Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Orang Paling Celaka di Dunia Ini Adalah yang Masih Menganggap Universitas Terbuka Kampus Buangan padahal Justru Terlalu Maju untuk Zaman Ini

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
13 Oktober 2025
A A
Universitas Terbuka terlalu maju untuk zaman ini (Unsplash)

Universitas Terbuka terlalu maju untuk zaman ini (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Universitas Terbuka (UT) adalah nama yang sering bikin orang salah paham. Banyak yang masih menganggapnya kampus kelas dua, tempat buangan, pelarian, atau pilihan terakhir bagi yang “nggak keterima di mana-mana”.

Padahal, mereka cuma belum tahu satu hal: Universitas Terbuka itu bukan kampus yang tertinggal. Tapi kampus yang sudah berlari jauh. Saking jauhnya, sampai banyak yang belum bisa menyusul.

Label yang salah tempel

Dari dulu, Universitas Terbuka sering kena label jelek. Katanya “nggak ada kehidupan kampus”, “belajarnya asal-asalan”, “dosennya nggak jelas”, sampai “ijazahnya nggak diakui”. Menurut saya ini lucu. Lucu karena justru yang ngomong begitu seringnya nggak tahu cara kerja kampus ini.

Universitas Terbuka itu bukan kampus dengan gedung megah dan mahasiswa nongkrong di kafe. Ini kampus dengan 300 ribu lebih mahasiswa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kampus tanpa tembok, tapi punya jaringan digital yang lebih luas dari universitas mana pun.

Universitas Terbuka bukan sekadar universitas. Ia hadir sebagai mesin besar yang tetap berputar bahkan ketika dunia lumpuh. Hadir pula menjadi sebuah jawaban.

Waktu pandemi datang dan semua universitas kalang kabut, UT nggak kaget. Karena sejak berdiri, ia memang sudah hidup di dunia daring. Yang lain panik nyiapin zoom, UT malah santai. Mereka cuma bilang, “Selamat datang di dunia kami.”

Belajar tanpa gedung, bukan tanpa arah

Orang masih terjebak dalam mitos lama. Belajar itu harus di ruang kelas, duduk manis, dengar dosen ngomong. Padahal belajar itu soal kemandirian. Universitas Terbuka paham itu sejak awal.

Makanya, sistem belajarnya dibikin fleksibel, tapi nggak bebas seenaknya. Mahasiswa harus mengatur waktu sendiri, harus disiplin, harus tahan godaan rebahan. Universitas Terbuka ngajarin tanggung jawab, bukan cuma teori.

Baca Juga:

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Ironinya, banyak orang yang sekolah di kampus “biasa” malah kaget lihat mahasiswa UT bisa kerja sambil kuliah, urus rumah sambil menulis makalah, bahkan jagain anak sambil ujian daring. Mereka kira mustahil.

Tapi, Universitas Terbuka menjadikannya normal. Karena di sana, belajar itu bukan rutinitas, tapi perjuangan. Dan yang bertahan, cuma mahasiswa yang punya daya juang tinggi.

Sistem Universitas Terbuka terlalu efisien untuk dianggap murahan

Banyak yang nyinyir soal “murahnya biaya kuliah” di Universitas Terbuka. Katanya, “Wajar murah, kan kelasnya online, nggak ada fasilitas kampus.” Padahal yang disebut murah itu bukan murahan. Itu hasil efisiensi yang universitas lain belum tentu sanggup tiru.

Universitas Terbuka dikelola dengan sistem distribusi pendidikan yang canggih. Bahan ajar digitalnya bukan e-book sembarangan, tapi hasil riset dan pengembangan panjang. 

Ujiannya terintegrasi nasional, sistem penilaiannya terpusat, dan datanya tersimpan rapi dalam infrastruktur digital yang mereka bangun jauh sebelum kata “transformasi digital” jadi tren. Di kampus lain, efisiensi dianggap pemotongan. Di Universitas Terbuka, efisiensi justru bukti kemampuan berimprovisasi.

Mahasiswa Universitas Terbuka hidup di dunia nyata

Yang menarik dari Universitas Terbuka adalah siapa penghuninya. Ada guru honorer di pelosok, perawat di rumah sakit kecil, ibu rumah tangga, buruh pabrik, TKI di luar negeri, bahkan pensiunan tentara. Semua masuk dalam satu sistem yang sama, belajar dengan cara yang sama, ujian di tempat yang sama.

Ini bukan kampus dengan satu warna mahasiswa. Dan di sana, kesetaraan bukan sekadar jargon. Nggak peduli mahasiswa siapa, kerja di mana, pakai baju apa. Selama mahasiswa bisa belajar, mahasiswa bagian dari universitas itu.

Bandingkan dengan kampus elite yang kadang terjebak pada kasta sosial, penampilan, atau gengsi. Universitas Terbuka justru menghancurkan semua itu. Karena di sini, yang penting bukan seberapa pintar mahasiswa bicara, tapi seberapa kuat mahasiswa bertahan.

Universitas Terbuka adalah jawaban atas kebutuhan, bukan nostalgia masa lalu

Banyak universitas masih sibuk memuja masa lalu. Soal tradisi, seremoni, simbol-simbol klasik. UT nggak sama sekali. 

Ketika dunia semakin cepat, UT sudah siap dengan ritmenya. Saat perusahaan mulai rekrut karyawan berbasis skill, bukan ijazah fisik, UT sudah lama ada di sana. Saat dunia kerja butuh fleksibilitas, UT sudah mengajarkannya sejak semester pertama.

