Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Yth. Kandidat Pilkada 2020, Hentikan Politik Basa-basi dan Jualan Kaum Milenial

Ken Supriyono oleh Ken Supriyono
13 Oktober 2020
A A
Dinasti Politik Cuma Tema Basi yang Dilempar oleh Calon Kering Imajinasi terminal mojok.co

Dinasti Politik Cuma Tema Basi yang Dilempar oleh Calon Kering Imajinasi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bisakah kandidat pemenang pilkada 2020 kelak, membantu memecahkan cicilan KPR dan rekening kaum milenial yang sudah kosong di tengah bulan? Jika berani, mari ngopi dan tinggalkan politik basa-basi yang usang. Kami, “kaum milenial” siap terlibat dalam politik baru yang mencerahkan.

Pertanyaan sekaligus tawaran ini, saya ajukan secara terbuka kepada siapa pun kandidat yang maju di pilkada 2020. Tawaran yang menurut saya (secara usia saya masih kategori milenial) konkret sebagai persoalan kaum milenial. Setidaknya dari pengalaman saya dan curhatan-curhatan teman sesama kaum milenial di pojok warung kopi, saya memahami beberapa hal. Ya, bahwa beratnya cicilan KPR dan rekening yang sering kering kerontang sebelum tutup bulan, cukup memusingkan kepala kami.

Terasa menyebalkan ketika ada politisi di pilkada 2020 yang obral janji. Bahkan menjadikan milenial sebagai komoditas bahan kampanyenya. Lantas amnesia begitu dilantik menjadi penguasa.

“Milenial, kok transaksional. Pesimistis dan nggak menawarkan gagasan.” ujar seorang kawan menanggapi ucapan saya melalui media sosial.

Benar, benar, sekali. Ini transaksional. Mungkin juga pesimistis. Tapi, tidak pula basa-basi gimik politisi. Mereka biasanya bilang, politik itu tanpa mahar, politik gagasan, politik dengan visi-misi, dan lain-lain. Yang begini ini justru sudah gimik, ujungnya, bagi-bagi remah kue kekuasaan.

Maka, tidak pula mengherankan jika iklan kampanye kandidat di pilkada 2020 layaknya casting sinetron Indosiar. Ditambah meme-meme foto plus kutipan motivasional untuk memaksakan si kandidat tampak lebih muda. Ada yang (berpura-pura) berubah menjadi milenial dengan mengubah penampilan secara artifisial. Ada yang mengajak sanak famili, kerabat, dan kolega untuk turut memeriahkan dan memberi dukungan. Bahkan bayar endorsement artis, selebgram-selebtwit-seleb facebook.

Singkatnya, kandidat sampai tim pendukung calon kepala daerah nggak mau kalah melabeli diri sebagai yang paling dekat dengan milenial.

Saya pinjam celotehan teman saya, Fatih Zam di status Facebooknya. “Di kotaku sedang musim pilkada. Macam-macam ujarannya. Saatnya milenial blablabla, tanpa mengerti milenial itu apa dan seperti apa yang ingin diperlakukan. Pula ucapan, semua hal ditentukan oleh politik, maka jangan berpangku tangan. Tapi ujarannya mendangkalkan laut politik sekadar kontestasi, poles janji, dukung mendukung, dan setelahnya bagi-bagi.”

Baca Juga:

Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang

Pemilihan Bupati Sidoarjo Disambut Dingin oleh Warga, Harap Maklum Masih Trauma

Ucapan ini mengingatkan saya pada pemeo lawas, “Hidup dimulai di usia 40 tahun.” Dan kali ini saya modifikasi tambahan baru “Tapi, dalam politik, kami semua milenial.” Maka lihatlah berlakunya kembali pemeo lawas itu pada pilkada 2020.

***

Sudah cukup untuk berbasa-basi. Apalagi, jika menjadikan milenial sebagai komoditas bahan kampanye di baliho. Terkesan elok sebagai citra, tapi tidak sebagai fakta. Sebalnya lagi, baliho itu dipasang tanpa mengindahkan tata letak keindahan. Mulai di pohon-pohon, tiang-tiang listrik, dan pengkolan jalan sampai tanah lapang pemakaman. Ah, mungkin politisi juga korban reality show Dunia Lain yang ingin para pemburu hantu juga mengenal mereka.

Boleh saja baliho-baliho kampanye artifisial itu dipasang untuk menyemarakkan kampanye. Tapi, selain memperhatikan tata letak keindahan, yang penting nantinya kompatibel dengan pelaksanaan program kerja nyata, Bos. Tidak halu, agar sesuai pesan Pak Jokowi, “Kerja, kerja, dan kerja.” Eh, tapi kok malah dikerjain. Maaf keceplosan.

Tapi, bukankah faktanya begitu? Presiden punya stafsus milenial, meski belum terdengar kerjanya apa. Kecuali, saat rame-ramenya surat cinta Andre Taufan Garuda Putra (salah satu stafsus milenial) kepada camat-camat untuk melibatkan perusahaannya dalam penanganan pandemi Covid-19. Saya tak perlu panjang lebar, toh doi juga sudah menjadi mantan.

