Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung

Arsyindah Farhan oleh Arsyindah Farhan
10 Maret 2026
A A
Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung Mojok.co

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Warga lokal Jakarta nggak tahu rasanya mudik Lebaran ….

Disclaimer, saya bukan orang Betawi. Bapak dan ibu saya juga bukan orang asli Jakarta. Kakek dan nenek dari orang tua saya berasal dari luar Jakarta. Namun, sebagian besar hidup saya habiskan di kota ini. Begitu pula dengan ibu saya. Jadi, walau bukan orang Betawi dan bukan asli Jakarta, saya merasa Jakarta adalah kampung halaman. Saya warga lokal alias warlok Jakarta. 

Perasaan sebagai warlok Jakarta semakin kuat ketika Lebaran. Saya nggak perlu menempuh perjalanan jauh dan keluar banyak duit untuk demi merayakan Lebaran bersama keluarga. Di daerah asal orang tua sudah nggak ada lagi tetua yang bisa disambangi. Terlebih, ibu saya yang tumbuh besar di Jakarta, beliau seolah nggak punya kampung halaman. 

Keluarga dan orang-orang terkasih yang kerap kami kunjungi saat Lebaran semuanya tinggal di Jabodetabek. Rumah mereka bisa dijangkau dengan KRL nan murah meriah. Seumur-umur Lebaran bersama keluarga di luar Jakarta hanya bisa dihitung dengan jari dan itu sudah terjadi lama sekali. 

Ngga mudik memang hemat, tapi …

Itu mengapa, saya kurang relate dengan keluhan orang-orang yang hendak mudik menjelang Idulfitri. Terlebih ketika ekonomi sedang carut-marut seperti sekarang ini. Biaya mudik katanya terasa semakin mahal.  

Di satu sisi saya bersyukur tinggal berdekatan dengan keluarga dan orang-orang terkasih. Saya bisa tabung pendapatan yang masih seadanya untuk keperluan lain. Saya bisa simpan untuk buat beli rumah, ponsel baru, atau sekadar jadi uang dingin yang entah untuk apa ke depannya. Secara, biaya hidup di Jakarta memang nggak waras. 

Di sisi lain, perasaan nggak relate dengan kawan-kawan yang mudik kadang bikin penasaran, bahkan iri. Saya nggak bisa merasakan euforia mudik yang dilakukan oleh sebagian besar orang Indonesia. Terlebih orang Jakarta yang kebanyakan perantauan.  

Jakarta tempatnya para perantau

Setiap tahun Jakarta kedatangan orang-orang dari berbagai daerah. Mereka mengadu nasib di Jakarta demi hidup yang lebih baik. Akibatnya, ketika Lebaran tiba, Jakarta jadi terasa kosong. Para perantau ini mudik ke kampung halaman demi berkumpul keluarga. 

Baca Juga:

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan

Walau menguras dompet, tenaga, dan waktu, mudik jadi sesuatu yang selalu dilakukan tiap tahun. Dan, sebagai warga lokal Jakarta, saya cuma bisa melihat peristiwa itu di depan mata. 

Kadang saya merasa kasihan melihat mereka melakukan segala cara demi mudik. Saya pernah melihat orang yang pulkam naik motor bonceng tiga dan membawa barang seabrek. Belum lagi ngomongin dana. Perjuangan mengumpulkan dana buat mudik kadang bikin ngelus dada. Ongkos perjalanan, duit buat THR keponakan, beli oleh-oleh, dsb.

Banyak banget biaya yang harus dikeluarkan kalau mau mudik dengan totalitas. Saya terbayang sekali perjuangan beratnya menyisihkan uang di tengah gaji pas-pasan dan harga kebutuhan yang makin nggak ngotak.

Warga lokal Jakarta kasihan, ngga bisa mudik

Anehnya, di tengah fenomena mudik para perantau Jakarta, kadang saya justru merasa kasihan dengan warlok Jakarta, dengan orang-orang seperti saya ini. Saya dan banyak warlok Jakarta cuma bisa menjadi penonton euforia mudik. Sementara, Lebaran kami ya cuma gini-gini aja, hambar dan sepi. 

