Universitas Terbuka adalah kesempatan kedua yang datang buat kalian yang mau berusaha, sebab mimpi begitu berharga untuk dibiarkan mati
Terkadang, kita bermimpi saat tidur. Anehnya, ketika bangun, kita lupa apa yang tadi kita mimpikan. Kalau pun ingat, mungkin hanya potongan kecil, atau rasanya saja. Entah itu takutnya, sedihnya, ataupun bahagianya. Bahkan, sekalipun mencoba tidur lagi agar bisa melanjutkan mimpi yang sama, belum tentu ia mau datang kembali.
Lain cerita ketika kita bermimpi dengan mata terbuka. Mimpi itu biasanya jauh lebih jelas: ingin kuliah, ingin jadi sarjana, ingin hidup sedikit lebih baik dari hari ini, dan seterusnya. Sayangnya, meskipun mimpinya jelas, tapi seringkali impian tersebut harus berhenti di tengah jalan. Bisa karena biaya, waktu, tanggung jawab, ataupun tuntutan hidup.
Namun, tidak seperti mimpi saat tidur yang susah untuk dibangun ulang, impian di dunia nyata selalu punya kesempatan kedua. Yaitu, kesempatan untuk diwujudkan. Seperti Universitas Terbuka (UT) yang menjadi kesempatan kedua bagi mereka yang penuh keterbatasan.
Pernah ada di titik Itu
Jujur saja, saya pernah berada di titik di mana kuliah terasa seperti hal yang tidak mungkin. Padahal sebelumnya, sama seperti orang pada umumnya, saya punya keinginan untuk kuliah. Ingin merasakan nge-kost, ingin ke kampus pakai baju bebas, ingin pakai toga, dsb. Tapi karena faktor ekonomi, perlahan mimpi itu terkubur. Saya mulai berdamai dengan keadaan sambil meyakinkan diri bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk kuliah. Bahwa bekerja dan bertahan hidup bagi orang seperti saya saja sudah termasuk anugerah.
Ternyata saya salah. Kesempatan kedua itu nyata adanya.
Berawal dari saya menemukan informasi tentang Universitas Terbuka, sebuah kampus negeri yang tidak menanyakan usia, tidak menghakimi latar belakang, serta tidak mempersoalkan mengapa seseorang baru ingin kuliah sekarang. Yang lebih penting, biayanya terjangkau dan waktunya fleksibel. Saat itu, rasanya seperti menemukan jalan setapak yang dulu tidak pernah saya lihat. Sungguh menggembirakan dan melegakan rasanya.
Universitas Terbuka bukan jalan pintas
Saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang merasa seperti menemukan kesempatan kedua bersama Universitas Terbuka. Tentu saja kesempatan untuk kembali berjuang, ya, karena UT bukanlah jalan pintas. Kalau jalan pintas, tentu tidak mungkin UT memiliki sistem yang jelas.
Nyatanya, UT telah memiliki sertifikat bertaraf nasional dan internasional. Bukan hanya itu saja, banyaknya penghargaan yang diraih oleh institusi ataupun mahasiswa UT juga semakin mengokohkan posisi UT sebagai kampus negeri yang bergengsi. Bukan kampus abal-abal yang mahasiswanya cukup daftar, bayar lalu tau-tau wisuda.
Memang, beberapa kali ada berita tentang kampus abal-abal yang mengeluarkan ijazah palsu untuk mahasiswanya. Tapi, Universitas Terbuka tidak begitu. Untuk bisa lulus dari UT, mahasiswa harus memenuhi sejumlah kriteria, seperti lulus semua mata kuliah yang dipersyaratkan (tanpa nilai E), lulus Tugas Akhir Program (TAP) dengan nilai minimal C, memenuhi IPK minimal, dsb.
BACA JUGA: Mahasiswa UT Lulus Bukan untuk Pamer, tapi untuk Bertahan Hidup
Kuliah bukan soal awal yang bagus
Dipikir-pikir, kebanyakan dari kita memang kerap terjebak pada obsesi tentang awal yang bagus. Termasuk, dalam hal kuliah. Bahwa, kuliah yang benar itu ya harus dimulai tepat setelah lulus SMA, di usia yang ideal, dan kalau bisa, di kampus yang namanya masuk peringkat 10 besar. Padahal, kalau kita mau berpikir dengan jernih, kuliah itu sejatinya bukan tentang seberapa mentereng titik berangkatnya, melainkan tentang akhir yang kita perjuangkan.
Sudah cukup banyak cerita euforia mahasiswa baru yang terdengar gagah di awal, tapi pelan-pelan redup di tengah jalan. Awalnya rajin masuk kelas, semangat ikut orientasi, bangga mengenakan almamater. Lalu keteteran ketika bertemu dengan realita tentang biaya yang tak terkejar, tuntutan keluarga, pekerjaan yang tak bisa ditinggal, dsb.
Bukankah masih jauh lebih baik jika kita kalah start dengan yang lain soal kuliah, tapi bisa bertahan hingga akhir cerita? Toh, tidak ada istilah terlambat untuk memulai kuliah. Jadi, ya, kenapa harus ragu? Kesempatan kedua akan selalu datang pada mereka yang percaya. Dan Universitas Terbuka, akan menyambutnya dengan tangan terbuka.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















