Kenyamanan boncengan yang bikin frustasi
Selanjutnya, mari kita bahas aspek kenyamanan Vespa matic, khususnya saat boncengan. Vespa Matic memang dirancang dengan estetika retro yang menawan, tapi desainnya mengorbankan fungsionalitas.
Betapa tidak enaknya saat Anda bonceng seseorang, penumpang belakang harus dipaksa “ngangkang” lebar karena bentuk jok yang sempit dan footstep yang posisinya kurang ergonomis. Siapa yang tahan duduk seperti itu selama perjalanan panjang?
Sudah begitu, dari sisi keamanan juga mengkhawatirkan karena penumpang bisa mudah tergelincir atau merasa tidak stabil.
Bandingkan dengan Honda BeAT, skuter entry-level yang harganya hanya sekitar Rp18 sampai Rp20 jutaan rupiah. BeAT menawarkan jok yang lebih lebar, footstep yang mudah dijangkau, dan desain yang lebih ramah untuk boncengan.
Bahkan, dengan harga satu Vespa matic, Anda bisa membeli tiga unit BeAT! Bayangkan, daripada bonceng satu orang dengan susah payah, Anda bisa bagi-bagi skuter ke anggota keluarga atau teman.
Sudah banyak yang mengeluhkan nyeri punggung atau kaki setelah boncengan jarak jauh. Desain Vespa matic yang ikonik, dengan roda kecil dan bodi ramping, memang bagus untuk foto Instagram, tapi tidak untuk realitas lalu lintas yang padat. Ini salah satu alasan mengapa Vespa terasa tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari di Indonesia
Bagasi dan kompartemen Vespa matic yang pelit, plus tangki plastik yang kontroversial
Fungsionalitas penyimpanan adalah poin berikutnya yang membuat Vespa matic kalah telak dari kompetitor. Vespa Matic itu pelit dalam hal bagasi dan kompartemen.
Bagasi di bawah jok biasanya hanya muat helm half-face atau jas hujan. Tidak ada ruang ekstra untuk barang belanjaan, tas kerja, atau perlengkapan harian. Cantolan depan juga terbatas, membuatnya susah untuk membawa barang bawaan lebih banyak tanpa resiko jatuh.
Bandingkan saja dengan skuter Jepang seperti Honda Scoopy atau Yamaha Fino, yang meskipun lebih murah, punya bagasi lebih luas dan fitur seperti hook depan yang kuat. Di Vespa matic, Anda sering harus menambah aksesoris aftermarket seperti box belakang. Tentu saja ini menambah biaya.
Ini juga ironis. Harganya premium, tapi Vespa tega menyediakan fitur dasar seperti itu.
Lebih parah lagi, tangki Vespa matic terbuat dari plastik, yang sering disebut mirip “jerigen BBM”. Meskipun ringan dan anti-karat, bahan plastik ini rentan bocor atau rusak jika terbentur, terutama di jalanan berlubang Indonesia. Coba bayangkan bagaimana kalau harus ganti tangki karena retak? Biayanya tidak murah.
Baca juga: Vespa Matic Itu Overrated, Masih Kalah Nyaman dengan Yamaha Mio Generasi Pertama, Jauh!
Suspensi yang kurang empuk dan tidak nyaman
Terakhir, urusan peredaman suspensi juga tak luput dari celaan. Vespa Matic, meskipun mahal, suspensinya nggak enak. Suspensi depan Vespa memang unik dengan desain single-sided swingarm yang ikonik, tapi soal keempukan? Jauh dari harapan.
Saat melewati jalan berlubang atau polisi tidur, getaran terasa keras dan kurang meredam benturan dengan baik. Bandingkan dengan suspensi teleskopik yang sering dipakai pabrikan Jepang seperti Honda atau Yamaha, yang harganya lebih murah tapi lebih empuk dan stabil.
Suspensi teleskopik menyerap guncangan lebih baik dan biaya perbaikannya murah. Ini membuat perjalanan lebih nyaman, terutama di jalanan rusak yang menjadi ciri khas Indonesia.
Para mekanik pun sering bilang bahwa suspensi Vespa matic lebih rumit diganti atau di-upgrade. Inilah alasan tambahan mengapa para mekanik di bengkel membenci Vespa matic.
Dari pembahasan di atas, jelas bahwa Vespa Matic masih punya banyak kekurangan yang membuatnya terasa overprice. Tentu saja, Vespa masih punya nilai tambah di desain dan ke-prestige-an, tapi untuk penggunaan sehari-hari, apakah worth it? Jelas tidak.
Penulis: Budi
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















