Pengalamanku Jadi Korban Doxing, Kena Mental!

surat korban doxing

Sebenarnya, saya tidak tahu harus mengeluh kepada siapa. Anggap saja ini curahan hati saya tentang pengalaman buruk yang pernah saya alami menjadi korban doxing.

Saya menjadi korban doxing (tindakan menyebar identitas atau informasi pribadi seseorang tanpa izin melalui internet. Umumnya, doxing dilakukan untuk melecehkan atau merusak citra korbannya). Seseorang telah menyebarkan foto pribadi saya tanpa izin dan menggunakannya sebagai foto profil Facebook disertai dengan narasi seolah-olah saya adalah perempuan nakal. Saya mencurigai pelakunya adalah seseorang yang pernah dekat dengan saya beberapa tahun sebelumnya, karena cuma dia yang punya foto itu. 

Saya sudah melaporkan akun itu ke Facebook, tapi laporan saya tidak diterima karena foto itu tidak dikategorikan sebagai foto telanjang (fotonya hanya menampilkan bagian wajah dan pundak). Padahal jelas-jelas saya mencentang opsi “menggunakan foto pribadi orang lain”. Jujur, saya kecewa sekali dengan Facebook karena solusi-solusi yang diberikan kepada saya tidak ada yang berguna. 

Saya juga sudah meminta baik-baik kepada pelaku untuk menghapus foto itu. Namun, ia malah menolak mengaku dan menuduh saya menyebarkan foto saya sendiri. Lucu sekali ya? Ha..ha..ha…. 

Tindakan saya juga tidak berhenti di situ. Saya mencoba mencari bantuan ke IG @cybercrimeid. Namun, laporan saya tidak direspons sama sekali. Itu juga lucu. Kalau tidak berminat menanggapi, kenapa di profil IG-nya harus tertulis: “Laporkan Tindakan Kejahatan Cyber di Sekitar Anda”. 

Saya akhirnya menyerah meminta bantuan karena sudah tidak sanggup lagi. Karena kejahatan doxing itu, saya mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Butuh waktu cukup lama untuk saya bisa pulih dan bisa tidur nyenyak lagi. Butuh waktu lama juga sampai saya tidak malu lagi bercerita kepada orang-orang terdekat saya. 

Saya tidak berani lapor polisi karena takut makin dilecehkan. Saya tidak yakin orang-orang akan membantu saya, atau malah menyalahkan saya karena sudah berani berbagi hal pribadi dengan orang lain. Selama ini, begitulah yang terjadi di sekitar saya. Ketika perempuan menjadi korban kejahatan digital seperti ini, lagi-lagi cuma pihak perempuan yang disalahkan karena tidak bisa menjaga diri, padahal perempuan adalah korbannya. 

Ke depannya, saya cuma berharap agar kejahatan seperti doxing itu lebih ditanggapi dan direspons karena itu sangat menyerang mental. Saya juga ingin berpesan kepada pembaca, jangan pernah percaya siapa pun. Orang yang saat ini baik kepadamu, bisa jadi nanti akan sangat menyakitimu. 

Sekian, semoga ada yang membaca surat saya. 

Dwi Ratna Fitriatin Najikhah, Bojonegoro, Jawa Timur
borakamala5@gmail.com.

Uneg-uneg, keluh kesah, dan tanggapan untuk Surat Orang Biasa bisa dikirim di sini

 

Exit mobile version