Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

UU ITE Hampir Sama Bahayanya dengan Naksir Teman Sendiri

Bintang Jihad Mahardhika oleh Bintang Jihad Mahardhika
22 Februari 2021
A A
UU ITE Hampir Sama Bahayanya dengan Naksir Teman Sendiri terminal mojok.co

UU ITE Hampir Sama Bahayanya dengan Naksir Teman Sendiri terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, netizen ramai memperbincangkan pernyataan Presiden Jokowi yang meminta agar masyarakat lebih rajin memberikan kritiknya untuk pemerintah. Sontak hal tersebut ditanggapi dengan penuh kebingungan oleh masyarakat. Pasalnya, masyarakat dihantui oleh UU ITE yang biasa digunakan untuk menjerat seseorang yang melakukan pencemaran nama baik. Seakan merespons balik tanggapan dari masyarakat, dalam Rapat Pimpinan TNI-Polri, orang nomor satu di Indonesia itu kembali menyinggung soal UU ITE ini. Beliau mengatakan supaya Polri harus lebih selektif dalam menerima laporan pelanggaran UU ITE dari masyarakat.

Tren pelaporan atas pelanggaran UU ITE dari masyarakat memang meningkat. Bahkan, selama Januari hingga Oktober 2020 kemarin, kepolisian menerima laporan yang jumlahnya kurang lebih mencapai 324 kasus. Penyebab dari meningkatnya laporan ini adalah pasal-pasal di UU ITE yang dianggap multitafsir sehingga masyarakat cenderung mengartikannya secara sepihak. Pasal-pasal ini seharusnya memiliki penjelasan atau interpretasi khusus supaya penggunaannya dapat tepat sasaran. Lalu, apa hubungan antara UU ITE dengan segala “karetnya” dan kita yang naksir dengan teman sendiri?

Naksir dengan teman sendiri adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Biasanya, kondisi seperti ini terjadi pada pertemanan satu geng atau satu circle antara cowok dan cewek. Menurut saya, naksir adalah “pintu” dari suatu “rumah” yang perabotannya berisi chattingan setiap hari, ngedate di malam Minggu, video call-an hingga pagi buta, dan hal-hal manis lainnnya. Namun, naksir tidak selamanya berbuah manis (bahkan tak jarang cenderung pahit), itulah mengapa naksir dengan teman sendiri lebih berbahaya daripada UU ITE.

Biar saya jabarkan dengan saksama, ya. Pasal-pasal yang dianggap multitafsir di dalam UU ITE dapat diatasi dengan cara direvisi bahkan dihapus. Sedangkan, naksir tidak bisa direvisi karena mencintai bukan merupakan sebuah kesalahan. Lagian, kalau memang mencintai adalah sebuah kesalahan, hal itu tidak membuat kita dihukum selama kita bisa memendamnya, sesuai prinsip hukum”cogitationis poenam nemo patitur” yang artinya ‘idak ada seorang pun dapat dihukum atas apa yang ia pikirkan’. Kalau direvisi tidak bisa, dihapus mungkin masih bisa, tapi jangan senang dulu karena ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Kalau yang kita sukai bukan teman akrab kita, kondisi itu membuat kita jauh lebih mudah menghapus rasa. Lah kalau naksir sama teman akrab, susahnya minta ampun, Bro. Lah, piye jal? Sering main bareng, ketawa-ketiwi bareng, sampai hafal kalau si dia ganti parfum.

Alasan lain, orang-orang yang ingin sekadar mengutarakan pendapat hingga mengkritik pemerintah takut mendapat “serangan balik” dari UU ITE. Gimana nggak mau takut? Wong data dari SAFEnet menunjukkan bahwa pelapor terbanyak kasus UU ITE berdasarkan profesi jatuh kepada pejabat negara, kok, persentasenya mencapai 35,92%. Lain halnya dengan kita yang naksir teman sendiri. Orang-orang yang mengutarakan perasaannya tidak akan dijerat dengan UU ITE, apalagi sampai dikenakan pidana penjara atau denda. Tapi, permasalahan muncul ketika teman yang kita suka ini ternyata tidak memberikan kontraprestasi yang sama seperti yang telah kita lakukan. Ya, meskipun kalau berbicara tentang kontraprestasi harus diawali dengan adanya kesepakatan sebelumnya, sih. Ah, masa bodo, toh ini bukan jurnal ilmiah.

