Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

VOC Pernah Memakai Senjata Biologis di Jakarta, dan Senjata Tersebut Adalah Tahi!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
26 Februari 2024
A A
VOC Pernah Memakai Senjata Biologis di Jakarta, dan Senjata Tersebut Adalah Tahi!

VOC Pernah Memakai Senjata Biologis di Jakarta, dan Senjata Tersebut Adalah Tahi! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Hari ini, kita melihat Jakarta sebagai ibu kota Indonesia. Megahnya kota metropolitan menjadi mimpi muda-mudi yang ingin memperbaiki taraf hidup. Namun, gara-gara “senjata biologis” yang dipakai VOC, Jakarta pernah disebut sebagai “kota tahi”. Dan bukan tahi dalam arti metafora, tapi tahi yang berarti ekskremen manusia berbentuk padat itu!

Julukan kota tahi ini bukan julukan yang sekedar dituturkan dari mulut ke mulut. Tercatat ada tiga dokumen klasik yang mengisahkan perihal kota tahi ini. Pertama adalah Babad Tanah Jawi (lagi), History of Java karya T.S. Raffles, dan Babad Diponegoro karya Pangeran Diponegoro. Jadi, jika ada budayawan Betawi yang senewen dengan julukan kota tahi, silahkan protes ke Pangeran Diponegoro.

ADVERTISEMENT

Awal mula lahirnya julukan kota tahi ini adalah penyerangan Kesultanan Mataram atas Batavia. Penyerangan ini dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1628. Penyerangan berskala besar ini bertujuan untuk menghancurkan Fort Hollandia atau Redoute Hollandia, benteng VOC yang ada di sebelah tenggara pusat kota Batavia. Kini, tapak pertanahan bekas benteng tersebut terletak tak jauh dari Glodok Plaza, Jakarta Barat.

Duri di kaki

Menurut Martin Pring, Sultan Agung memandang benteng Hollandia sebagai duri di kaki Batavia. Dengan menghancurkan benteng tersebut, maka Batavia bisa lepas dari ancaman pendudukan Belanda. Maka, diluncurkan operasi militer ke Batavia. Operasi ini di bawah komando Tumenggung Bahureksa dan Ki Mandurareja. Nama Bahureksa sendiri sering menjadi sebutan untuk orang (atau ghoib) yang berkuasa dan digdaya. Jadi, Tumenggung Bahureksa jelas punya level mythic.

Berangkatlah pasukan Mataram menuju Batavia. Perlu diingat, transportasi paling umum bagi prajurit berangkat perang adalah sepasang kaki. Mereka melakukan long march tanpa muatan nazar politik selain menghancurkan Redoutte Hollandia. Meskipun perjalanan ini terasa sangat melelahkan dan mudah terendus, kubu VOC tidak melakukan persiapan berarti untuk menyambut murka Sultan Agung ini.

Kelalaian ini terbukti dalam laporan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen kepada Dewan Hindia pada 3 November 1628. Seperti yang dimuat dalam nationalgeographic.com, Coen melaporkan “sebanyak 24 orang kami yang berada di kubu itu memberikan perlawanan yang gigih, sehingga sepanjang malam itu semua musuh berhasil dipukul mundur sampai mesiu habis.”

Dalam History Of Java, Raffles mengisahkan “pada waktu itu, karena orang-orang Belanda dapat dipukul oleh keganasan orang-orang Jawa, mereka terpaksa menggunakan batu-batuan sebagai ganti bola-bola besi untuk amunisi meriam. Namun usaha tersebut menemui kegagalan.” Sepertinya Coen tidak melaporkan tentang kisah pertempuran ini. Dan terlihat Coen memang berniat menutup-nutupi penyerangan ini.

VOC mulai pusing

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Mataram kalah senjata dan perlengkapan. Tapi amukan prajurit Mataram tetap berhasil menundukkan pertahanan Belanda. Mataram hampir saja sukses merebut benteng Hollandia. Sayangnya, serangan besar-besaran Mataram ini digagalkan oleh gagasan liar pemuda berusia 23 tahun bernama Madelijn.

Baca Juga:

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

Jangan Samakan Bubur Ayam Jakarta dan Cirebon, Mereka Beda!

Dalam sebuah dokumen Belanda yang diterjemahkan Johan Neuhof, dikisahkan tentang gagasan gila Madeijn. Pemuda asal Jerman tersebut menyelinap ke ruang serdadu. Kemudian, dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa sekeranjang penuh tinja. Tapi, pengumpulan tinja ini bukan bagian dari perawatan sanitasi benteng. Tinja ini menjadi serangan putus asa kubu VOC.

Karena kubu VOC kehabisan mesiu, maka tinja tadi menjadi amunisi untuk menggempur prajurit Mataram. Tinja tadi dilemparkan kepada prajurit Mataram yang merayapi dinding dengan tangga. Seketika itu juga, prajurit Mataram lari tunggang langgang dari gempuran tinja yang baunya naudzubillah.

