Kelakuan Pengguna Mobil di Surabaya Bikin Orang Banyak-banyak Istigfar

Kelakuan Pengemudi Mobil di Surabaya Bikin Orang Banyak-banyak Istigfar MOJOK.CO

Ilustrasi Kelakuan Pengemudi Mobil di Surabaya Bikin Orang Banyak-banyak Istigfar. (Mojok.co)

Sebagai anak daerah yang merantau untuk kuliah di Surabaya, saya kira culture shock saya cuma soal makanan, kualitas air, atau nada bicaranya warga Surabaya yang kasar dan ceplas-ceplos. Ternyata ada yang lebih membuat saya syok, yaitu pengguna mobil di Surabaya. 

Saya nggak tahu apakah pengendara motor di Surabaya termasuk minoritas. Tapi yang saya rasa, jumlah pengguna mobil di jalanan Surabaya itu banyak sekali. Yang bikin sumpek bukan mobilnya, melainkan kelakuan pengemudinya. 

Pengemudi mobil di Surabaya suka ambil posisi seenak jidat

Pertama, saya akan bilang pengemudi mobil di Surabaya itu seenaknya sendiri kalau lewat jalan sempit. Sempit di sini artinya satu jalur hanya cukup untuk satu mobil dan satu motor. Yang bikin geregetan adalah ketika pengemudi mobil suka ambil posisi seenak jidat kalau di jalanan seperti itu. 

Mereka santai melenggang dengan kecepatan statis. Posisi mobilnya nggak nganan, nggak ngiri. Kami, pemotor yang ada di belakang jadi serba bingung. Mau nyalip dari kanan, takut ada kendaraan dari arah berlawanan. Nyalip dari kiri ruangnya nggak cukup. Astaghfirullah, repot! 

Masih nyambung dengan polah sebelumnya, pengemudi mobil di Surabaya kalau dikasih jalan sempit, repot, dikasih jalan lebar, repot juga. Kalau ada ruas jalan yang lebarnya bisa muat dua sampai tiga mobil, semua lajurnya mereka penuhi. Yap, lajur kanan, tengah, sampai lajur kiri. 

Kita yang naik motor ini cuma bisa nyelepit-nyelepit di antara barisan mobil di kemacetan. Itu pun kalau barisnya rapi. Kalau nggak rapi, kita juga ikutan mandek dengan terpaksa. Baru bisa jalan kalau mobil yang menghalangi kita maju dikit. 

Baca halaman selanjutnya

Pengendara motor yang selalu kalah, karena kena serobot

Pengendara motor yang selalu kalah, karena kena serobot

Itu pun sering dapat klakson kalau-kalau kita hampir menyenggol spion mobilnya. Saya nggak sekali dua kali mikir, “Lha kalau semua lajur penuh mobil kayak gini, kita yang naik motor harus lewat mana, Gusti!”

Keresahan saya nggak berhenti sampai sini. Yang juga sangat menyebalkan adalah kebiasaan pengemudi mobil di Surabaya yang main serobot. Mobil yang sedari tadi santai di lajur kanan, kagetnya pas sudah dekat tikungan, eh, baru nyalain sein dan motong ke kiri. 

Akhirnya, kita yang dari belakang mau tidak mau mengurangi kecepatan atau bahkan terpaksa berhenti. Saya sebagai pemotor yang pantang ngerem mendadak (demi menjaga kemaslahatan kampas rem) merasa terzolimi oleh aksi penyerobotan ini. Kalau niat belok kiri, mbok ya dari tadi ambil lajur kiri, to.

Bapak saya sopir truk antarkota antarprovinsi. Sebagai anak sopir truk, saya paham etika berkendara di jalanan, minimal tahu mana yang benar mana yang bisa memicu emosi pengemudi lain. 

Jalanan itu tempatnya orang capek, sesama pengguna jalan mestinya saling menghargai. Kata bapak saya, di jalanan itu nggak cukup cuma bisa nyetir. Perlu koordinasi yang bagus antara tangan kaki, otak, sama hati. Makanya saya bisa bilang, pengemudi mobil di Surabaya bikin emosi banget. Nggak terbiasa misuh karena saya anak daerah, saya lebih memilih untuk banyak istighfar saja.

Arizqa Novi Ramadhani, Jalan Rungkut Tengah, Gunung Anyar, Kota Surabaya ramadhaninovi98@gmail.com

BACA JUGA Surat Cinta untuk Petugas Parkir Liar di Jakarta yang Cuma Modal Peluit dan keluh kesah lain dari pembaca Mojok di UNEG-UNEG

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sini.

Exit mobile version