Surat Cinta dari Ismail bin Mail untuk Mei-Mei – Terminal Mojok

Surat Cinta dari Ismail bin Mail untuk Mei-Mei

Artikel

Gusti Aditya

Ini aku, Mei, Mail. Bacanya bukan seperti kamu sedang baca “G-Mail”, tapi penekanan pada “a-i” harus dipisah. Bingung kau, Mei? Sudahlah, tidak penting.

Surat ini datang kepadamu, dengan maksud yang baik.

Kita tahu sendiri bahwa kita ini seperti partner in crime. Kamu sering marah kepadaku, aku pun sering buat kamu ketawa. Bagai bianglala, turun naik tak terkira, kita bahagia dengan cara yang seharusnya.

Tapi, semenjak teman-teman Tadika Mesra cie-cie-in kita, hal itu sangat merosak pertahanan batin aku yang selama ini aku jaga. Ya, benar, Mei, aku selalu menjaga bahwa kamu hanyalah sosok teman dalam hatiku.

Kata Fizi, kamu itu kaku seperti robot, dan hanya denganku dirimu boleh ketawa lepas. Apa benar begitu? Hanya kamu yang boleh menjawabnya, Mei. Tentunya, aku ingin jawaban yang baik. Baik untukku, terlebih untuk dirimu.

Aku tertegun denganmu sejak pertama aku berani menatap lensa kacamatamu. Masa itu kau mengunjungi Pasar Ramadan beberapa tahun yang lalu. Aku terdiam mematung, memakai apron dan ibuku sibuk mengipas ayam bakar.

Dirimu datang ke lapak daganganku, senyum itu terlihat menawan, membekas sampai sekarang. Mengoyak pertahanan batinku yang terdalam. Namun ya begitu, Mei, masalahnya, aku insecure dengan diriku. Aku tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu.

Saat itu, seolah tatap matamu menembus kaca cermin mata kamu itu. Dengan perlahan, kamu berkata, “TUMBAAAS!” dengan lengkingan suara seperti busker Bus Damri.

Pertemuan kedua kita juga tak kalah suka cita, yakni sewaktu beli seblak di Uncle Muthu. Ingat waktu mata kita tak sengaja saling bertemu, Mei? Aku tersenyum, kamu malah mangap-mangap. Bibirmu mobat-mabit kerana kepedasan makan seblak level terakhir.

Rasa itu lebih membahagiakan daripada menemukan wang di jalanan. Eh, bukan, ding, tergantung yang jatuh berapa ringgit. Kalau seratus ringgit, ya, jelas lebih membahagiakan menemukan wang di jalan. Bukannya mata duitan atau apa, Mei, tapi kan wangnya boleh belanja kamu Viennetta di MalayMaret.

Kamu adalah murid terpandai di kelas, sedangkan aku adalah antitesisnya. Bagai dua kutub, aku tak boleh mengelak atas perbezaan-perbezaan yang menderu di antara kita. Kita duduk selalu bersama, tidak sedarkah kau bahwa aku sering kali mencuri senyap dalam sebuah pandangan ke arahmu? Mei, senyummu itu, nak tak hiiihhh!

Kalau Jarjit tiap mahu pantun cakap dua tiga, kalau aku ke kamu pasti cakap satu-satu, Mei. Ya, mahu bagaimana lagi, hanya kamu satu-satunya yang mengubah buruj bintang yang menghiasi langit malamku.

Tekadku sudah bulat, Mei. Jika diumpamakan, lihatlah kepala Upin dan Ipin. Ya, kurang lebih seperti itulah bulatnya tekadku untuk jujur kepadamu.

TK kita, Tadika Mesra, bahkan aku berani bersaksi bahwa TK itu tidak ada mesra-mesranya kalau dibandingkan diriku yang ingin memiliki harta keluargamu, eh, maksudku, aku yang hendak memilikimu menjadi pasangan hidupku.

Tenang, Mei, tenang. Tak ada hak saling memiliki di antara kita. Badanmu adalah milikmu. Pikiranku tetaplah mutlak milikku. “Kita” hanyalah sebatas media yang saling bertukar pikiran. Bertukar wang juga boleh jika kamu mahu.

Basikal jengki kepunyaan mamak aku ini siap menghantar ke mana pun kamu mahu, Mei. Cari biawak bersama Makcik Selly? Sewa Sepy-nya Rajoo buat menanam ubi? Atau mahu jual surat khabar lama ke Uncle Ah Tong? Aku sedia menemanimu, Mei. Asalkan, ya, kamu tahu lah, dua singgit, dua singgit, dua singgiiit~

Aku pernah buat kamu menyesal dengan mempersilakan Susanti duduk di bangkumu dan beratur denganku. Tepat pertama kali dirinya pindah dari Indonesia. Cemburu kau, Mei?

Tapi, Mei, setelah itu Susanti membayarku. Tak ada yang lebih indah dari wang. Simpulkan saja, Mei, aku dan Susanti itu hanya partner bisnis, tidak lebih. Namun betapa hancurnya hatiku, Susanti bayar aku dengan rupiah, bukan ringgit.

Lah, rupiah buat apa, Mei? Buat investasi juga malah buat aku makin terlihat bodoh. Gagal sudah aku boleh beli komik Kembar Kembara Nakal episode bulan ini. Maka, sebab itulah aku mengirimkan surat cinta ini untukmu, Mei-Mei yang baik.

Akhir kata, akhir tahun nanti, kuy Menara Petronas. Kita buat TikTok bersama. Bergandingan mesra. Makan mewah. Namun, kamu yang membayar struk tagihan, ketika kembang api riuh membuncah.

Aku, binatang jalang dari kumpulan yang terbuang, Ismail bin Mail.

Sumber gambar: Instagram upinipinofficial

BACA JUGA Ismail bin Mail Adalah Tokoh Paling Bias-able Seantero Kampung Durian Runtuh atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Keuntungan Membuat SIM Melalui Jalur Resmi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
36


Komentar

Comments are closed.