Wahai Perempuan yang Nggak Sakit Pas Menstruasi, Saya Iri!

Artikel

Menstruasi pertama saya yakni ketika saya duduk di kelas dua SMP. Di antara teman perempuan sekelas, sayalah yang paling akhir merasakan “takdir” ini. Siklus saya belum normal saat itu, sehingga menstruasi kedua saya enam bulan setelahnya. Setelah menstruasi kedua, siklus saya belum juga rutin sekali sebulan. Kira-kira, dua atau tiga bulan sekali.

Baguslah, selama SMP saya tak pernah rasakan nyeri atau sejenisnya saat menstruasi. Namun, beberapa teman sekelas saya merasakannya. Saya sering melihat salah satu teman saya kesakitan di kelas, bahkan sampai menangis.

“Kasihan sekali,” batin saya saat itu.

Saya tak merasakan sakit tiap menstruasi. Saya membayangkan, betapa menyedihkannya jika setiap bulan harus mengalami kesakitan seperti itu, betapa akan menghambat berbagai aktivitas saya.

Masa SMP berakhir, siklus sudah normal saat saya memasuki masa SMA. Namun, beberapa bulan setelah jadi siswa SMA, saya jadi sering lemas saat menstruasi.

Awalnya hanya lemas biasa. Namun menjelang akhir semester pertama, lemasnya tak bisa dianggap “biasa” lagi. Saya jadi tidak kuat jika terlalu lama di bawah sinar matahari langsung. Rasanya, berkunang-kunang seperti mau pingsan. Selain itu, badan saya nyeri. Kadang di perut, kadang di paha, kadang malah di seluruh badan. Sungguh, sangat tidak enak menderita setiap menstruasi.

Saya sudah coba berbagai obat menstruasi, baik yang dijual umum maupun yang tradisional. Sayang sekali, tidak mempan. Setelah saya curhat pada kenalan saya yang cukup paham ilmu medis, katanya… bukan masalah, memang begitulah siklus saya, itu normal untuk saya.

Saya akhirnya memaklumi semua rasa sakit bulanan tersebut. Setiap beberapa hari menjelang tanggal menstruasi, saya sudah bersiap. Siap dengan segala kondisi, termasuk lemas hingga tak bisa beraktivitas.

Biasanya, jika sudah memasuki masa “lemah”, jaket adalah hal penting yang harus saya bawa. Jaket berfungsi untuk melindungi kepala supaya tak terpapar sinar matahari langsung, sehingga saya tak terlalu lemas. Hoodie-nya saja tak cukup, saya butuh penutup yang lebih luas. Saya pegang jaket di atas kepala dan pastikan kepala saya terlindung seaman mungkin. Jika tak seperti itu, berjalan sebentar di bawah matahari saja saya tak kuat.

Baca Juga:  Alasan Kenapa Cowok Jangan Suka Disuruh buat Beli Pembalut

Sebenarnya, saya ingin pakai payung, itu jauh lebih efektif. Tapi jika saya pakai payung di hari panas, akan jadi bahan guyon bagi orang sekitar. Itu bukan hal biasa di daerah saya. Di mayoritas daerah di Indonesia, sepertinya juga demikian.

Sepanjang SMA, saya sering tidak ikut upacara bendera. Nyaris setiap bulan, saya “mundur” dari barisan upacara atau justru sejak awal izin tidak ikut upacara.

Ah, padahal saya anggota Pecinta Alam, tapi sering tidak kuat upacara. Banyak sekali sindiran (tapi bukan dalam arti serius) yang sering saya dengar.

“Masa naik gunung kuat, upacara nggak kuat?”

“Anak Pecinta Alam kok nggak kuat kena panas?”

“Lemah banget sih, mundur terus dari barisan.”

Ah, banyak lagi lah pokoknya. Saya pun sesungguhnya setuju dengan semua itu. Saya pun sering menyindir diri sendiri.

