Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Nadiem Makarim, Milenial di Pemerintahan yang Membuat Hidup Orang Miskin Terasa Menjadi Makin Sial

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
26 Juli 2020
A A
Belajar Sabar Layaknya Nadiem Makarim POP muhammadiyah NU setuju sampoerna terminal mojok.co

Belajar Sabar Layaknya Nadiem Makarim POP muhammadiyah NU setuju sampoerna terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Jadi, apa saat ini apa Mas Nadiem Makarim akan seperti Pak Jokowi di 2015 ketika beralibi: “Saya tidak tahu apa yang saya tanda tangani.”

Revolusi industri 4.0 menjadi kunci kenapa generasi milenial mulai diperhitungkan di ranah politik. Revolusi Industri sendiri berarti perubahan besar dan radikal terhadap cara memproduksi barang. Perubahan tersebut selalu berpengaruh pada ekonomi, politik, bahkan budaya.

ADVERTISEMENT

Sepertinya seluruh dunia sepakat dengan kredo “generasi milenial mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu semalam”. Di banyak negara, pengaruh milenial ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi.

Di Austria ada Sebastian Kurz yang menjadi Menteri Urusan Luar Negeri dan Integrasi dilantik pada 2017 di usia 33 tahun. Di India ada Anupriya Patel, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga, menjadi menteri di usia 35 tahun. Uni Emirat Arab pada 2016 punya Shamma Al Mazrui sebagai Menteri Urusan Kepemudaan, dilantik di usia 22 tahun.

Berbeda dengan milenial di negara-negara lain yang masuk ke pemerintahan lewat proses panjang, selain punya kemampuan di bidang masing-masing juga andal di politik karena juga punya karier cemerlang di partai. Sementara itu, Nadiem Makarim tak punya rekam jejak yang sama.

Meski begitu, saat membaca berita kalau Nadiem Makarim, bos Gojek, dipanggil ke istana, saya langsung berharap banyak karena beberapa kali melihat sendiri tantangan yang harus dihadapi guru di pelosok (terutama luar Jawa).

Tapi harapan itu langsung luntur saat mendengar pidato Nadiem Makarim di Hari Guru Nasional. “Nggak akan ada perubahan,” ucap saya dalam hati.

“Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama.”
“Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.”

Baca Juga:

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

“Gojek, Mengapa Tak Menyapa Jumantono? Apakah Kami Terlalu Pelosok untuk Dijangkau?” Begitulah Jeritan Perut Warga Jumantono

Pidato Nadiem Makarim tersebut banyak dipuji dan viral. Mengutamakan kemanusiaan lah, menteri yang humanis lah, realistis tanpa banyak janji lah. Saya malah nggak paham, letak kebaruan pidato tersebut ada di mana, sih? Satu-satunya yang baru adalah pidato itu dibawakan dalam bentuk video.

Tagar “merdeka belajar” dan “guru penggerak” di pidato tersebut juga tak bisa dipahami, tidak dijelaskan apa yang akan dilakukan oleh negara dalam hal ini Mendikbud sebagai upaya untuk merealisasikan. Apa yang akan diperoleh guru dari misi di dua tagar ini selain uraian rencana kerja ideal yang disebut Mendikbud?

Menteri, sebagai pejabat negara, punya wewenang yang memang struktural, bisa merancang kebijakan terkait hajat hidup orang banyak, lah kok malah minta orang-orang yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya di pekerjaan itu untuk gotong royong.

Bagi sebagian guru, terutama yang honorer, gotong royong sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Tak perlu diminta lagi.

Guru bukan mitra Gojek, Mas Nadiem Makarim. Bukan motivasi kerja yang diperlukan guru dari seorang pejabat negara yang berkuasa mengelola dana APBN.

Dengan cara pandang seorang menteri terhadap masalah seperti ini, perubahan seperti apa yang diharapkan? Memahami masalah saja belum tentu. Nadiem Makarim, dengan latar belakangnya yang cemerlang, menjadi potret bahwa privilese adalah jalan menuju kesuksesan. Masyarakat dari kelas sejahtera punya dunia yang sangat berbeda dengan mereka yang miskin.

