Vinsmoke Sanji Bukan Beban, dan Sangat Wajar Jika Pria Meminta Tolong pada Wanita – Terminal Mojok

Vinsmoke Sanji Bukan Beban, dan Sangat Wajar Jika Pria Meminta Tolong pada Wanita

Artikel

Fadlir Nyarmi Rahman

Manga One Piece memang lebih enak diikuti daripada adaptasi animenya. Kita sudah sama-sama tahulah mengapa demikian dan tak perlu diperjelas. Maka, melalui tulisan ini saya akan membahas manga One Piece terbaru, yaitu chapter 1005 yang berjudul “Anak Iblis”.

Sebelum lanjut, bagi kalian jamaah anime-only yang ketinggalan rakaat ini, mending baca tulisan di Terminal Mojok yang lain dulu, ya. Soalnya akan banyak spoiler di pragraf-paragraf berikutnya. Tapi, kalau ngeyel ya nggak apa-apa, artinya kamu sangat menghayati sifat Luffy.

Oke lanjut. Nah, saya bukan ingin menyorot jalannya peperangan secara luas di Onigashima, melainkan fokus pada koki kita, Vinsmoke Sanji, yang dalam arc Wano Kuni sering diejek dan dicap “beban” oleh para fans. Dan di chapter ini adalah puncaknya, saat ia akhirnya berteriak minta tolong kepada Robin untuk diselamatkan dari jeratan Black Maria, bawahan Kaido yang cukup kuat.

Sebagai gambaran, sebelumnya di chapter 1004, Vinsmoke Sanji sudah ditumbangkan dengan mudah karena—ya kita tahu sendiri—falsafah hidupnya yang anti menyerang perempuan. Oleh sebabnya, ia pun diberi pilihan antara dibunuh atau memanggil Robin biar bebas. Meski awalnya ia menolak dengan gagah untuk memanggil Robin karena takut membahayakannya, ia akhirnya minta tolong juga.

Ya, Sanji tentu akan kehilangan pamornya setelah demikian. Para fans akan lebih parah mengolok-oloknya. Yang melandasi ejekan mereka itu pasti sebuah keheranan, “Masa sih anggota Trio Monster di bajak laut segagah Topi Jerami sampai minta tolong sama seorang wanita? Nggak banget.” Apalagi ucapan minta tolongnya sangat tak maskulin, “Robin-chan, jika kau tak ke sini, mereka akan membunuhku. Selamatkan aku!”

Sebenarnya landasan ejekan mereka sangatlah mudah dipahami, yaitu mengakarnya konsep budaya patriarki di kehidupan sehari-hari. Di mana dominasi maskulinitas harus dikedepankan. Kita sudah terbiasa bahwa seorang lelaki tak pantas berlaku seperti perempuan yang, lemah, gampang menangis, merengek, dan semacamnya sekalipun itu dalam keadaan tertekan. Apalagi meminta bantuan seorang perempuan pula. Maka, jika ada yang berlaku demikian, menurut mereka pantaslah untuk diejek. Bahkan kalau di dunia nyata, kita tahu, ia akan dipanggil “banci”.

Dari keheranan mereka itu saja sudah bermasalah, sih. Mereka menganggap Vinsmoke Sanji beban hanya didasarkan pada stereotip pada perempuan. Padahal perempuan kan juga setara dengan laki-laki. Hash, ra mashok!

Nah, diangkatnya scene tersebut, menurut saya, bukanlah untuk memperkuat pandangan itu, melainkan usaha Eiichiro Oda untuk menepisnya. Sebuah pandangan purba yang harusnya punah alih-alih terus dilestarikan. Wanokuni boleh saja bernuansa kuno, tapi nilai yang diangkat harus terbarukan. Salah satunya ya lewat scene Sanji minta tolong itu.

Saya berpendapat demikian tentu bukan tanpa dasar. Awalnya sih, iya, Oda terkesan mendukung. Di panel setelahnya misalnya, banyak tokoh lain tak percaya Sanji berkata seperti itu. Bahkan Black Maria sendiri dan pasukannya yang awalnya memuji kejantanan Vinsmoke Sanji, pun turut kaget.

Namun, di panel lain, teman-teman dari bajak laut Topi Jerami membantahnya dengan tidak mempermasalahkan hal itu seperti yang ditunjukkan tokoh lainnya itu. Nami misalnya, sangat mengerti kondisi Sanji bahwa lawannya pasti seorang wanita sehingga seperti itu.

Dari itu saja kita bisa melihat bahwa Oda ingin menunjukkan bahwa seorang lelaki sangatlah wajar untuk menangis, bahkan meminta tolong saat tak sanggup lagi. Dan, oleh sebab meminta tolong kepada seorang perempuan, Oda juga ingin menunjukkan kesetaraan gender. Bahwa lelaki juga wajar minta tolong pada wanita, layaknya saat meminta tolong pada rekan lelaki yang lain.

Namun, yang lebih menegaskan itu semua adalah reaksi Robin setelahnya, yang datang dengan menampar pipi Black Maria dengan jurus Gigantesco Mano. Ya, saat itu ia yang datang bak juru selamat, sumringah karena dipercaya oleh Sanji. Ia bilang, “Terima kasih sudah mengandalkanku. Aku senang sekali.”

Nah, melalui perkataan Robin itu kita bisa menyimpulkan dua hal sekaligus. Pertama, bahwa pada akhirnya lelaki tak masalah meminta tolong ke perempuan. Kedua, perempuan akan senang jika bisa diandalkan dan dipercaya.

Sudah jelas sekali bukan apa yang ingin ditunjukkan Oda? Bahwa ini bukan sekadar ikatan persahabatan yang saling menolong. Lebih dari itu, adalah hal mendasar bahwa, sekali lagi, seorang lelaki sangat wajar menangis dan meminta tolong bahkan kepada seorang wanita! Dan ini hal yang sangat normal!!!

Baca Juga:  Menghitung Kekayaan Monkey D. Luffy, Kapten Bajak Laut Topi Jerami

Maka, kepada para fans One Piece yang bacot pada lelaku Sanji, mending sudahilah ejekan kalian. Fans kok nggak bisa nangkep apa yang ingin idolanya sampaikan, padahal sudah jelas banget!!! Goblok!

Sumber gambar: YouTube Joy_Boy Theories

BACA JUGA Studio MAPPA Bungkam Bacot Netizen dengan Eksekusi Ciamik Episode 7 AoT atau tulisan Fadlir Nyarmi Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
16


Komentar

Comments are closed.