Nuansa hari raya hanya terasa sampai zuhur. Selepasnya, kayak hari-hari biasa. Menu santan-santan yang awalnya menggugah selera, lama-lama jadi biasa aja. Ujung-ujungnya, bikin mi instan atau beli jajan lain karena enek makan santan melulu. Mau kumpul dengan keluarga yang lain, mereka punya agenda masing-masing. Sudah sulit sekali untuk berkumpul di satu tempat dalam satu kesempatan.

Jujur saja, ada perasaan iri yang tumbuh terhadap para perantau yang berjuang mati-matian untuk bisa pulang ke kampung halaman. Mereka punya tujuan yang mulia. Perjuangan mereka membuat pertemuan dengan keluarga terasa lebih bermakna.

Dari mereka saya belajar betapa berharganya bisa merayakan Lebaran bersama orang tua. Sedangkan saya, sering kali masih menyepelekan momen tatap muka sehari-hari dengan keluarga. Malah, kadang saya lebih pilih nongkrong bersama teman.

Belum lagi suasana ramai Lebaran di kampung. Sesuatu yang sudah sangat sulit saya temui dan rasakan. Di Jakarta, kotanya super sibuk dan masyarakatnya banyak yang individualis. Keramahtamahan rasanya hanya formalitas.

Walau banyak yang menceritakan pengalaman buruk mereka pas di kampung halaman, saya tetap ingin merasakan lagi Lebaran di desa. Pasalnya, yang dulu saya rasakan nggak demikian. Malah, yang saya ingat hanya indahnya aja.

Walau katanya banyak yang bakal julid dan jadi wartawan dadakan, saya juga ingin merasakannya. Saya ingin menjawab mereka dengan savage. Harusnya sih saya bersyukur, karena di keluarga saya nggak ada yang demikian. Tapi, saya penasaran saja sensasinya. Saya sudah bosan dengan rutinitas Lebaran di Jakarta yang begini-begini saja. 

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: IdulfitriJakartaLebaranmerantauMudikperantau
Arsyindah Farhan

Arsyindah Farhan

Tukang kue yang suka menuangkan unek-uneknya lewat tulisan. Kuliah keguruan, tapi akhirnya lebih pilih bisnis home made biar bisa menemani ibu di rumah.

ArtikelTerkait

Sleeper Bus Juragan 99 Trayek Malang Jakarta, Bus "Angkuh" yang Bikin KA Eksekutif Jadi Nggak Worth It bus malang-jakarta kereta api eksekutif

Sleeper Bus Juragan 99 Trayek Malang Jakarta, Bus “Angkuh” yang Bikin KA Eksekutif Jadi Nggak Worth It

5 Juli 2024
Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil terminal mojok.co

Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil

16 September 2020
Jakarta vs Jawa: Kenapa Orang Jabodetabek Merasa Berbeda?

Jakarta vs Jawa: Kenapa Orang Jabodetabek Merasa Berbeda?

15 Maret 2025
Pondokgede, Kecamatan yang Sering Disalahpahami: Dikira Jakarta, Padahal Bekasi!

Pondokgede, Kecamatan yang Sering Disalahpahami: Dikira Jakarta, Padahal Bekasi!

3 Maret 2024
hujan di bulan juni

Bulan Juni Kali Ini Tidak Hanya Soal Hujan Ala Pak Sapardi

2 Juni 2019
Culture Shock Mahasiswa Solo yang Merantau ke Jogja, Ternyata Biaya Hidupnya Lebih Mahal  Mojok.co politik jogja

Culture Shock Mahasiswa Solo yang Merantau ke Jogja, Ternyata Biaya Hidup Lebih Mahal 

27 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort Mojok.co

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

6 Mei 2026
Sisi Gelap Gamping Sleman yang Jarang Dibicarakan Orang

Gamping, Gerbang Masuk Barat sekaligus Tempat Bersejarah di Jogja yang Kehilangan Harga Dirinya

7 Mei 2026
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku

6 Mei 2026
4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh

10 Mei 2026
Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus (Unsplash)

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

8 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri
  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.