Sebuah ironi, meminta seseorang dengan segudang privilese memahami persoalan orang-orang yang tak punya privilese.

Dan benar, setelah terjadi pandemi, orang miskin makin menangis. Makan susah, apalagi untuk sekolah. Sistem belajar online membuat hidup orang miskin bagai tertimpa sial tak berkesudahan. Yang awalnya bersekolah hanya butuh buku tulis dan alat tulis sekarang juga membutuhkan gadget dengan spesifikasi bagus, plus kuota internet.

Gadget yang menjadi barang tersier, sekarang adalah kebutuhan primer bagi pelajar dan guru. Sudah punya gadget pun belum tentu terjangkau sinyal internet. Sedangkan Mas Nadiem Makarim malah kaget sinyal internet belum menjangkau seluruh wilayah. Padahal informasi soal ini melimpah ruaah. Kaget saja tak membawa perubahan, apa yang dilakukan negara bagi mereka yang susah payah menjalani proses belajar lewat daring selama pandemi sampai saat ini?

Yang terbaru, lolosnya dua yayasan bentukan perusahaan swasta, yaitu Yayasan Putera Sampoerna dan Yayasan Bhakti Tanoto di program dana hibah untuk peningkatan kualitas guru. Dua yayasan tersebut adalah bentukan korporasi sebagai kewajiban kegiatan pengabdian masyarakat, kenapa malah dapat dana dari APBN? Apa keputusan seperti ini masuk akal?

Hanya dari situ saja sudah “failed”, pertegas kenyataan bahwa Nadiem Makarim memang tak memahami masalah. Jangankan memikirkan nasib guru honorer, atau guru swasta yang mengisi kekurangan tenaga pendidik yang dikelola oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah, memutuskan mana organisasi yang seharusnya dapat dana hibah saja masih sarat “conflict of interest”.

Kabarnya, soal dana hibah ini, adalah tanggung jawab Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril. Jadi Mas Nadiem Makarim tak tahu-menahu.

Jadi, apa saat ini apa Mas Nadiem Makarim akan seperti Pak Jokowi di 2015? Kasus Perpres 39/2015 tentang pemberian fasilitas uang muka bagi pejabat negara untuk pembelian kendaraan perorangan, saat diprotes publik alasan yang diucap adalah, “Saya tidak tahu apa yang saya tanda tangani.”

BACA JUGA Thermo Gun Memang Berbahaya karena 3 Alasan Ini dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2022 oleh

Tags: gojekMilenialnadiem makarimrevolusi 4.0
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

aksi mahasiswa

Kalau Aksi Mahasiswa Jadi Revolusi, The Revolution Will Be Cute As Hell!

2 Oktober 2019
Nadiem Makarim dan Teks Pidato untuk Hari Guru yang Penuh dengan Harapan Baru MOJOK.CO

Nadiem Makarim dan Teks Pidato untuk Hari Guru yang Penuh dengan Harapan Baru

25 November 2019
Kawula Milenial: Menggugat Sistem Kerja Bakti Tanpa Wedang terminal mojok.co

Kawula Milenial: Menggugat Sistem Kerja Bakti Tanpa Wedang

1 Februari 2021
Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

10 September 2024
milenials

Prasangka dan Generalisasi Terhadap Milenials

20 Juni 2019
faldo maldini politisi muda mojok (1)

Faldo Maldini dan Fenomena Politisi Muda Rasa Boomer

15 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah Mojok.co

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah

26 Juni 2026
Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

27 Juni 2026
Drama Tumbler di XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

Beli Kopi Pakai Tumbler Memang Ramah Lingkungan, tapi Plis, Dicuci Dulu, Jangan Minta Baristanya Nyuci Tumbler Kalian!

22 Juni 2026
4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul daripada Stasiun Solo Balapan di Mata Saya Mojok.co

4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul Dibanding Stasiun Solo Balapan di Mata Saya

22 Juni 2026
Jalanan Surabaya yang "Liar" Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas Mojok

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

24 Juni 2026
Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.