Universitas Terbuka tidak hidup di masa lalu. Dan di situlah letak masalahnya. Bukan UT yang ketinggalan, tapi banyak orang yang belum siap menyusul.

Teknologi bukan gimmick, tapi tulang punggung

Universitas Terbuka tidak menjual teknologi sebagai aksesoris. Platform belajarnya bukan tempelan. Sistem digitalnya bukan pajangan. Teknologi di UT itu bukan gaya, tapi nyawa.

Seluruh proses belajar, administrasi, sampai komunikasi mahasiswa-dosen sudah berbasis digital jauh sebelum kata metaverse lahir di seminar-seminar pendidikan. Universitas Terbuka bahkan jadi rujukan banyak negara berkembang untuk membangun model universitas terbuka di negaranya. Tapi ironisnya, di rumah sendiri, UT sering dianggap “kurang keren.”

Padahal kalau mau jujur, universitas konvensional baru belajar apa yang UT sudah kuasai sejak dekade lalu. Mereka baru sibuk bikin sistem daring, Universitas Terbuka sudah mengembangkan pembelajaran adaptif. Mereka baru risau soal drop out karena mahasiswa malas kuliah online, UT sudah punya sistem mentoring jarak jauh dengan tutor profesional.

Universitas Terbuka adalah kampus tanpa dinding, tapi punya fondasi kuat

Kelebihan UT justru ada pada ketakberbatasannya. Nggak ada pagar kampus, tapi ada ribuan titik layanan yang nyambung satu sama lain. Nggak ada jam kuliah tetap, tapi ada tanggung jawab pribadi yang justru lebih berat.

Universitas Terbuka bukan kampus yang memanjakan, tapi membentuk karakter. Bukan tempat buat cari kemudahan, tapi tempat buat diuji kedewasaan. UT bukan lembaga yang memberi jalan pintas, tapi jalan panjang yang harus mahasiswa lewati dengan tekad.

Makanya, jangan kaget kalau banyak lulusan UT justru tangguh di lapangan kerja. Mereka sudah ditempa oleh sistem yang keras tapi adil. Mereka nggak cuma pintar teori, tapi terlatih menavigasi realita.

Paradoks yang disengaja

Universitas Terbuka itu paradoks. Ia sederhana tapi kompleks. Murah, tapi mahal nilainya. Sepi, tapi sibuk.

Dan mungkin memang itu tantangan terbesarnya adalah menjelaskan kepada dunia bahwa modernitas tidak selalu berarti glamor, dan keterbukaan tidak berarti kelemahan. UT tidak butuh pengakuan dari kampus lain. Kampus ini hanya butuh waktu untuk terus membuktikan bahwa sistem pendidikan tanpa batas bukan mimpi, tapi kebutuhan.

UT bukanlah universitas yang tertinggal. Justru banyak universitas lain yang belum sanggup menyalipnya. UT tidak sekadar menjawab tantangan zaman. Dia menciptakan caranya sendiri untuk tetap relevan di tengah kekacauan.

Dan kalau masih ada yang bilang UT itu kampus murahan, mungkin mereka cuma belum siap. Belum siap menerima kenyataan bahwa masa depan pendidikan tinggi sudah berubah. Universitas Terbuka adalah bukti nyatanya. Universitas yang tidak menunggu perubahan, tapi menjadi perubahan itu sendiri.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Alasan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Lebih Tertarik Kuliah di Universitas Terbuka (UT) daripada di PTN Top

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2025 oleh

Tags: ijazah Universitas Terbukakampus tanpa tembokmahasiswa UTpengalaman kuliah di Universitas Terbukasyarat mendaftar Universitas Terbukauniversitas terbukaut
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

6 Kebohongan tentang Universitas Terbuka (UT) yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

Surat Terbuka untuk Rektor Universitas Terbuka: Basmi Pungli di Kampus Kita!

12 April 2023
6 Kebohongan tentang Universitas Terbuka (UT) yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

Sebaiknya Universitas Terbuka Memberlakukan Aturan Drop-out

12 Juni 2023
5 Tipe Orang yang Nggak Cocok Jadi Mahasiswa Universitas Terbuka Mojok.co

5 Tipe Orang yang Nggak Cocok Jadi Mahasiswa Universitas Terbuka 

13 Desember 2023
UT, Kampus yang Paling Mengerti Mahasiswa. Nggak Perlu Panggung untuk Bisa Berprestasi

UT, Kampus yang Paling Mengerti Mahasiswa. Nggak Perlu Panggung untuk Bisa Berprestasi

27 Januari 2026
UT universitas terbuka mahasiswa cerita dinamika ipk jelek drop out syarat masuk gimana cara mendaftar mojok

Pengalaman Saya Kuliah di UT, Kampus Fleksibel buat Ibu Rumah Tangga

12 April 2020
Iklan Universitas Terbuka (UT) Tayang di Bioskop: Keren, tapi Ironis. Sebelum Tampil di Layar Besar, Perbaiki Dulu Layar Kecil Mahasiswa biar Nggak Nge-lag!

Iklan Universitas Terbuka (UT) Tayang di Bioskop: Keren, tapi Ironis. Sebelum Tampil di Layar Besar, Perbaiki Dulu Layar Kecil Mahasiswa biar Nggak Nge-lag!

12 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.