Babad Tanah Jawi mengisahkan tentang peristiwa ini dari kubu Mataram. Seperti yang ditulis dalam nationalgeographic.com, “Orang Belanda bubuk mesiunya semakin menipis. Kotoran orang atau tinja dibuat obat mimis. Orang Jawa banyak yang muntah-muntah, sebab kena tinja.”

Pada bagian lain dikisahkan, “Adapun Pangeran Mandurareja masih tetap mempertahankan perangnya, tetapi tetap tidak dapat mendekati benteng, karena tidak tahan bau tinja. Para adipati pesisir bala-prajuritnya banyak yang tewas. Sedang yang hidup tidak tahan mencium bau tinja. Sepulang berperang lalu merendamkan diri di sungai.”

Tahi, usaha terakhir Kumpeni memukul lawan

Dalam History of Java, Raffles mengisahkan peristiwa menjijikkan ini. “Sebagai usaha terakhir, mereka (prajurit VOC) melemparkan kantong-kantong berisi kotoran yang berbau busuk sekali ke arah orang-orang Jawa, dan sejak saat itulah benteng itu dijuluki dengan nama Kota Tahi.”

Prajurit Mataram mundur ke kemah mereka di pedalaman Batavia. Serangan pertama Mataram pun gagal. Mungkin karena jengkel, prajurit Mataram menjuluki benteng Hollandia sebagai Kota Tahi. Kelak, orang Jawa akan mengenang ada dua kota di Batavia: Kota Intan dan Kota Tahi.

Mungkin Anda terkekeh membaca kisah ini. Namun, jangan meremehkan kekuatan senjata biologis kuno ini. Tercatat sejak abad pertengahan, manusia telah mengenal senjata biologis. Mayat korban wabah Bubonic dijadikan sebagai amunisi ketapel raksasa Trebuchet dalam penyerangan kota Caffa. Penyerangan Thun-I Eveque pada 1340 juga menggunakan bangkai hewan sebagai amunisi.

Dan pada 1628, prajurit Mataram harus menjadi korban keganasan senjata biologis ala VOC ini. Serangan besar-besaran Sultan Agung berhasil dipukul mundur dengan berkantong-kantong tinja. Dan peristiwa ini meninggalkan julukan untuk Batavia (dan berganti menjadi Jakarta) yang tidak ada gagah-gagahnya: Kota Tahi.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Amangkurat II, Raja Mataram Anak Emas VOC

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2024 oleh

Tags: Jakartaperangsenjata biologissultan agungtahivoc
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

4 Alasan Seseorang Menanyakan Pekerjaan Orang Lain Saat Ngumpul

Arus Pulang Kampung di Tengah Covid-19: Mereka Bukan Pemudik, Mereka Pengungsi

27 Maret 2020
5 Bioskop Murah di Jakarta yang Harganya Masih di Bawah Rp35 Ribu Mojok.co

5 Bioskop Murah di Jakarta yang Harganya Masih di Bawah Rp35 Ribu

20 Februari 2024
Aral Rintangan yang Saya Lewati di KPU hingga Berhasil Mengurus Pindah TPS di Jakarta

Aral Rintangan yang Saya Lewati hingga Berhasil Mengurus Pindah TPS di Jakarta

13 Januari 2024
5 Salah Kaprah tentang UIN Jakarta yang Terlanjur Diyakini Banyak Orang, Termasuk Calon Mahasiswanya Mojok.co

5 Salah Kaprah tentang UIN Jakarta yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang, Termasuk Calon Mahasiswanya

27 November 2025
Transum Jogja Terlalu Busuk, Malu Sama Orang Jakarta (Unsplash)

Pemerintah Jogja Sebaiknya Segera Memperbaiki Transportasi Umum dengan Mencontoh Jakarta karena Jogja Semakin Meresahkan

19 Juli 2025
Kasta Tempat Melamun Terbaik di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta Pusat Mojok.co

Kasta Tempat Melamun Terbaik di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta Pusat

17 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri Kerap Dianggap Tempat Paling Rapi di Dunia, padahal Justru Sebaliknya, Titik Kumpul Masalah dan Kekacauan!

29 Juni 2026
Honda BeAT, Motor Terbaik untuk Menemani Mahasiswa UNNES Menjalani Hidup pertamax pertalite

6 Motor yang Dikira Harus Pakai Pertamax tapi Ternyata Masih Aman dan Memang Bisa Pakai Pertalite  

28 Juni 2026
4 Tempat di Kota Malang yang Butuh Direlokasi karena Memiliki Masalah Terus Berulang

Selamat Datang di Kota Malang, Kota Pendidikan yang Gang Sempitnya Menjadi Sirkuit Uji Nyali Para Pengendara

29 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
4 Coffee Shop yang Jadi Pusat Skena Perkopian di Klaten, Wajib Kalian Coba!

Coffee Shop Skena di Klaten Part 2: Pemain Baru, tapi Kualitas Kopinya Boleh Diadu

26 Juni 2026
Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci Mojok.co

Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci

27 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.