[MOJOK.CO] “Di pameran buku saya menemukan orang-orang ajaib yang kadang membuat saya menyesal pernah memilih jalan hidup sebagai pedagang buku.”

Saya adalah pedagang buku yang menyukai pameran buku. Alasannya, karena saya sedikit banyak akan merasakan apa yang ditulis George Orwell di Bookshop Memories: menemukan para pembeli yang belum pernah ditemui dengan segala sikapnya.

Bayangkanlah Anda menjadi saya di pameran buku. Maka, Anda akan duduk di sana selama berjam-jam yang menyenangkan (jika pameran ramai) dan membosankan (jika pameran sepi). Mengamati lalu-lalang orang, membaca raut wajah mereka ketika melihat-lihat buku, dan menghadapai mereka dalam tawar-menawar yang alot.

Saya atau salah seorang tim saya yang telah terbiasa jaga pernah mengalami semuanya. Kami menikmati segala yang terjadi. Sebab, dalam 12 jam dikali 7 hari, selalu ada hal tak terduga dari jenis-jenis pembeli yang tak kalah ajaib. Saya kira Anda perlu tahu beberapa.

Ibu-Ibu Pembenci Buku Mahal dan Tanpa Diskon

Jika Anda menjadi penerbit indie, itu sebuah keadaan yang celaka. Kondisi yang membuat Anda tak punya pilihan kecuali memasang harga tak biasa untuk produk-produk Anda. Seorang ibu, mungkin berusia 40-an, sengaja melengkingkan suaranya agar didengar sekitar, “Macam mana buku tipis begini harganya 59 ribu!” (Seorang Dokter Desa karya Franz Kafka terbitan OAK jadi tumbal perdana). Belum selesai dengan itu, ia menengok ke teman di sebelahnya, “Di toko bisa dapat dua bukuuu!” katanya dengan menekankan bunyi u untuk mencari dukungan yang sepakat bahwa penjual model kami layak dihakimi di tengah kerumunan. Kami hanya bisa diam atau membela diri bahwa itu belum diskon 10% walau sebenarnya itu tidak membantu sama sekali.

Pak Petugas yang Mencurigai Setiap Buku Berwarna Merah

“Apakah ini buku Kiri?” Tewas bagi penerbit Banana ketika On The Road, karya terbaik Jack Kerouac, kena tuding. Saya sebenarnya ingin langsung menunjuk hidung Teguh Purnomo sebagai perancang sampul, tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Saya menjelaskan dengan baik layaknya seorang pedagang. Untuk beberapa tuduhan, Pak Petugas itu benar. Semisal milik Ultimus atau Resist. Sampai saya kembali menahan diri ketika dia menunjuk satu buku warna merah, bergambar singa menyeruput kopi yang dicurigai subversif. Saya mencocokkan wajah Paman Yusi, pengarangnya, dengan bayangan seorang propagrandis komunis. Tidak ada tampang.

Bayangkan bahwa ia mengamati setiap buku dan hanya membolak-balik yang berwarna merah untuk memastikan bahwa dugaannya tidak salah. Saya bersukur, beberapa kawan penerbit telah membuat sampul buku-buku mereka warna-warni. Bahkan Das Kapital untuk Pemula terbitan Resist, berwarna jambon. Kami bisa menarik napas lega.

Ibu-Ibu Poin Pertama Plus Beberapa Pembeli yang Belum Bisa Membedakan Buku Bekas dan Buku Langka

Hasil dari pengalaman perdana membawa rekan-rekan pedagang buku lawas berpameran adalah beberapa dari mereka merasakan apa yang saya rasakan. Jika kasusnya terjadi pada pembeli yang berbeda, saya akan memberi penjelasan dengan sopan. Namun, karena ini adalah ibu di poin pertama tadi, bertubuh agak besar dengan muka masam dan kembali meninggikan nada suaranya, peristiwanya menjadi agak horor.

Baca juga:  Bertahan Hidup ala Indie: Maklumat Irwan Bajang dan Bagustian

“Bah, sudah jelek, bekas, tipis, harganya mahal betulll!” Ia meloloskan huruf l di akhir kata dengan kemantapan demi dilihat pengunjung lainnya. Di saat-saat demikian, saya yakin yang diinginkan rekan-rekan pedagang buku lawas adalah mengubur kepala mereka.

Pengunjung yang dengan Sengaja Mengganti Label Harga

Terjun ke pameran selain membuat kami berinteraksi muka ketemu muka dengan pembeli juga membuat kami harus paham detail apa yang kami jual. Sebagian buku telah kami baca dan dihafal agar dapat merayu pembeli untuk membawa belanjaan ke meja kasir. Dengan menjelaskan isi buku yang ditaksir, kami ingin membuat setiap pembeli yang menenteng buku dari stan kami merasa telah membayar buku bermutu.

Kami boleh merasa cerdik tetapi ada pembeli yang tidak mau kalah. Pembeli yang cerdik adalah mereka yang mengira setiap penjaga stan “bodoh” dan tidak jeli. Mereka mondar-mandir di stan, menerawang wajah penjaga, kemudian berdiam di satu sudut, sengaja hanya menampakan punggung. Mereka menimang dua atau tiga buku, kemudian melepas label harga di satu buku untuk ditempelkan pada buku lain yang mereka inginkan. Apa lagi kalau bukan untuk menebus murah sebuah buku mahal.

