Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Smokol

Terpujilah Wahai Engkau Penemu Seblak dan Cuanki

Nurjanah oleh Nurjanah
24 Desember 2016
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di antara sekian banyak makanan khas Sunda, ada dua makanan fenomenal yang membuat saya ingin sekali mengetahui siapa penemunya. Pada titik tertentu, saya bahkan sampai berkhayal, seandainya saya menjadi Gubernur BI, maka saya akan mengabadikan gambar mereka dalam pecahan uang rupiah terbaru Indonesia.

Bukannya lebay, tapi menurut saya, dua makanan khas Sunda ini memang istimewa. Dan jujur, saya ingin sekali tahu, siapa penemunya.

Pertama, penemu seblak

Bagi Anda yang baru mendengarnya, saya perlu tekankan bahwa makanan ini cukup dilafalkan seblak saja. Huruf ‘e’ dalam kata seblak tidak perlu dilafalkan menjadi ‘eu’ seperti dalam kata peuyeum, atau ‘e’ seperti dalam kata ember.

Sementara untuk Anda yang rajin mengaji dan tinggi ilmu tajwid-nya, huruf ‘b’ dan ‘k’ di sana juga tidak perlu dilafalkan menggunakan hukum bacaan Qalqalah. Jadi, biasa saja.

Lantas, apa itu seblak?

Seblak adalah makanan beraroma khas yang terbuat dari kerupuk mentah —umumnya kerupuk Sumber Sari warna oranye— yang biasanya direbus terlebih dahulu kemudian dimasak dengan bumbu sederhana berbahan dasar bawang merah, bawang putih, cengek a.k.a cabe rawit, dan cikur alias kencur. Keberadaan kencur inilah yang membuat seblak memiliki cita rasa dan aroma yang khas.

Penampakan seblak memang tidak begitu menggiurkan. Tapi, tekstur kerupuknya yang kenyal, wangi kencur yang lambat laun menyusup ke dalam lubang hidung, serta rasa gurih plus pedasnya cengek akan menggoyang manja lidah Anda. Pokoknya, hau jek sen cing ping lah.

Pada umumnya, seblak memang disajikan dengan rasa pedas. Oleh karena itu, makanan ini sering kali dikategorikan ke dalam famili makanan pedaseae (maksa, sih). Pada level tertentu, terutama ketika cengek yang digunakan adalah cengek merah dan dibuat saat si ibu penjual seblak sedang PMS atau badmood, niscaya pedasnya akan meledak di mulut, memekikkan telinga, hingga membuat air mata (juga leho a.k.a ingus) mengucur tak tertahankan.

Seblak ini sebenarnya terdiri dari dua jenis, yaitu basah dan kering. Seblak kering lebih mirip kerupuk bumbu pedas saja, cuma teksturnya agak keras karena tidak digoreng hingga mengembang. Sementara yang paling fenomenal adalah seblak basah. Seblak basah ini sendiri terbagi dua, ada yang berkuah dan ada juga yang tidak. Nah, seblak basah inilah yang dari tadi saya ceritakan.

Belakangan, seblak hadir dengan berbagai bahan pendamping —iya, bahkan seblak pun sudah bosan hidup sendiri. Ada yang ditambah telur, jamur, ceker ayam, tulang, bakso, sosis, dan lain sebagainya. Untung saja tidak ada yang ditambahi dengan beling atau paku payung (yakali… debus). Bahan utamanya pun kini sudah beragam, tidak melulu kerupuk. Ada makaroni, batagor kering, siomay kering, hingga basreng (baso goreng). Semoga tidak ada penjual yang iseng menggantinya dengan Caviar.

Terpujilah wahai engkau penemu seblak…

Kedua, penemu cuanki

Ada banyak versi mengenai cara penulisan makanan ini. Ada penjual yang menulisnya dengan kata biasa saja, yaitu cuanki, tapi ada juga yang menulisnya dengan cuanky (ejaan basa Sunda-American), cuankie (ejaan basa Sunda-British), hingga chuanky (sepertinya ini dialek Irish English dioplos Sunda Cianjur). Namun, walaupun tulisannya berbeda-beda, tapi pelafalannya tetap satu jua: cuangki.

Iklan

Cuanki adalah makanan yang umumnya terdiri dari bakso ukuran kecil atau pun besar, tahu putih atau kuning, dan siomay. Jadi, cuanki tidak merujuk pada satu makanan tertentu, melainkan gabungan dari aneka makanan yang tumplek dalam satu mangkuk lengkap dengan kuah beningnya.

Dalam beberapa kasus, terutama ketika lapar akut, seporsi cuanki ini dapat juga ditambahi dengan mi. Tapi, mi yang digunakan bukan mi kuning seperti dalam mi bakso. Mi yang digunakan biasanya mi instan —sebut saja Indomie. Dalam kasus yang lebih ekstrem, seperti saat lapar stadium lanjut, seporsi cuanki juga dapat ditambahi dengan sepiring nasi. Untuk yang satu ini, si mamang cuanki tidak menyediakannya.

Rasa cuanki ini begitu gurih, terutama bagian kuahnya. Saat memakannya, Anda tidak akan peduli berapa banyak kadar penyedap rasa yang digunakan si mamang cuanki untuk bisa menimbulkan rasa gurih tersebut. Dan menurut saya, rasanya akan lebih nendang lagi kalau ditambah cuka dan sambal yang banyak. Niscaya rasa gurih dan pedasnya akan sulit terlupakan.

Seiring dengan jumlah fans fanatik cuanki yang semakin meningkat, penjual cuanki pun kini memperluas wilayah kekuasaannya. Dari yang awalnya hanya area kampung atau perumahan warga, kini mereka sudah melakukan invasi ke berbagai area publik lain seperti area pertamanan di kota Bandung.

Saking luasnya wilayah kekuasaan tukang cuanki ini, seorang teman bahkan sempat bercerita bahwa mereka bahkan bisa ditemukan di area pendakian gunung Papandayan. Ya ampun, Mang, meni jarambah tea jualan teh.

Selain itu, cuanki sebenarnya sudah banyak dijual di tempat yang lebih layak, seperti di kedai makan sampai hotel.

Tapi sebagai cuanki’s junkie, saya percaya bahwa cuanki sejati itu dijual oleh mamang-mamang dengan cara dipikul dan pikulannya berbentuk kotak warna perak metalic yang begitu shiny. Titik. Tak lupa, si mamangnya harus bawa pentungan kayu kecil berbunyi “tok-tok-tok” —semoga tidak ada tukang cuanki yang kelewat kreatif sehingga mengganti bunyi pentungannya dengan nada telolet. Amiiin Ya Rabb…

Ya, begitulah. Dua penemu makanan yang begitu saya kagumi dan sampai sekarang belum saya temukan siapa mereka.

 

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2019 oleh

Tags: cuankifeaturedRupiahseblakSunda
Nurjanah

Nurjanah

Artikel Terkait

Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)
Pojokan

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Sunda Wiwitan, Sunda, Ciung Wanara.MOJOK.CO
Histori

Ciung Wanara, Simbol Perlawanan Rakyat Menghadapi Tirani Tanpa Kekerasan

23 Oktober 2025
Tasikmalaya Bikin Malu: Santri, tapi Fitnah Hindia Memuja Setan MOJOK.CO
Esai

Saya Malu Menjadi Orang Tasikmalaya, Kota yang Menolak Hindia karena Tuduhan Pemuja Setan tapi Membiarkan Oknum Kiai Cabul ke Santriwati

17 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.