Memang kenapa kalau teman yang kita suka nggak punya perasaan yang sama? Kan perasaan nggak boleh dipaksain? Ya, benar sih, tapi kan kita yang malu gitu, lho. Kalau menurut Pasal 45 (3) UU ITE pidana penjara terhadap pelanggaran Pasal 27 (3) paling lama empat tahun, rasa malu akibat cinta bertepuk sebelah tangan adalah selamanya! Nggak bisa dibayangkan kan hidup dengan dihinggapi rasa malu? Apalagi kalau si dia cerita ke teman-temannya yang lain, duh, mau ditaruh di mana muka ini.

Nggak hanya itu, akibat paling fatal ketika kita mengungkapkan perasaan adalah rusaknya pertemanan yang sudah dibangun sejak lama. Bayangin aja, dulu biasanya kalau mau main harus antar-jemput, sekarang pulang sendiri-sendiri (udah kaya liriknya lagu Hindia, ya, hehe). Dulu yang biasanya saling curhat, sekarang obrolan WhatsApp cuma jadi riwayat. Serba salah memang kalau berada di posisi seperti ini. “Dipendam sesak, diungkapkan bisa merusak,” kalimat yang saya kira cocok untuk setiap hati yang sedang berada di fase ini, hormat setinggi-tingginya untuk orang yang menciptakan kalimat itu.

UU ITE memang sering menjadi jebakan banyak orang, begitu pula dengan perasaan. Kita sulit mengontrol kapan, di mana, dan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Jika sebuah undang-undang dibuat untuk memberikan rasa adil dan membela setiap orang yang membutuhkan, cinta tak berbalas adalah bukti bahwa perasaan pun perlu diadvokasi. Namun, kita harus menyadari bahwa tidak seperti halnya teori positivisme hukum yang hanya melihat hukum adalah apa yang tertulis di undang-undang saja, jatuh cinta tidak selalu berakhir bahagia seperti apa yang tertulis di dongeng-dongeng sebelum kita memejamkan mata.

Baca Juga:

Memberantas Pengendara yang Merokok sambil Berkendara Itu Mudah, Tinggal Polisi Mau atau Tidak

Efek Domino Parkir Mobil di Jalan yang Tak Disadari Pelakunya, Salah Satunya Menghambat Rezeki!

BACA JUGA Saya Nggak Mau Terlalu Bahagia Mendengar Kabar Revisi UU ITE 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2021 oleh

Tags: satireundang-undangUU ITE
Bintang Jihad Mahardhika

Bintang Jihad Mahardhika

Anak satu-satunya.

ArtikelTerkait

Saya Curiga Pakde Jokowi Hidup di Universe yang Lain terminal mojok.co

Saya Curiga Pakde Jokowi Hidup di Universe yang Lain

19 Februari 2021
Betapa Menyebalkannya Orang yang Merokok di dalam Mobil  merokok sambil berkendara

Memberantas Pengendara yang Merokok sambil Berkendara Itu Mudah, Tinggal Polisi Mau atau Tidak

3 Oktober 2024
Pegawai Alfamart vs Pengutil Cokelat- Orang Kecil vs Kleptomania (Unsplash.com)

Pegawai Alfamart vs Pengutil Cokelat: Orang Kecil vs Kleptomania

15 Agustus 2022
komentator

Jenis Komentator Artikel Mojok yang Kita Semua Harus Tahu

13 Juli 2019
asn

Aparatur Sipil Negara (ASN) Bukan Profesi yang Cocok Untuk Orang Nyinyir

15 Oktober 2019
Kalau Nggak Mau Pakai Helm, Sebaiknya Jangan Jadi Orang Tua! operasi otak

Kalau Nggak Mau Pakai Helm, Sebaiknya Jangan Jadi Orang Tua!

29 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.