Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Serial

Upin & Ipin Adalah Gambaran ‘Bahagia Itu Sederhana’ Milik Anak-anak Tahun 90-an

Soleha Luluk Budi Astuti oleh Soleha Luluk Budi Astuti
4 Juni 2021
A A
Mari Bersepakat Upin & Ipin Adalah Gambaran Masa Kecil Anak-anak Tahun 90-an terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Siapa yang nggak kenal si kembar botak Upin dan Ipin? Bahkan balita 1 tahun barangkali sudah hafal betul rupa si kembar botak itu lantaran wajah mereka yang kerap nangkring di layar kaca televisi kita hampir setiap hari.

Serial anak-anak yang sudah tayang di Indonesia sejak tahun 2007 ini merupakan serial favorit saya hingga hari ini. Saking favoritnya, saya pernah mengoleksi DVD mereka dengan niatan agar saat Upin & Ipin sedang nggak tayang, saya masih bisa menyaksikan kepala botak mereka di TV. Padahal episode-nya itu-itu saja, tapi herannya, kok saya ndak bosan, ya?

Kisah keseruan mereka dikemas sedemikian apik dengan setting pedesaan Malaysia yang masih cukup kental dengan kearifan lokalnya. Meski sebenarnya agak membingungkan juga, sih, lantaran berbagai budaya negeri lain turut ditampilkan untuk mewarnai tiap episode. Ada budaya Tiongkok yang ditampakkan lewat karakter Mei-Mei dan juga Paman Ah Tong. Budaya India yang mereka kemas lewat Jarjit dan Paman Muthu. Hingga budaya Indonesia yang nggak terlalu nampak karena memang 11-12 dengan budaya Malaysia, namun tetap ditampilkan lewat karakter Susanti.

Meski cukup membagongkan karena nggak menampilkan budaya mereka sendiri saja, saya cukup menangkap maksud yang hendak disampaikan si pembuat cerita. Yap, rasa toleransi yang tinggi. Tapi itu terserah mereka, sih, yang penting kita tetap menikmati serialnya. Toh yang akan saya bahas bukan soal budayanya, melainkan keseruan si kembar botak bersama kawan sejawatnya yang uwu sekali.

Setiap kali nonton serial Upin & Ipin di TV, pikiran saya langsung mengatakan, “Saya juga dulu seperti mereka. Ah, jadi pengin balik lagi ke masa itu. (((Masa-masa di mana belum punya beban kayak sekarang)))” Meski saya lahir di tahun 2000-an, tapi saat kecil, saya masih sempat merasakan sisa-sisa kebahagiaan sebagai anak desa. Jelas membahagiakan, wong acara nyolong buah di kebun masih lekat banget, kok. Astaghfirullah.

Kenapa saya bilang “sisa-sisa”? Begini, saya bersyukur sekali masih sempat menikmati sisa masa kecil layaknya Upin Ipin sebelum tradisi kebahagiaan itu raib seperti sekarang ini. Melihat realitas sosial budaya anak-anak masa kini yang benar-benar 180 derajat berbanding terbalik dengan apa yang Upin Ipin dan kawan-kawannya lakukan. Nggak ada batu seremban, nggak ada masak-masakan, dan nggak ada main kelereng atau karet-karetan. Mungkin, di beberapa desa, keseruan yang dilakukan anak-anak Kampung Durian Runtuh masih sempat dilakukan juga oleh mereka yang berada di pelosok. Namun, terhitung jari lah yang masih melestarikan tradisi masa kecil itu. Wong lompat tali saja sudah kalah kok sama kabel headset. Gimana mau lestari? Apalagi ada Covid-19 dan sekolah disuruh daring, ya semua pada fokus sama layar ponsel masing-masing.

Sekarang ini, anak-anak kecil di desa—termasuk adik saya yang masih berumur 5 tahun—sudah nggak main masak-masakan yang uwu seperti saya dan Mei-Mei lakukan dulu. Iya, sih, mereka main masak-masakan juga, tapi sudah virtual. Masaknya pakai aplikasi canggih yang bisa panggang roti cuma dua detik langsung matang. Titik menyenangkannya hilang kalau gitu caranya, Dek. Apalah daya saya yang masak tanah dikasih air dan jadilah adonan penuh cokelat yang bikin cacing tambah cacingan. Hehehe.

Dulu, saya main masak-masakan 11-12 dengan permainan yang dimainkan Mei-Mei dan Susanti. Bedanya, saya pakai alat masak asli punya Emak. Dan itulah yang bikin saya kena tausiyah Emak sepanjang sore lantaran wajan dan teflonnya dipenuhi blekok alias lumpur. Yang nggak kalah bikin geger Emak adalah saya yang keluyuran bareng teman-teman ke kebun yang jaraknya jauh dari desa. Demi apa coba? Ya demi ayam-ayaman lah. Kan yang gede-gede ada di kebun, di halaman depan rumah mah nggak ada. Nah, kalau ini beda tipis sama Mei-Mei dan Susanti, soalnya mereka cari bahan masakan nggak jauh-jauh sampai kebun Tok Dalang.

Baca Juga:

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin: Sosok Lansia Produktif dan Berdaya yang Patut Kita Tiru

Di beberapa episode Upin & Ipin, Mei-Mei dan Devi memainkan beberapa batu bercorak dengan satu bola sebagai kunci permainan. Mereka menyebutnya batu seremban. Kalau di tempat saya, permainan ini namanya bola bekel atau bekelan. Sistem mainnya sama seperti batu seremban Devi itu. Kita memantulkan bola sambil mengambil bekel saat bola mengudara. Seiring bertambahnya level permainan, kita pun harus membolak-balik bekel tengkurap atau telentang, bahkan sampai miring juga. Agak sulit, tapi kalau sudah ahli kayak saya sih mudah, Mylov.

