Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Warga Sleman Tidak Butuh Gembira Loka, Kami Sudah Dikelilingi Mini Zoo Sendiri

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
29 April 2025
A A
Warga Sleman Tidak Butuh Gembira Loka, Kami Sudah Dikelilingi Mini Zoo Sendiri

Warga Sleman Tidak Butuh Gembira Loka, Kami Sudah Dikelilingi Mini Zoo Sendiri

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai warga Sleman tulen yang sejak lahir sudah akrab dengan bau pupuk kandang, suara ayam tetangga, dan aroma mercon di malam takbiran, saya merasa tidak perlu jauh-jauh ke Gembira Loka hanya untuk melihat rusa atau memberi makan kelinci. Kenapa? Karena, demi Tuhan, Sleman sekarang ini sudah seperti ekosistem mini zoo nasional.

Boleh dibilang, dalam radius 20 km dari rumah saya, sudah ada lebih dari tiga kebun binatang mini dengan konsep interaktif, edukatif, instagramable, dan tentu saja, bisa menghipnotis anak-anak balita sampai orang dewasa yang pengin healing tapi tetap terhubung dengan kehidupan satwa. Dari Suraloka Interactive Zoo di Kaliurang, Jogja Exotarium di jalan Magelang, sampai Bhumi Merapi yang kayaknya selalu ada di FYP TikTok kalau buka topik liburan keluarga.

Dan saya sadar, fenomena ini bukan cuma soal tempat wisata. Ini tentang bagaimana Sleman diam-diam membangun peradaban sendiri yang membuat warganya enggan minggat ke kota sebelah. Kita tidak butuh Gembira Loka, karena kebun binatang kami ada di halaman sendiri.

Suraloka Interactive Zoo: Mini Zoo Rasa Montessori di Sleman

Pertama kali saya ke Suraloka, saya pikir ini cuma tempat ngopi yang kebetulan ada rusa lewat. Ternyata saya salah besar. Tempat ini seperti gabungan antara kebun binatang mini, playground anak, dan Instagram corner yang vibes-nya anak sultan homeschool.

Ada lebih dari 20 jenis hewan di sini. Dari burung macaw, iguana, sampai domba merino yang bulunya lebih lembut dari mantan yang udah move on. Tiketnya juga ramah dompet: Rp40.000 untuk weekdays dan Rp50.000 untuk weekend (per April 2025). Dengan harga segitu, anak-anak bisa belajar tentang hewan secara langsung, bukan cuma dari buku IPA halaman belakang.

Selain itu, mereka juga menyediakan kelas interaktif seperti memberi makan hewan, memerah susu kambing, bahkan berkebun. Saya melihat sendiri bocah-bocah kecil pakai overall warna pastel memegang wortel dan ngasih makan kelinci. Lucunya minta ampun, walau saya curiga lebih banyak yang ngincar konten buat Instagram Stories ibunya daripada belajar ekosistem.

Jogja Exotarium: Dari Reptil Sampai Rusa Totol

Kalau kamu lebih suka vibes edukatif yang agak serius tapi tetap fun, Jogja Exotarium bisa jadi pilihan. Lokasinya gampang diakses dari jalan Magelang, dan tempat ini memang sudah lama jadi langganan outing TK dan SD sekitar Sleman.

Dengan tiket Rp35.000, kamu bisa lihat koleksi hewan dari berbagai jenis: reptil, unggas, mamalia, sampai ikan. Anak-anak bisa main outbound, belajar cara ternak, bahkan ikut pelatihan dasar tanggap bencana (ini serius!). Tempat ini lebih fokus ke edukasi berbasis lingkungan, jadi cocok buat keluarga yang pengin liburan sambil nambah nilai plus di raport anak.

Baca Juga:

Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat

Boleh Saja Menata Ulang Pedestrian, tapi Pemerintah Sleman Jangan Lupakan Jalan Rusak dan Trotoar Tidak Layak yang Membahayakan Warganya

Saya sendiri cukup terkesima melihat anak-anak 5 tahun diajari cara menangani ular piton. Zaman saya dulu, umur segitu palingan baru bisa buka Doraemon halaman tengah.

Bhumi Merapi: Mini Zoo+Spot Foto+Peternakan Swiss KW

Nah, Bhumi Merapi ini agak unik. Tempat ini seperti kombinasi antara kebun binatang mini, museum satwa, peternakan KW Swiss, dan studio foto konsep rustic. Lokasinya ada di kaki Gunung Merapi, jadi udaranya sejuk, cocok buat healing sambil foto aesthetic.

Yang membedakan Bhumi Merapi dari lainnya adalah konsep visualnya yang niat banget. Ada rumah hobbit, rumah Turki, kampung Arab, sampai peternakan ala Eropa. Semua disulap jadi spot foto instagramable, dan di sela-selanya ada kambing etawa dan domba dorper yang bisa diajak foto bareng.