Saking kesalnya, pernah suatu hari saya paksakan untuk tetap berdiri di barisan upacara meski saya sadar bahwa saya sedang “lemah”. Paksa, paksa, dan paksa. Akhirnya, dunia mulai buram dalam pandangan saya. Mulai muncul sinar warna-warni dari berbagai penjuru. Lalu, gelap. Kaki saya mulai tak stabil. Dan, jatuh. Ah, untung hanya jatuh, tak sampai pingsan, masih bisa di-rescue tanpa tandu.

Setelah itu, saya menyerah, tak lagi berani memaksakan diri. Jika tiba masa “lemah”, ya sudah… ikhlaskan saja menjadi bagian dari hidup saya di hari itu.

Bicara soal Pecinta Alam. Saya sering mengalami kendala saat masih jadi calon anggota. Saya nyaris tidak bisa ikut latihan fisik saat sedang menstruasi, karena selalu di bawah terik matahari. Memang tidak bisa berharap banyak.

Selain itu, karena tahu bahwa salah satu rangkaian pendidikan dasarnya memakan waktu berhari-hari di alam, saya sering ragu. Baguslah, setelah saya dapat jadwal lengkapnya, saya tahu bahwa jadwal lapangan tak bertabrakan dengan jadwal menstruasi saya. Bagusnya lagi, saat itu saya punya siklus yang cukup tertib sehingga mudah diprediksi. Tapi, tetap saya yakini untuk mundur jika ternyata kedua jadwal tersebut bertabrakan. Ah, memang lemah.

Masa SMA usai. Di masa peralihan SMA ke kuliah, sisi “lemah” saya mulai berkurang. Meski masih sering lemas dan nyeri, tapi saya mulai kuat berjalan di bawah terik matahari. Wow, seindah ini rasanya bisa hidup bebas, tak perlu takut pingsan karena sinar matahari (yang normal bagi orang lain).

Baca Juga:  Menghakimi Secara Sosial Adalah Budaya Kita

Sayang sekali, semua itu fana. Beberapa bulan setelah jadi mahasiswa, “siklus sakit rutin” saya berubah. Jika sebelumnya, saya lemas dan nyeri tiap menstruasi. Maka setelah jadi mahasiswa, saya mengalami “sakit” yang berbeda. Tiap beberapa bulan sekali, saya saya berada di titik lemah yang mengerikan. Lemas, pusing, demam (kadang sangat tinggi), nyeri di berbagai titik (kadang di seluruh tubuh), dan… bahkan kadang tak punya tenaga untuk bergerak.

Saat SMA, pantangan saya hanya panas matahari. Jika sudah aman dari panas matahari, yang lain masih bisa ditoleransi, masih bisa beraktivitas. Namun saat kuliah, jika tiba di “titik lemah”, sering kali sampai tak bisa beraktivitas.

Hingga saat ini, saya masih mengalami hal tersebut. Tapi saya masih bersyukur, tidak setiap bulan saya mengalaminya. Tiga bulan sekali paling cepat. Di bulan lainnya, meski lemas dan nyeri, tapi masih bisa melakukan aktivitas, bahkan bisa melakukan kegiatan lapangan yang cukup berat. Yang pasti, masih aman jika berjalan di bawah terik matahari, tak perlu jaket atau payung.

Sejujurnya, saya sangat iri dengan wanita yang selalu “baik-baik” saja saat menstruasi. Tidak merasakan nyeri menstruasi, tak pernah nyaris pingsan karena menstruasi.

Saya pernah menjadi wanita seperti itu, saat masih SMP. Saya jadi iri dengan diri saya saat SMP. Dulu, saya tak sadar bahwa masa tersebut adalah masa penuh kebebasan yang sangat perlu saya syukuri. Ingin rasanya kembali ke masa itu, supaya saya tak perlu waswas jika mendekati tanggal menstruasi.

BACA JUGA Susahnya Belajar Mengatur Emosi Saat Menstruasi atau tulisan Nursyifa Afati Muftizasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
8


Komentar

Comments are closed.