Parahnya, karena dulu nggak kuat beli bekel, saya dan teman-teman yang ekonominya menengah bawah memilih buat pecahin keramik untuk selanjutnya dibentuk kotak-kotak sebagai ganti bekel. Jadi, uangnya kami pakai untuk beli bola saja. Lah, kok pakai keramik? Iya, soalnya keramik bisa dibolak-balik, kayak hati kamu gitu. Xixixi.

Sekarang ini, saya sudah mulai kesulitan menemukan penjual bola bekel, bahkan penjual mainan pun sudah jarang yang menjual mainan satu ini. Alasannya rata-rata hampir sama, “Bekelan sekarang sudah nggak zaman, Mbak, makanya nggak saya jual, wong nggak laku.” Miris sekali dengarnya, padahal si bekel ini pernah mewarnai masa kecil saya dulu. Huhuhu.

Selain batu seremban, ada juga permainan kelereng dan karet gelangnya Mail. Tahu juga cara memainkan dua benda legend itu? Meski saya cewek, saya pernah tuh merasakan main kelereng, jago malahan. Dulu saya pernah ngumpulin jarahan kelereng dari teman-teman cowok saya hampir stoples. Wqwqwq. Nah, dalam beberapa scene, Upin dan Ipin beserta kawan-kawan sering terlihat memainkan dua benda legend tersebut. Bahkan, mereka nggak jarang berdebat gara-gara letak si karet maupun kelereng yang kadang bikin gumush.

Aih, ketiga permainan itu hari ini mulai luntur dari peredaran mainan anak-anak. Bocil milenial lebih suka main Ludo King daripada main kelereng. Mereka lebih suka kue virtual yang tampilannya menarik ketimbang kue lumpur yang bikin teflon emak belepotan. Nyaris semua bocil zaman now yang punya HP Android canggih memilih main tembak-tembakan virtual daripada pakai karet atau pistol bambu yang pelurunya kertas basah. Hal-hal uwu nan sederhana tapi bikin bahagia yang Upin Ipin dan kawan-kawan lakukan sudah tergantikan oleh hal-hal virtual yang menipu itu. Meresahkan sekali ya, Bund.

Ketahuilah, bocah milenial, makan jambu yang dipetik langsung dari pohonnya dan dimakan seketika adalah kebahagiaan luar biasa yang pernah generasi kami rasakan. Kalian juga nggak pernah tahu gimana ambyarnya perasaan kami saat bekel kami sudah masuk level tersulit, eh, malah mati dan harus ngulang dari awal. Sebuah hal membagongkan yang menyenangkan sekali.

Padahal cuma ngerasain “sisa-sisa” loh, tapi bahagianya nggak terkira. Saya nggak bisa membayangkan gimana senangnya jadi anak-anak zaman dahulu yang masih menjunjung nilai kebersamaan dan kebudayaan mereka. Dan mari bersepakat bahwa di momen-momen tertentu, gambaran bahagia itu sederhana dari masa kecil anak-anak tahun 90-an tertuang dalam beberapa episode serial Upin & Ipin.

Sumber Gambar: YouTube Upin & Ipin

BACA JUGA Upin & Ipin Itu Kembar Dua, Saya Nggak Termasuk Kembaran Mereka, lho!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2021 oleh

Tags: Hiburan TerminalnostalgiaserialUpin dan Ipin
Soleha Luluk Budi Astuti

Soleha Luluk Budi Astuti

Hanya warga netizen biasa

ArtikelTerkait

Saya Nggak Tau Seenak Apa Nasi Blue Band, tapi Nasi Jelantah dan Garam Juga Enak mojok.co

Saya Nggak Tahu Enaknya Nasi Blue Band, tapi Nasi Jelantah dan Garam Juga Enak

17 Februari 2021
Penampilan Christine Hakim di The Last of Us Memang Keren Banget, Kalian Nggak Usah Nyinyir Terminal Mojok

Penampilan Christine Hakim di The Last of Us Memang Keren Banget, Kalian Nggak Usah Nyinyir!

26 Januari 2023
Jika Nussa dan Rara Lahir dari Keluarga NU atau Muhammadiyah terminal mojok.co

Nussa Pakai Baju Kurta karena Bajunya Praktis buat Anak Muslim Aktif

22 Juni 2021
Nasib Pramugari di Tengah Pandemi: Terjebak di Negeri Asing dan Bermain Bersama Kucing pesawat terbang

Mengenang Masa Kecil Bersama Pesawat Terbang

7 Juli 2019
Mari Bersepakat Cinderella Adalah Dongeng yang Sangat Menyesatkan terminal mojok

Mari Bersepakat Cinderella Adalah Dongeng yang Sangat Menyesatkan

28 Juli 2021
need for speed most wanted mojok

‘Need for Speed: Most Wanted’, Sekuel NFS Paling Memorable

1 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Realitas Hidup Semarang yang Tidak Muncul di Brosur Wisata maupun Konten Perjalanan Mojok.co

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

13 Juni 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

10 Juni 2026
Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas Terminal

Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas

9 Juni 2026
Tips bagi Mahasiswa Madura yang Kuliah di Surabaya agar Tetap Bahagia dan Tak Jadi Bahan Tertawaan

Tips bagi Mahasiswa Madura yang Kuliah di Surabaya agar Tetap Bahagia dan Tak Jadi Bahan Tertawaan

13 Juni 2026
Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

13 Juni 2026
Angkot Bekasi Bikin Kapok, Udah Bener Naik Motor Aja (Unsplash)

Sekali Naik Angkot Bekasi, Saya Paham Kenapa Orang Jakarta Lebih Pilih Motor

12 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.