Teror bom di Jakarta beberapa minggu lalu memelantingkan ingatan saya ke belasan tahun silam. Masa di mana saya merasa salah jurusan kuliah di teknik elektro, tapi tak berani memutuskan untuk pindah atau sekalian terjun berdagang ke pasar. “Mundur memalukan, tak mundur kok jadi pupuk bawang,” barangkali demikian kalau ditulis di pantat bak truk.

Saya akan memulai nostalgia ini dengan kejadian pada suatu sore di jalan dalam kampus. Kala itu, saya berjalan kaki bersama kawan yang merupakan partner praktikum di kelas sambil menenteng papan sirkuit yang luasnya seperempat lapangan karambol. Di papan itu tersebar beberapa resistor, kapasitor, dan dioda, belasan IC gerbang logika, serta enam buah seven segment. Tugas kami membuat jam digital.

Sebagai mahasiswa “nasakom”–nasib satu koma–saya merasa bangga betul ketika ada mahasiswa fakultas lain melirik rangkaian ruwet tersebut. Padahal, itu hanyalah mainan lawas yang komponen utamanya buntelan transistor di sebuah IC gerbang logika yang tak bisa diprogram. Apalagi kami juga menyonteknya dari pekerjaan kawan lain. Itupun gagal, sebab ketika saklar dinyalakan dan fungsi-fungsinya diaktifkan, tampilan di seven segment bukanlah angka-angka penunjuk waktu, melainkan serakan huruf paku yang tak akan terbaca oleh arkeolog manapun.

Dalam kebanggaan yang sama pula, ketika melintas di dekat taman fakultas sastra yang sedang penuh mahasiswi, si kawan partner praktikum saya nyeletuk keras-keras bahwa kami bisa membikin bom waktu. “Tinggal belajar membikin detonator elektrik dan meramu bubuk mercon,” katanya. Sesaat, saya pura-pura terkejut, lalu mengimbuhi, “Ho’oh, untuk meledakkan kantor dekan kalau kita kena DO.” Barangkali merasa kebanggaannya saya gebuk dengan menyebut kata ‘DO’ ia lalu merengut: “Soal DO jangan keras-keras to, Ndes!”

Tentu saja tak pernah ada bom meledak di kampus itu. Kami lulus, sekalipun dengan IPK predikat slamet. Dan andaikata kena ‘DO’ pun, kami musykil bikin bom. Selain karena faktor kemampuan, nyali juga cuma sejengkal. Paling banter kami hanya berani mengendap-endap di tengah malam untuk mencuri ikan di kolam fakultas atau mengecor lubang kunci pintu-pintu balairung universitas menggunakan krim semen tepat sehari sebelum wisuda dilaksanakan.

Pastinya saya teringat hal-hal lain juga semasa kuliah. Tapi karena belakangan hal-hal yang berbau agama sedang nge-hits, maka yang akan saya ceritakan selanjutnya adalah beberapa momen yang bersenggolan dengan agama.

Dulu, ketika gagal lolos saringan UMPTN, saya yang muslim ini kemudian mendaftar ke sebuah universitas Kristen yang konon teknik elektronya sangar. Untungnya keluarga saya bukan muslim yang saklek, meskipun orang tua saya tekun melaksanakan semua rukun Islam, kecuali yang belum: pergi haji. Lagipula bapak juga lulusan universitas yang sama. Sebelumnya saya memang sempat bertanya ke bapak soal pengalamannya berkuliah dulu. Seperti, misalnya, apakah ada upaya pembatasan kegiatan beribadah bagi yang non Kristen atau bahkan pemurtadan. Bapak menjawab singkat: “Ra ono.”

Saya pun diterima di universitas tersebut. Dan nyatanya memang tak ada perlakuan diskriminatif atau apalah terhadap mahasiswa muslim atau pun non Kristen lain selama kuliah di sana. Apalagi Kristenisasi, boro-boro. Semua mendapat perlakuan setara. Mahasiswa muslim pun bebas melaksanakan sholat. Di salah satu gedung tersedia mushola, lengkap dengan sajadah, sarung, mukena, dan tempat wudhu berserta sandal japitnya. Namun, karena sudah menjadi kebiasaan, di fakultas saya biasanya orang sholat di ruang SeMa (Sekretariat Mahasiswa), laboratorium skripsi, atau ruang-ruang UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Bahkan kalau mau riya’ sekaligus sedikit akrobatik, boleh saja sholat di puncak gedung perpustakaan.

