keputusan yang sulit untuk diambil. Sekarang ini, saya belum menerima tawaran kontrak baru lagi. Namun, yang pasti, pembicaraan dengan klub sudah pernah terjadi,” tambahnya.

Soal kejujuran Aubameyang kepada Arsenal, Eduardo Hagn, memberi penjelasan yang sangat jernih. Pertama, si pemain ingin sebuah garansi dari klub perihal ambisi mengejar gelar juara. Fans Arsenal sudah terlampau sering melihat pemain bagus memilih pergi karena klub yang tidak menunjukkan sisi “ruthless” dan “winning mentality” selama satu dekade ini.

Baca juga:  Hakim Ziyech Harusnya Jadi Pelajaran Bagi Arsenal Terkait Bukayo Saka

Kedua, situasi Aubemeyang memang mirip seperti Fabregas dan van Persie. Cinta mereka kepada klub tidak seperti cinta dari seorang fans. Mereka pemain profesional dengan karier yang pendek dan sedihnya Arsenal tidak pernah bisa menggaransi atau menunjukkan ambisi untuk menjadi yang terbaik.

Ketiga, semoga Arsenal mau mendengarkan kejujuran Aubameyang. Musim lalu, kita melihat kedatangan Nicholas Pepe dengan banderol 80 juta euro. Ambisi seperti itu yang perlu ditunjukkan lagi dengan membangun skuat terbaik. Mengembalikan skuat yang solid dan punya “winning mentality” bakal sangat krusial.

Di awal tulisan, saya menegaskan kalau kejujuran si pemain itu menjernihkan sekaligus memperumit keadaan bagi Arsenal. Jernih, karena sekarang klub tahu harus bagaimana. Rumit, karena membeli pemain bagus artinya investasi dengan nilai besar. Dan di tengah pandemi, membelanjakan uang dalam jumlah besar bukan perkara sederhana.

Rumit, karena jika Aubameyang menjadi lebih ragu, kepergian tidak akan bisa dicegah. Ketika mantan pemain Borussia Dortmund itu pergi, kekuatan Arsenal pasti berkurang separuh. Hanya mengandalkan Lacazette dan Eddie Nketiah tanpa pengganti yang sepadan adalah sebuah langkah “self-destruction” yang sistematis.

Rumit, karena pengganti yang sepadan berarti membelanjakan uang dalam jumlah besar. Rumit, mengingat usia Aubameyang yang sudah 30 tahun membuat investasi kepadanya hanya bersifat jangka pendek. Padahal, investasi kepada si pemain, yang berarti kontrak baru, juga akan membuat Arsenal menggerus tabungan mereka dalam jumlah besar.

Well, pada akhirnya, semua kembali ke seberapa besar ambisi Arsenal. Apakah The Gunners mau merugi demi skuat yang lebih punya winning mentality? Atau kembali menjadikan keuntungan dan keseimbangan kas sebagai patokan nomor 1 di bagian visi dan misi? Semuanya kembali ke seberapa besar “anunya” Arsenal.

BACA JUGA Titik Genting Aubameyang dan Cacat Manajemen Arsenal atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.