Harga tiketnya Rp35.000–Rp50.000 tergantung hari dan paket. Jujur, saya sempat berpikir ini lebih cocok disebut “taman selfie berbalut peternakan” ketimbang mini zoo, tapi ya sah-sah saja. Yang penting orang datang, hewan bahagia, dan dompet tidak boncos.

Kampung Satwa Kedung Banteng: Lokalitas dan Edukasi di Satu Tempat di Sleman

Ini salah satu hidden gem di Sleman bagian barat. Kampung Satwa Kedung Banteng punya konsep lebih sederhana tapi sangat edukatif. Dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar, tempat ini jadi ruang belajar tentang satwa yang menyatu dengan kehidupan desa.

Anak-anak bisa belajar memberi makan sapi, ayam, bebek, dan kelinci, sekaligus belajar tentang konservasi dan ekosistem lokal. Nggak ada spot foto fancy, nggak ada cafe dengan latte art, tapi nilai edukasinya dapet banget. Tiket masuknya pun sukarela. Sungguh, ini bentuk wisata edukatif yang kembali ke akar.

Mini Zoo, Mini Peradaban

Melihat menjamurnya mini zoo di Sleman, saya jadi berpikir: ini bukan cuma soal wisata. Ini adalah bentuk perlawanan halus terhadap sentralisasi wisata di Jogja kota. Bahwa Sleman, yang dulu cuma dikenal karena sawah dan kabupaten penyangga, kini pelan-pelan membangun peradaban mandiri. Wisata tidak lagi harus ke tengah kota. Keluarga tidak perlu ke Gembira Loka untuk liburan. Semuanya sudah ada di sekitar.

Dan ini bukan cuma perasaan. Data dari Dinas Pariwisata Sleman menunjukkan bahwa pada 2023, kunjungan wisata ke destinasi alternatif seperti Suraloka dan Bhumi Merapi menyumbang hampir 30% dari total kunjungan wisatawan ke Sleman. Ini angka yang nggak main-main. Artinya, warga Jogja dan sekitarnya mulai melihat Sleman sebagai destinasi utama, bukan cadangan.

Sleman dan Masa Depan Wisata Edukatif

Sebagai warga Sleman, saya bangga. Anak-anak kami bisa mengenal hewan dari dekat tanpa harus naik bus pariwisata ke Gembira Loka. Orang tua bisa liburan sambil ngopi. Peternak lokal bisa dapat pemasukan tambahan dari program interaktif. Dan hewan-hewan bisa hidup di lingkungan yang (semoga) lebih layak.

Kalau tren ini terus berkembang, bukan nggak mungkin Sleman akan jadi pusat wisata edukatif berbasis hewan di Indonesia. Dan itu terjadi bukan karena kita ingin menyaingi Gembira Loka, tapi karena kita tahu: belajar bisa dari mana saja, bahkan dari kambing yang lagi makan rumput di bawah kaki Merapi.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Suraloka Interactive Zoo, Kebun Binatang Mini di Jogja dengan 3 Kelebihan dan Kekurangan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 April 2025 oleh

Tags: gembira lokamini zooSlemansuraloka
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Jika Dilan Lahir di Sleman, Mending Suporteran ketimbang Yang-yangan! Begini Jadinya Cerita Dilan dan Milea Jika Pidi Baiq Orang Bantul

Jika Dilan Lahir di Sleman, Mending Suporteran ketimbang Yang-yangan!

14 Juni 2020
Secangkir Jawa, Rekomendasi Tempat Nongkrong Orang Madura di Jogja yang Rindu Kampung Halaman

Secangkir Jawa, Rekomendasi Tempat Nongkrong Orang Madura di Jogja yang Rindu Kampung Halaman

17 November 2023
Tidak Ada yang Lebih Tabah dari Mahasiswa yang Tinggal di Bantul, Kuliah di Sleman, dan Motoran  Mojok.co

Tidak Ada yang Lebih Tabah dari Mahasiswa yang Tinggal di Bantul, Kuliah di Sleman, dan Motoran 

1 Juni 2024
Pertigaan Kanisius Deresan Jogja Titik Kebencian Baru Bagi Warga (Pexels)

Pertigaan Kanisius Deresan Jogja Titik Kebencian Baru bagi Warga: Pak Ogah Saja Udah Ogah Mengatur Jalan di Situ

3 Maret 2025
Ilustrasi Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman (Unsplash)

Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman: Siapa yang Seharusnya Bertanggung Jawab?

1 November 2024
Rumah di Sleman, Kuliah di Sleman, Ngapain Kos?

Rumah di Sleman, Kuliah di Sleman, Ngapain Kos?

21 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

12 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

14 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Aku Cinta Kartasura, Kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku Cinta Kartasura, kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

12 Januari 2026
Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.