Apalagi ada masalah yang tak kalah krusial bagi kelompok milenial kebanyakan, yang masih kesulitan membeli rumah karena mahalnya tanah-tanah di perkotaan. Mungkin saya sendiri sedikit beruntung. Saya tinggal di kota kecil yang masih ada program rumah bersubsidi, meski harus mencicil 10 sampai 20 tahun, okelah. Tapi, mereka yang tinggal di perkotaan? Silakan survei saja, sebagaimana Anda (para kandidat pilkada 2020) melakukan survei popularitas dan elektabilitas.

Sistem kerja yang fluktuatif turut menjadi faktor penyebab milenial terus berpindah-pindah pekerjaan dan menerima upah pas-pasan, khususnya di sektor buruh. Inilah problem struktural yang butuh obat penyembuhnya tanpa politik basa-basi.

Politik basa-basi yang mengobral janji untuk menggaet milenial adalah kata-kata yang memuakkan untuk kami dengar. Lagi pula, milenial tak butuh bujuk rayu palsu itu. Yang kami butuhkan, para kandidat pilkada 2020 punya jurus jitu sebagai solusi persoalan yang menurut saya klasik sekaligus sistemik.

“Ah, itu kan itu cuma kamu saja, milenial yang malas, apatis, dan pesimistis.” Seru seorang kawan menyanggah lagi. Ia kemudian membandingkan saya dengan sosok semacam Adamas Belva Syah Devara, dan Andi Taufan Garuda Putra yang pernah jadi stafsus. Termasuk Angela Tanoesoedibjo, Putri Indahsari Tanjung, hingga Gibran Rakabuming Raka, dan sosok-sosok milenial yang konon sukses merintis dunia usaha lalu melenggang ke gelanggang politik. 

Ya, perbandingan kawan saya mungkin itu tidak salah, tapi juga tidak benar. Pertanyaannya, apakah sosok seperti mereka itu cukup representatif dalam mewakili milenial yang konon jumlahnya sekitar 34% dari total penduduk Indonesia? 

Ditambah lagi, mereka mendapat privilese sejak lahir. Dapat fasilitas pendidikan dari bapaknya yang sudah menguasai korporasi bisnis. Milenial lain yang kurang beruntung bisa apa? Tentu cuma bisa browsing profil mereka melalui Wikipedia dan meratapi betapa hidup tidak adil. 

***

Milenial memang idealnya tidak boleh pesimistis. Harus optimistis! Mungkin inilah kesialan saya, yang pernah kena doktrin senior kampus untuk membaca Beyond Good and Evil, Friedrich Wilhelm Nietzsche. Buku yang bikin pusing kepala sekaligus menumbuhkan jiwa pesimistis saat melihat perilaku politik gincu yang mengebiri lompatan kemajuan.

Di satu sisi, dunia telah memberikan kegemerlapan yang mengasyikan ala TikTok, YouTube, dan medsos lain. Lah sedangkan saya kok masih bicara buku yang memusingkan? Sampai-sampai lupa, ruang hiburan itu pun mulai disusupi para politisi dan buzzer buat mengampanyekan politik basa-basi dalam jargon rayuan pada kelompok milenial.

Saya tahu Anda (para kandidat pilkada 2020) sedang berpikir dan bekerja keras menggaet suara kelompok milenial. Begitu juga saya yang sedang berpikir dan bekerja keras mencari jalan keluar setelah ada pesan pemberitahuan, bahwa cicilan KPR sudah jatuh tempo, sementara rekening kering kerontang.

Sekali lagi, hentikan politik basa-basi yang isinya jualan kaum milenial. Kami siap terlibat, tapi seiring bukan digiring. Ayo ngopi! 

BACA JUGA Suka Duka Saya Ketika Menjadi Fans DPR RI. Biasmu Siapa, Hyung?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2020 oleh

Tags: MilenialPilkada
Ken Supriyono

Ken Supriyono

Esais - Jamaah Penikmat Kopi Hitam Tanpa Gula

ArtikelTerkait

Lupakan Kaesang Pangarep, Otong Koil Sosok Paling Ideal Memimpin Sleman! (Unsplash)

Lupakan Kaesang Pangarep, Otong Koil Sosok Paling Ideal Memimpin Sleman!

9 Juni 2023
Auto Base

Auto Base dan Kecenderungan Bersembunyi di Balik Akun Anonim

24 Oktober 2019
Daftar Kombinasi Tokoh Anime yang Cocok Jadi Paslon Kepala Daerah terminal mojok.co

Daftar Kombinasi Tokoh Anime yang Cocok Jadi Paslon Kepala Daerah

13 Desember 2020
Pilkada 2020 yang Terlaksana di Tengah Pandemi Sudah Sangat Tepat, kok! terminal mojok.co

Pilkada 2020 yang Terlaksana di Tengah Pandemi Sudah Sangat Tepat, kok!

12 Desember 2020
Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol terminal mojok.co

Menggugat Alasan Mendaki Gunung Para Pemula: Sebuah Percakapan Nyinyir

8 Juni 2019
Dinasti Politik Cuma Tema Basi yang Dilempar oleh Calon Kering Imajinasi terminal mojok.co

Kami Tidak Berniat untuk Golput, tapi Kami Bingung Mau Memilih yang Mana

27 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Layak Diperebutkan, Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi Mojok.co

Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi

28 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.