Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Ya Tuhan, Mengapa Ghibah Itu Menyenangkan?

Iassaswin oleh Iassaswin
6 Juli 2019
A A
ghibah

ghibah

Share on FacebookShare on Twitter

Kebiasaan membicarakan kebaikan atau pun keburukan orang seperti sudah menjadi bumbu penting dalam pergaulan umat manusia. Di Indonesia sendiri hal itu memiliki sebutan bergosip. Sementara dari sisi budaya ketimuran dikenal dengan istilah ghibah.

Bilamana diibaratkan pangan, maka bergosip atau ghibah ini sudah setara dengan nasi. Makan apapun tanpa nasi, terasa kurang bukan? Begitupun dalam sebuah kehidupan sosial. Nongkrong tanpa adanya aktivitas ghibah, orang bisa jadi merasakan adanya interaksi sosial yang hilang, lho?

Dalam sebuah jurnal psikologi, peneliti mengemukakan bahwasanya rata-rata manusia menghabiskan waktunya selama kurang lebih 52 menit per hari guna membicarakan orang lain atau bergosip. Mereka pun melakukan itu guna berbagi tentang informasi orang-orang yang berada di sekitar mereka.

Hal yang mendasari mengapa manusia itu doyan berghibah tidak lain dan tidak bukan karena insting dasar manusia itu sendiri, yang gemar mengumpulkan informasi sekaligus gemar berinteraksi. Sebagai makhluk sosial pula mereka tidak bisa hidup tanpa orang lain. Jadi dengan bergosip pada mulanya mereka diharapkan agar mampu mengenal orang di sekitarnya lebih dekat.

Berdasarkan catatan sejarah, kemampuan manusia dalam hal membicarakan orang lain didapat ketika memasuki fase Revolusi Kognitif atau Revolusi Pengetahuan yang terjadi pada sekitar 70.000 sampai dengan 30.000 tahun yang lalu.

Berkat perkembangan ukuran otaknya yang signifikan Manusia atau Homo Sapiens kemudian dianugerahi kemampuan yang baik dalam berbahasa dan berkomunikasi. Pada mulanya mereka menggunakan kemampuan itu guna berkoordinasi ketika ada bahaya atau berburu.

Eh seiring berjalannya waktu, kemampuan berbahasa mereka mulai dipergunakan pula untuk hal lain. Semacam ghibah tentang orang lain di kelompoknya atau pun wanita janda yang mereka idam-idamkan.

Masuk ke zaman sebelum kemerdekaan di Indonesia, kebiasaan bergosip atau berghibah pun kiranya banyak dilakukan oleh masyarakat kita yang terjajah. Misal nih waktu itu mereka kesal dengan aktivitas kerja yang dibebankan oleh Belanda, para pekerja akan bergunjing;

Baca Juga:

Working Mom Mending Tinggal di Perumahan agar Terhindar dari Tetangga Nyinyir

Dear, Tetangga. Apalah Artinya Rumah Gede, Pagar Tinggi, kalau Nggak Punya Bel? Nyusahin!

“Ah sialan nih orang Londo! Bisanya nyuruh mulu. Sedangkan mereka cuma iso diem dan nunjuk. Dasar si tukang jajah! Padahal ini tanah lahirku toh, kok jadi aku yang diperbudak begini ya? Dasar londo anjay!!”

Lalu pekerja lain pun akan menimpal dengan berkata: “Iyah nih si Londo anjay!” dan berikutnya tujuh pekerja lain pun berpikiran yang sama “benar nih londo anjay betul berani ngerjai kita, ayo lawan!” Dari situlah mungkin pemberontakan dimulai. Ghibah is revolution.

Masih di Indonesia. Masuk ke era 90-an, kebiasaan bergosip dan berghibah pun identik dengan aktivitas yang extreme di masa ini. Kenapa bisa jadi ekstrim? Karena beberapa para aktivis demen nya ghibah tentang hal yang berhubungan dengan kedzaliman pemerintah nan berkuasa selama 32 tahun lamanya.

Kala tahun-tahun yang mencekam itu, konon jika ditemukan orang yang terbukti membicarakan tentang hal-hal berbau kritikan serta tuduhan miring pada pemerintah, besok nya langsung babak belur. Jika tidak babak belur besoknya langsung babak dua, alias hilang. Kalu besoknya tidak hilang akan ada besoknya, besoknya, dan besoknya….. Jadi, kalau masa itu saya menulis ini, bisa jadi besoknya saya libur dari dunia. HAAAAAAAA~~~  *nada suara Tretan dan Coki MLI

Beralih ke zaman now. Di televisi kebiasaan ghibah atau membicarakan orang lain umumnya banyak dipraktikkan oleh para Ibu-ibu yang sedang berkumpul di tukang sayur. Dari kemasan acara sih hampir mirip-mirip dengan seminar gitu. Di mana Abang tukang sayur bertindak sebagai moderator sekaligus time keeper, sementara ada satu Ibu yang bertindak sebagai kompor narasumber, dan Ibu sisanya adalah audiens atau penonton.

