Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Smokol

Bertahan Hidup di Jakarta dengan Gorengan

Choirul Rama Saputra oleh Choirul Rama Saputra
17 Juli 2017
A A
Bertahan Hidup di Jakarta dengan Gorengan

Bertahan Hidup di Jakarta dengan Gorengan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tak bisa dimungkiri, gorengan adalah primadona bagi sebagian orang yang mencari nafkah pas-pasan (seperti saya) di Jakarta.

Melebihi kerupuk, sambal, atau kecap yang butuh pendamping, gorengan punya keunggulan tetap nikmat disantap dengan atawa tanpa nasi. Rasanya yang gurih menjadi warna ketika kita makan nasi, tetapi bahan dasarnya yang berupa tepung membuat kita dapat kenyang meski dimakan tanpa karbohidrat lain, apalagi di momen-momen tanggal tua.

Iklan

Di Jakarta, gorengan adalah makanan semua bangsa. Bukan hal aneh melihat mbak-mbak dengan rok span dan tatanan make-up yang menawan tampak sedang berdiri di dekat jembatan penyeberangan sambil memegang kresek gorengan di tangan kiri dan bakwan di tangan kanan. Mungkin kita memang tidak menemukan gorengan di meja sajian coffee break rapat perusahaan, tetapi coba saja sajikan, kita akan lihat bahwa gorengan lebih dulu ludes dibanding browniesnya.

Betapa hebatnya kecintaan kita pada gorengan, mungkin selain nasi padang dan nasi goreng, gorengan adalah makanan yang bisa terjumpa di seantero Nusantara. Membuat saya bertanya-tanya, siapa penemu gorengan sebenarnya? Dari mana asalnya? Di mana makamnya? Saya angkat topi untuknya, siapa pun dia.

Kesuksesan gorengan menjadi primadona ini tidak terbatas pada lokasi. Mau dijual berdekatan dengan kantor, bisa. Pinggir sekolah/universitas, cocok. Seberang masjid atau gereja, masuk. Apalagi di terminal bus, paten. Sebagai komoditas yang saya bisa katakana pro-kebinekaan, kesuksesan gorengan tidak hanya terletak pada gorengan itu sendiri, tapi juga andil dari para penjualnya.

Para penjual gorengan memiliki beberapa keandalan yang sulit kita tolak kebenarannya. Pertama, mereka layak disebut orang yang memiliki time management yang baik karena mampu bekerja di bawah tekanan waktu. Maksudnya, para penjual gorengan ini harus mengatur kapan melayani pembeli, yang notabene cukup variatif. Ada yang beli borongan, ada juga yang ambil satu-satu lalu bayar di akhir. Jenis yang  terakhir ini paling potensial menimbulkan kerugian.

Mereka juga harus membagi waktu dengan tepat ketika mengaduk gorengan di kompor yang sudah ter-install pada gerobak. Dalam waktu sesingkat ini, wajar saja saya kira jika para penjual gorengan berusaha bertindak efektif. Contohnya, dengan langsung menuang minyak beserta plastiknya ke penggorengan yang sudah panas. Hal ini bisa mempersingkat waktu dibanding harus membuka plastik minyak yang tentu akan membutuhkan waktu lebih.

Belum lagi bila memperhitungkan aktivitas lain mereka seperti mengecek HP, membaca berita-berita online, menelepon pacar, dan segudang aktivitas di depan HP lainnya yang juga saya sebagai masyarakat kelas tanggung miliki.

Kedua, mereka memiliki kemampuan menakar, hal ini berhubungan dengan rawit yang disertakan sebagai pelengkap hidangan gorengan. Bayangkan jika kemampuan menakar mereka buruk, mungkin sekali jumlah rawit yang diberikan per plastik gorengan kurang. Cabai yang kurang adalah pantangan nomor satu bagi usahawan kuliner di Indonesia. Di negara ini, warung bisa laris manis hanya karena sambelnya enak dan bisa bisa bangkrut, seenak apa pun masakannya, hanya karena sambalnya tidak enak.

Tapi, cabai yang berlebihan juga tidak baik, bisa membuat penjual gulung tikar. Dapat kita pahami bersama bahwa harga cabai masih tinggi di Indonesia hingga Menteri Perdagangan menyuruh kita semua menanam cabai di pekarangan sendiri agar bisa mencukupi kebutuhan pribadi. Solusi yang efektif tapi tidak efisien memang. Tapi, kita masih beruntung harga cabai yang mahal. Bayangkan jika harga beras yang mahal, apa iya kita diminta menanam di pekarangan sendiri atas nama swasembada?

Poin ketiga perihal andalnya para penjual gorengan di Ibu Kota adalah mengenai risiko pekerjaan. Para pebisnis makanan gurih ini tiap hari bekerja di dekat api yang sistem perapiannya minim perlindungan keamanan.

Dengan mempertaruhkan keselamatan diri sendiri, penjual gorengan dan gerobaknya yang tanpa asuransi tetap sedia memberi sayuran-sayuran, tepung, tempe, tahu, singkong, ubi, dan pisang molen terbaik mereka kepada kita kaum menengah yang lapar serta butuh fast food dengan harga terjangkau karena gaji kita habis untuk mencicil iPhone keluaran terbaru. Ponsel canggih dan gorengan cukup layak dijadikan kombinasi gaya hidup yang balance.

Sesungguhnya, saya termasuk golongan orang-orang yang zalim karena terlambat menyadari betapa tinggi cita rasa yang diberikan gorengan ini. Segala puji bagi semua penjual gorengan di Jakarta, yang pakai micin banyak maupun tidak, yang pakai membungkus dengan kresek hitam maupun pakai kresek tapi dilapisi keras koran dulu.

Krauk.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2017 oleh

Tags: gorenganjakartakerupukNasi PadangSambal
Choirul Rama Saputra

Choirul Rama Saputra

Artikel Terkait

Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Kompetisi Campus League 2026 - Basketball Regional Bandung Season 1 menjadi saksi terjalinnya kerja sama antara Campus League dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bertujuan untuk membangun ekosistem olahraga jangka panjang dan pembentukan karakter mahasiswa MOJOK.CO
Kilas

Campus League Basketball Season 1 Regional Jakarta: Jadi Ajang Pembuktian Diri di Level yang Berbeda

25 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial MOJOK.CO

Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial

25 Juni 2026
Umbul Wadon Plunyon, Kalikuning. MOJOK.CO

Umbul Wadon: Jantung Air Kota Jogja di Balik Panorama Indah Plunyon Kalikuning yang Terkesan Seram

26 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.