Regenerasi Muazin di Kampung Akan Tetap Tersendat Selama Senioritas Masih Kental – Terminal Mojok

Regenerasi Muazin di Kampung Akan Tetap Tersendat Selama Senioritas Masih Kental

Artikel

Bayu Kharisma Putra

Masjid punya kedekatan dengan insan baik ini, yaitu saya (ehm). Saya sempat dikira alim, dan saya pernah jadi takut pergi ke masjid lagi. Saat saya SMK, saya numpang di rumah saudara. Di rumah itu, tak ada lagi ruang untuk sekedar gulung koming atau koprol. Alhasil, dengan sangat terpaksa, saya jadi harus salat tepat waktu. Kenapa begitu? Soalnya saya harus salat di masjid agar bisa rukuk dan sujud dengan nyaman, tak terganggu tembok dan lemari. Selain itu, orang-orang di kampung itu memang sudah terbiasa shalat berjamaah di masjid.

Kadang-kadang saya juga pengin skip, terutama salat subuh, tapi nggak enak karena diajak terus. Oleh karena unsur ikut-ikutan itu, saya jadi terbiasa ke masjid. Terbiasa saja, belum sampai menjiwai. Alhasil, kebiasaan itu saya bawa sampai ke rumah. Saat di rumah, sempat dikira hijrah. Sempat juga diminta mulang ngaji di masjid kampung saudara itu dan jadi pemuda pengurus masjid, pokoknya hadeeh banget.

Namun, permasalahan yang sama selalu saya temui di masjid-masjid itu. Begitu pula masjid atau surau di banyak kampung-kampung lain. Saya tahu, karena saya sering bepergian ke banyak kampung untuk urusan kerjaan. Tukang azan alias  muazin, tak pernah jelas siapakah orangnya. Tiap waktu shalat tiba, orang yang azan pasti selalu berbeda. Perkara azan ini tak mudah untuk diromantisasi, sehingga tak banyak yang mau jadi  muazin.

Berbeda dengan kebanyakan masjid atau mushalla di perkotaan. Di kota, sudah ada jadwal untuk  muazin. Tak jarang, para lulusan pondok masuk ke daftar itu, sekaligus jadi pengurus masjid. Kalau di kampung, tak ada organisasi atau hitam di atas putih, semua berlandaskan asas kepercayaan dan kesediaan. Yang ada hanya wong NU atau Muhammadiyah, wes itu tok.

Jadi  muazin atau modin itu, nggak bisa sembarangan. Pelafalan harus jelas dan baik, suara dan cengkok yang bagus juga menentukan. Sehingga, banyak orang yang kurang pede dan takut untuk jadi  muazin. Bahkan, baru pegang mic saja sudah ndrodok alias gemetaran. Alhasil,  muazin itu bukan cuma perkara bisa azan, tapi juga jam terbang pegang mic.

Permasalahan dari tak adanya modin reguler atau terjadwal adalah, iren-irenan alias saling menunggu. Menunggu itu memuakkan, tentu menunggu sampai ada yang mau azan lebih memuakkan. Kalau sudah ada yang azan, orang-orang baru berangkat. Tak jarang, karena tak ada yang mau azan, jadwal salat jadi ngaret sampai setengah jam kadang lebih. Yang paling sering adalah, imam yang akhirnya punya sidejob, imam sekaligus  muazin.

Tapi, tak bisa dimungkiri, faktor senioritas juga mempengaruhi regenerasi modin. Misal, ada seorang modin sepuh yang sudah puluhan tahun memiliki pengalaman. Lalu secara tiba-tiba ada seorang anak pondok yang pulang, kemudian azan di masjid itu. Keributan tersebut saya namai Modin Civil War.

Intinya, mau azan itu harus tahu diri juga, ada sistem hierarki yang harus dipahami. Meski harus diakui, sistem itu yang bikin rekruitmen modin kurang berjalan dengan baik. Atau sering juga anak kecil yang ingin belajar azan, tapi kok dimarahi, itu juga termasuk kurang bener.

Sebagai orang baru apalagi, jangan sekali-kali menggenggam mic masjid tanpa uluk salam, kuwalat kamu nanti. Masalahnya, terutama di kampung, tak boleh tiba-tiba azan. Walau kadang sang modin berangkat telat, bukan berarti kita berhak mengambil takhta sang modin. Kecuali ada yang meminta, barulah Anda gempur toa masjid itu.

Kalau di kampung saya, salah satu penyebabnya karena minimnya tenaga ahli. Mungkin karena lulusan pondok hanya sedikit. Tak bisa dimungkiri, para santri inilah harapan untuk menjadi pemuka agama sekaligus pengurus masjid. Mungkin karena tak banyak santri, kebanyakan lulusan pondok itu lebih sering jadi imam ataupun khotib. Selain itu, para warga juga ngeman-eman, lulusan pondok lebih cocok untuk jadi ustadz. Modin memang masih dianggap kelas ketiga di masjid, setelah imam dan khotib.

Apalagi di kehidupan masyarakat, masih kalah jauh dari ustaz dan ketua RT. Padahal, modin ini punya tugas yang sama pentingnya dengan profesi-profesi tadi. Jadi modin di kampung, juga merupakan pengabdian dan penuh perjuangan. Oleh karena jarang yang dapat amplop saat jadi modin, saya kira keikhlasan itu modal utama.

Semoga masjid di kampung kita semua, tetap melestarikan kehadiran  muazin. Mosok azan kok nyetel YouTube. Wagu.

BACA JUGA Kenapa Orang Meninggal Harus Diazani? dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Baca Juga:  Mengulik Alasan Hanya Azan Magrib dan Subuh yang Disiarkan Televisi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
5


Komentar

Comments are closed.