Biasanya acara dimulai dengan Abang sayur yang berteriak “sayur-sayur”. Kemudian beberapa Ibu-ibu datang mengerubungi si Abang sambil sesekali menanyakan harga dan menawar sayur nya. Nah, si narasumber biasanya datang belakangan. Ia biasanya membuka obrolan dengan kalimat “eh permisi Ibu-ibu. Maaf nih telat beli sayur nya, maklum abis dari rumah si A, yang habis rame itu lho” satu Ibu-ibu pun penasaran “rame kenapa tuh bu?” Narasumber biasanya senang dengan pertanyaan itu.

Tanpa segan Ia akan langsung menjawab secara seksama dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya. Sebagai reward atas pertanyaan itu, cerita akan langsung disambung dengan gosip-gosip terbaru yang Ia punya. Ya bisa jadi di real life, obrolan tadi memakan waktu sekitar satu jam. Untungnya hal itu bisa diakhiri oleh Abang sayur yang menggertak dengan berkata “Udah gosip nya? Jadi pada mau beli sayur nggak nih?”

Semenjak hadirnya sosial media di kehidupan manusia, pola-pola ghibah dan gosip konvensional seperti di atas pun mulai beralih platform ke virtual. Jangan kaget bila kemudian dalam sebuah grup WA, pasti ada lagi sub grup yang dihuni oleh sebagian kecil manusia, yang kerjanya membicarakan tentang orang-orang di grup tersebut.

Sebagai mas-mas millenials, saya pun punya sub grup yang berisi manusia yang gemar melakukan ghibah. Aturan main dalam grup kami ini sederhana, adalah;

  • Pertama, kamu harus meng-ghibah-kan orang yang dikenal oleh semua anggota grup.
  • Kedua karena ini ghibah online maka jika kamu mau memulai ghibah, kamu harus memberikan materi/bahan baik berupa percakapan digital, screen shot postingan, video, atau jejak digital sejenis. Diikuti kalimat obrolan berisikan maksud dari bahan ghibah tersebut.
  • Keempat, setiap orang bebas untuk berbicara, menanggapi, mengatai, memaki, dan mengejek, objek ghibah selama masih di dalam grup.
  • Kelima, bila ada sesuatu di dalam grup yang ingin dipublikasi, harap menyembunyikan identitas nama grup dan nama pengirim.
  • Keenam, sangat diperbolehkan meng-ghibah-kan anggota sendiri di dalam grup untuk menghindari terciptanya sub ghibah lain.
  • Ketujuh, kerahasiaan isi obrolan di grup harus dijaga. Minimal clear chat dua minggu sekali.
  • Kedelapan, bilamana hp hilang, maka anggota harus segera melaporkan agar segera dihapus atau kick dari grup, dan bila isi grup tersebar sepenuhnya jadi tanggungjawab pribadi.
  • Kesembilan, left group = hapus ingatan!

Semenjak bergabung dengan grup ghibahku itu, aku mendapatkan banyak informasi baru tentang si A, kelakukan si B, alay nya si C, kocaknya si D, dan bobrok nya tingkah laku si E. Dari ghibah itu pula aku belajar arti solidaritas dan keterikatan pertemanan yang kuat karena kita membenci orang-orang yang sama. Ghibah seolah memberiku energi untuk hidup. Ya Tuhan, mengapa ghibah itu menyenangkan?

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: ghibahGosipngomongin orang
Iassaswin

Iassaswin

ArtikelTerkait

fabrizio romano mojok

3 Profesi yang Cocok untuk Fabrizio Romano Andai Beliau Pindah ke Indonesia

24 Juli 2021
bipolar disorder depresi penyakit mental masa lalu mojok

Masa Lalu Orang Bukan Konsumsi Umum, Gaes!

18 Oktober 2020
ngomongin orang

Kemunafikan yang Tersirat Pada Kalimat, “Bukannya Mau Ngomongin Orang, ya..”

6 Juli 2019
Working Mom Mending Tinggal di Perumahan agar Terhindar dari Tetangga Nyinyir

Working Mom Mending Tinggal di Perumahan agar Terhindar dari Tetangga Nyinyir

17 Januari 2024
wartawan gosip artis lambe turah mojok

Tuhan Menutup Aib Kita, tapi Wartawan Gosip Tidak

23 April 2021
Top Chart: Program Musik kok Isinya Gosip?

Top Chart: Program Musik kok Isinya Gosip?

19 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja Mojok.co

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja

8 Februari 2026
Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti Mojok.co

Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti

9 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak (Wikimedia Commons)

Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak: Sebuah Usaha Menghapus Cap Makanan Nggak Jelas dari Jidat Sate Taichan

7 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.