Tak ada pula pandangan aneh apalagi sinis ke para mahasiswi ataupun dosen yang berjilbab. Sebagaimana tak ada yang gumun tiap melihat salah seorang kakak angkatan saya yang hobi betul mengenakan kaos-lengan-buntung berwarna kuning serta bernomor punggung dua lengkap dengan gambar beringin di bawahnya.

Saat bulan Ramadhan tiba, ibadah puasa juga lancar saja. Tak ada gerakan atau apalah yang mengajak mokah (membatalkan puasa) berjamaah. Memang kantin tetap buka tiap hari Rabu dan tetap menjual sambal tumpang koyor yang enaknya lahir batin dunia akhirat itu. Akan tetapi, jangankan di dalam kampus, di sudut-sudut kampung dan kota pun warung tetap buka. Ya biasa saja, yang puasa tetap puasa, yang tidak silakan jajan. Sementara yang sehat tapi mokah, tentu itu hanya soal niat. Kalaupun ada yang berbeda, paling-paling kegiatan nongkrong di kantin agak dikurangi, diganti bobo siang bareng di ruang baca perpustakaan yang karpetnya selalu bersih, atau klekaran di studio radio kampus sambil lirak-lirik ke Cik Hana, salah seorang kembang kampus, yang sedang siaran.

Nah, karena negara ini menginginkan tiap lulusan perguruan tinggi memiliki kepribadian yang mantap berdasar nilai-nilai agama dan kebangsaan, maka di kampus saya pun ada MKU (Mata Kuliah Umum) tentang agama dan kewarganegaraan. Dan namanya saja universitas Kristen, tentu mata kuliah agamanya pun agama Kristen. Kami yang muslim wajib mengambilnya. Tapi, tenang, jangan panas dulu, Gan. Eman-eman kepalamu nanti jadi gerobak angkringan. Di dalam kelas, alih-alih terjadi Kristenisasi, yang ada malah dialog antarumat. Kalau ada tugas membikin makalah boleh berdasar agama masing-masing. Dan soal-soal ujiannya pun umum-umum saja. Buktinya saya mendapat nilai A, satu dari tiga nilai bagus yang saya punya.

Ada satu kejadian menarik. Pernah satu ketika, kelas yang saya ambil jatuh di hari Jumat jam 11 sampai dengan jam 1 siang. Itu artinya bertepatan dengan waktu Jumatan.

Begini ceritanya. Ketika itu adalah masa awal komputerisasi sistem registrasi mata kuliah di kampus saya. Komputer masih menjadi barang mewah dan laptop masih sering dikira telenan kecelup aspal. Itu pun dengan kecepatan prosesor kisaran ratusan megahertz saja, sepersekian dari kecepatan prosesor gawai yang sekarang kamu pegang. Telepon-pintar-bertunyuk-jempol masih berada dalam mimpi malam Steve Jobs. Dan koneksi internet, halah, tak beda jauh dengan lari Vespa endog saya. Sudah begitu, server kampus pun sering ambruk jika dikeroyok ribuan pengunjung. Untuk mensiasati, banyak mahasiswa yang kemping dulu semalaman di parkiran depan lab komputer biar besok paginya bisa lebih dulu memilih kelas yang diinginkan.

Apes bagi saya, saat semestinya hari itu registrasi, saya justru bangun kesiangan. Akibatnya, saya terpaksa mengambil salah satu mata kuliah yang jamnya bertepatan dengan sholat Jumat. Modyar.

Akan tetapi, pada praktiknya, izin Jumatan ke dosen saat mata kuliah itu ya mudah-mudah saja. Walaupun, jujur, saya tak selalu benar-benar pergi ke Masjid Kauman yang jaraknya cuma setendangan gawang dari gerbang kampus. Ada kalanya saya malah belok ke kantin kampus, bergabung dengan kawan-kawan yang sedang nongkrong atau asyik pliritan (judi memakai nomer seri uang kertas). Sikap dosen yang mempersilakan mahasiswa muslim pergi Jumatan atau sholat lain, nyatanya juga tak cuma saya yang mengalami. Dari cerita yang saya dengar, kawan-kawan di fakultas lain pun sama. Malah ada pula dosen yang mempersilakan sholat begitu adzan terdengar, kecuali saat subuh. Sebab selama saya kuliah belum ada kelas jam 4 sampai dengan 6 pagi. Entah sekarang.

Di sela-sela menulis catatan ini, saya iseng browsing iklan penjualan tanah di Salatiga. Dalam pencarian tersebut, saya menemukan beberapa iklan yang mencantumkan sebuah persyaratan bagi calon pembeli: “Maaf khusus muslim”.

Ealah, beragama kok mbentoyong betul tho, Gan. Lagian memang tanah situ sudah dapat sertifikat halal dari MUI?

No more articles