Lantas, dengan wajah polos mereka akan ke kasir. Wajah penjaga stan kami memang sekilas polos dan datar (namanya O Lihin), tapi bukan berarti ia bisa diakali. Ia akan menulis harga yang berbeda antara yang tertempel di buku yang telah diubah harganya tadi dan di nota. Ketika ia diprotes, Olih akan menjawab: silakan tetap bayar jika ingin atau pilih yang lain.

Menipu penjaga stan adalah kesalahan fatal. Apalagi penjaga stan buku yang hafal harga di luar kepala. Seperti O Lihin.

Sejoli yang Mencari Buku dengan Judul Mengandung Kata “Cinta

Ini jenis pasangan yang menganggap pameran adalah tempat menyenangkan untuk pacaran. Mereka terus bergandengan tangan saat berebut membelikan buku satu sama lain ketika melihat judul buku dengan kata cinta. Harus diakui di sini, buku Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, adalah jawaban dari generasi jaman now. Mereka tidak tertarik bertanya atau membaca sinopsis sejenak—lebih memilih menyebut nama penulis Puthut Eyyyaaa untuk mencairkan suasana dan membuat satu sama lain tertawa. Kala ditanya mengapa mesti membeli buku ini, ia menjawab dengan syahdu: “Ini masalah perasaan, Mas. Aku harap dia mengerti setelah membaca ini.” Dua kalimat itu disampaikan si lelaki sambil mengelus kepala perempuannya atau si perempuan mencubit lelakinya.

Jika Anda bukan pecinta sejati, kejadian-kejadian demikian akan membuat Anda salah mengambil uang kembalian. Untungnya, semua anak Pojok Cerpen—merek toko kami—lulus dalam hal itu.

Baca juga:  Lima Buku yang Perlu Kamu Baca di Ramadan Tahun Ini

Anak-Anak yang Tengah “Wisata Buku

Ini paling sering terjadi pada pameran tahunan di Semarang. Rombongan anak-anak sekolah dasar akan datang memakai bus atau angkutan umum, mereka datang dari berbagai sekolah dengan tujuan mengenalkan literasi sejak dini. Ini program bagus buat mereka dan buat penerbit mayor yang menjual buku anak, tapi cukup menjengkelkan buat kami.

Mereka akan berkejar-kejaran di stan kami. Membuat buku berantakan dengan memindahkannya ke sana dan sini seolah desain interior yang kami tampilkan di stan adalah wahana bermain. Suatu waktu seorang anak sengaja mengambil buku tebal—saya lupa-lupa ingat apakah itu milik Sejarah Estetika Martin Suryajaya. Dengan polosnya anak itu menggebuk kepala temannya. Saya benar-benar tertawa melihat itu sampai kemudian jatuh iba ketika melihat anak yang digebuk sempoyongan. Saya melerai keduanya kemudian meminta mereka kembali ke rombongan agar lekas masuk ke dalam.

Acara itu biasa berlangsung pagi hari selama satu jam. Sedikit menyiksa memang, tapi kami harus bersabar. Melihat mereka gembira lantas keluar gedung membawa buku yang dibeli walau bukan buku dari stan kami adalah suatu kegembiraan tersendiri.

Penawar yang Menceritakan Kisah Hidupnya dan Menggunakan Berbagai Trik untuk Menurunkan Harga Serendah Mungkin

Menghadapi pembeli tipe ini Anda bukan saja perlu kesabaran, tapi energi dan kata-kata. Mereka punya segala cara untuk memperoleh harga yang mereka inginkan. Entah itu sebagai kepuasan, kebiasaan, atau keduanya. Satu hari seorang penawar menceritakan kisah hidupnya sekaligus menjelaskan betapa jauhnya ia berkendara hanya untuk datang ke pameran ini. Saya melakukan hal yang sama. Apabila dua percakapan kami direkam, itu akan jadi novelet yang tidak buruk. Mungkin berjumlah 60—75 halaman spasi ganda dalam huruf Times New Roman bermarjin 2,5 x 2,5 x 2,5 x 2,5.

Seorang lainnya, mungkin seorang akuntan, mencoba menghitung keuntungan kami setelah tawar-menawar selama dua puluh menit. Sebab, ia merasa tidak puas dengan diskon yang saya berikan. Padanya saya lakukan hal yang sama. Ini konyol, tapi saya beberkan betul bagaimana sebuah buku diproduksi. Membuat corat-coret harga jasa layouting, penyuntingan, bahan baku, royalti, bahkan ongkos “entertain” yang biasa kami sisihkan untuk para pekerja percetakan. Ini salah satu jenis percakapan yang melelahkan.

Ketika melihat kepalanya mengangguk-angguk, saya sudah yakin dia akan menyerah dan mengakhiri semua omong kosong ini. Dugaan saya benar. Dia berjiwa besar untuk mengerti. Apakah itu sebuah pungkasan yang baik? Tentu saja tidak. Ia memilih tidak membeli. Katanya, itu pilihan terbaik buatnya.

Setelah daftar 7 hal menjengkelkan ini lain kali saya akan membuat daftar kebalikannya. Omong-omong, apabila tertarik mencoba sensasi 7 hal di atas, Anda bisa hubungi saya.

Komentar
Add Friend
No more articles